Tensi Perang Dagang Mencuat, Harga Minyak Mendingin

Mengutip Reuters, harga minyak berjangka Brent crude LCOc1 turun 12 sen ke level US$64,28 per barel. Sementara itu, minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) crude CLc1 melemah 4 sen ke level US$58,09 per barel.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 21 September 2019  |  14:50 WIB
Tensi Perang Dagang Mencuat, Harga Minyak Mendingin
Bendera Iran berkibar di lapangan minyak Soroush di Teluk Persia, Iran, Senin (25/7/2005), - Reuters/Raheb Homavandi

Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak kembali melemah pada Jumat (20/9/2019) seiring dengan kembalinya kekhawatiran terhadap perang dagang Amerika Serikat—China.

Namun, harga minyak berjangka masih mencatatkan kenaikan terbesar secara mingguan sejak awal tahun, yang tercermin oleh menguatnya harga minyak Brent, akibat serangan ke fasilitas minyak di Arab Saudi pekan lalu.

Mengutip Reuters, harga minyak berjangka Brent crude LCOc1 turun 12 sen ke level US$64,28 per barel. Sementara itu, minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) crude CLc1 melemah 4 sen ke level US$58,09 per barel.

Secara mingguan, harga minyak Brent telah. naik 6,7% atau kenaikan tertinggi sejak Januari. Sementara harga minyak WTI menguat 5,9%, tertinggi sejak Juni.

Turunnya harga minyak mentah pada akhir pekan ini mengikuti pergerakan harga saham yang melemah setelah pejabat pertanian China membatalkan kunjungannya ke pertanian AS di Montana dan Nebraska pekan depan.

Pembatalan itu dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump meminta China memberikan kesepakatan dagang yang sempurna, bukannya janji untuk membeli hasil pertanian AS saja.

Seorang sumber yang mengerti tentang aliran modal menyampaikan, produsen AS tengah berupaya mengunci keuntungan pada tahun ini setelah harga minyak melonjak pada awal pekan pascaserangan di Arab Saudi.

Bahkan, U.S. Commodity Futures Trading Commission (CFTC) menyampaikan bahwa manajer keuangan telah meningkatkan posisi beli di minyak berjangka AS sebanyak 11.209 kontrak menjadi 220.758 kontrak pada pekan yang berakhir pada 17 September 2019.

Harga minyak melonjak hampir 20% pada awal pekan ini sebagai respons terhadap serangan terhadap fasilitas produksi minyak di Arab Saudi. Serangan tersebut menurunkan pasokan minyak global sekitar 5%.

Namun, harga minyak kembali bergerak variatif setelah serangan itu karena Arab Saudi meyakinkan bahwa pasokan minyak yang hilang akan segera dipulihkan menjelang akhir bulan ini.

“Pertanyaannya, dapatkah mereka [Arab Saudi] meyakinkan pasar bahwa mereka dapat menjaga ladang minyaknya dengan aman,” kata analis Price Futures Group melalui catatan yang dikutip Reuters, Sabtu (21/9/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top