Dilema Minyak Mentah Arab Saudi Akibat Serangan ke Aramco

Tak dapat dipungkiri, serangan terhadap fasilitas kilang minyak milik Saudi Aramco pada Sabtu (14/9/2019), telah mendongkrak harga minyak dunia ke level tertingginya untuk hampir empat bulan terakhir.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 18 September 2019  |  08:08 WIB
Dilema Minyak Mentah Arab Saudi Akibat Serangan ke Aramco
Saudi Aramco - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Tak dapat dipungkiri, serangan terhadap fasilitas kilang minyak milik Saudi Aramco pada Sabtu (14/9/2019), telah mendongkrak harga minyak dunia ke level tertingginya untuk hampir empat bulan terakhir.

Kenaikan itu terjadi sebagai reaksi pasar atas risiko berkurangnya pasokan global. Setidaknya, serangan itu memangkas produksi minyak mentah Arab Saudi hingga 5,7 barel per hari (bph) atau sekitar 5 persen dari pasokan global dunia.

Tak hanya itu, serangan tersebut juga membatasi kemampuan Arab Saudi untuk menggunakan kapasitas produksi cadangan yang mampu memproduksi lebih dari dua juta bph untuk kondisi darurat.

Padahal, selama bertahun-tahun Arab Saudi merupakan satu-satunya negara produsen minyak dunia yang memiliki kapasitas cadangan yang dapat digunakan dengan cepat ketika terjadi kekurangan pasokan minyak global akibat perang maupun bencana alam.

Karena itulah, peran Arab Saudi sebagai produsen minyak sangat penting.

Badan Energi Internasional (IEA) mencatat pasokan minyak global dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) hanya 3,21 juta bph, sedangkan 2,27 juta di antaranya berasal dari Arab Saudi seperti dikutip Reuters, Rabu (18/9/2019).

Sisanya, sebanyak 940 ribu bph kapasitas cadangan sebagian besar dipegang oleh Kuwait dan Uni Emirat Arab. Kapasitas tersebut tentu tak cukup untuk menutup kapasitas cadangan Arab Saudi yang hilang akibat serangan tersebut.

Selama ini, OPEC dan sekutunya (OPEC+) memang tengah menjalankan kebijakan pemangkasan produksi sebesar 1,2 juta bph. Mengingat mayoritas porsi pemangkasan berasal dari Arab Saudi, maka pembatalan kebijakan tersebut tidak akan serta merta mengerek pasokan global di saat terjadi gangguan.

Sementara itu, kapasitas cadangan yang dimiliki negara non OPEC hanya sedikit. Sebagai contoh, Rusia hanya memiliki kemampuan untuk menambah produksi sekitar 100.000 hingga 150.000 bph.

Sebenarnya, Iran memiliki kapasitas produksi cadangan. Namun, pasar tidak bisa mengakses minyak Iran akibat sanksi yang dikenakan oleh AS. Sejak April lalu, ekspor minyak Iran merosot sekitar 2 juta bph.

Hingga kini, Gedung Putih belum memberikan sinyal bakal merelaksasi sanksi Iran usai serangan tersebut. Kondisi yang sama juga dialami oleh Venezuela yang saat ini menerima sanksi AS. Tanpa sanksi AS pun, produksi minyak Venezuela kian merosot sejak beberapa tahun terakhir.

Sebenarnya, tanpa serangan ke Arab Saudi, kapasitas cadangan produksi minyak global terus menurun.

Konsultan Energy Aspects memperkirakan kapasitas cadangan OPEC akan turun ke bawah 1 juta bph pada kuartal IV 2019 atau separuh dari kapasitas kuartal II 2019, 2 juta bph.

Tanpa kapasitas cadangan, gangguan pasokan pada masa depan bakal mengerek harga minyak. Sebagai respons, produsen bakal investasi dan produksi lebih banyak. Di saat yang sama, konsumen akan mengurangi konsumsinya.

Harapan untuk menutup kekurangan pasokan dari Arab Saudi pun beralih ke AS di mana produksi minyak shale terus menanjak. 

Produsen minyak kerak pasir itu dapat memompa minyaknya lebih banyak untuk menahan lonjakan harga. Pasalnya, peningkatan produksi minyak dilakukan dalam tempo bulanan, jauh lebih cepat dibandingkan produksi minyak konvensional. Sayangnya, kemampuan ekspor minyak AS terbatas mengingat pelabuhan minyak di Negeri Paman Sam sudah mendekati kapasitas optimalnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
saudi aramco, minyak mentah

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top