Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS Berencana Kembangkan Rudal Jarak Menengah, Rusia dan China Bereaksi

Rencana Amerika Serikat mengembangkan peluru kendali jarak menengah mendapat reaksi dari Rusia dan China.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  09:23 WIB
Ilustrasi-Prajurit AS berjalan dekat peluncur rudal pertahanan Patriot saat latihan di pangkalan miliiter di Sochaczew, dekat Warsawa (21/3/2015). - Reuters/Franciszek Mazur/Agencja Gazeta
Ilustrasi-Prajurit AS berjalan dekat peluncur rudal pertahanan Patriot saat latihan di pangkalan miliiter di Sochaczew, dekat Warsawa (21/3/2015). - Reuters/Franciszek Mazur/Agencja Gazeta

Bisnis.com, PBB  - Rencana Amerika Serikat mengembangkan peluru kendali jarak menengah mendapat reaksi dari Rusia dan China.

Dua negara itu meminta Dewan Keamanan PBB untuk bertemu pada Kamis terkait "pernyataan pejabat AS soal rencana mengembangkan dan mengerahkan rudal jangka menengah," menurut permohonan yang dilihat oleh Reuters.

Moskow dan Beijing ingin menggelar pertemuan dengan dewan beranggotakan 15 negara tersebut di bawah agenda "ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional". Kedua negara juga telah meminta agar kepala urusan gencatan senjata PBB, Izumi Nakamitsu, memberi pengarahan singkat kepada badan tersebut.

Pentagon pada Senin mengatakan pihaknya menguji coba rudal jelajah yang dikonfigurasi secara konvensional, yang menghantam targetnya setelah terbang lebih dari 500 km, uji coba pertama rudal jenis itu sejak AS mundur dari Pakta Nuklir Jarak Menengah (INF) era Perang Dingin dengan Rusia.

Uji coba tersebut akan dilarang berdasarkan pakta INF, yang melarang rudal berbasis darat dengan jangkauan antara 310 hingga 3.400 mil, mengurangi kemampuan AS dan Rusia meluncurkan serangan nuklir dalam waktu singkat.

Washington secara resmi mundur dari pakta bersejarah dengan Rusia pada 2 Agustus setelah memastikan bahwa Moskow melanggar pakta tersebut, tuduhan yang dibantah oleh Kremlin.

Presiden Rusia Vladimir Putin, Rabu, mengatakan AS kini dalam posisi akan mengerahkan rudal jelajah darat baru ke Rumania dan Polandia, skenario yang ia anggap sebagai ancaman dan harus direspons Moskow.

Sementara itu AS mengaku tidak berencana mengerahkan rudal darat baru ke Eropa.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, pada Selasa mengatakan bahwa uji coba tersebut memperlihatkan AS sedang memprovokasi konflik dan perlombaan senjata baru, yang akan menjadi dampak negatif dan serius bagi keamanan kawasan juga global.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rudal amerika serikat rusia china

Sumber : Antara

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top