Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Iran Segera Mulai Aktivitas di Reaktor Nuklir Arak

Hal itu disampaikan oleh Kepala Organisasi Energi Atom Iran kepada Parlemen pada pekan ini.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 28 Juli 2019  |  15:06 WIB
Petugas keamanan berdiri di depan pembangkit listrik tenaga nuklir di Bushehr, sekitar 1.200 kilometer (km) selatan Teheran, Iran, Sabtu (21/8/2010). - Reuters/Raheb Homavandi
Petugas keamanan berdiri di depan pembangkit listrik tenaga nuklir di Bushehr, sekitar 1.200 kilometer (km) selatan Teheran, Iran, Sabtu (21/8/2010). - Reuters/Raheb Homavandi

Bisnis.com, JAKARTA -- Iran akan segera memulai aktivitas di reaktor nuklir Arak, di tengah ketidakpastian kelanjutan kesepakatan nuklir damai antara negara itu dengan negara-negara adidaya.
 
Kepala Organisasi Energi Atom (Atomic Energy Organization/AEO) Iran Ali Akbar Salehi mengatakan pihaknya bakal memulai kembali aktivitas di reaktor nuklir air berat Arak. Air berat merupakan salah satu komponen yang digunakan di reaktor untuk memproduksi plutonium, bahan baku yang dipakai di rudal nuklir.
 
Hal itu disampaikan Salehi kepada Parlemen Iran, seperti dikutip Reuters dari kantor berita ISNA, Minggu (28/7/2019).
 
Pada awal Juli 2019, Presiden Iran Hasan Rouhani menyampaikan Teheran akan meningkatkan level pengayaan uraniumnya dan memulai kembali operasional Arak setelah 7 Juli 2019, jika negara-negara peserta perjanjian nuklir damai tidak membantu melindungi Iran dari berbagai sanksi AS.
 
Setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan keluar dari kesepakatan itu pada 2018, kelanjutan perjanjian tersebut tampak mengambang. Meski negara-negara Eropa, terutama Prancis dan Jerman, berupaya membujuk Iran untuk tetap berada dalam kesepakatan tersebut, tapi Iran menilai tawaran yang disampaikan tidak bisa melindungi mereka dari kebijakan AS.

Kesepakatan ini tercapai pada 2015, yang mana intinya adalah Iran sepakat menghentikan aktivitas nuklirnya untuk sementara waktu dengan ganti dicabutnya sanksi AS, terutama sanksi ekonomi. Namun, Trump menilai Iran tak sungguh-sungguh menurunkan pengayaan nuklirnya dan capaian yang telah dipenuhi Iran dipandang tidak mencukupi untuk melanjutkan perjanjian tersebut.

Selain AS, Prancis, dan Jerman, negara lain yang ikut serta dalam perjanjian ini adalah China, Rusia, Inggris, dan Uni Eropa (UE). 
 
Di luar Arak, ada tiga fasilitas nuklir lain yang telah dikembangkan oleh Iran yakni Bushehr, Darkhovin, dan Fordow. Posisi Iran di Timur Tengah pun makin menjadi perhatian setelah terjadi beberapa insiden penahanan dan penyitaan kapal tanker minyak di Selat Hormuz. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

iran nuklir

Sumber : Reuters

Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top