Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Korupsi Penyediaan Obat Aids dan PMS, Kejagung Periksa 4 Petinggi Kimia Farma

Kejaksaan Agung (Kejagung) memeriksa empat orang saksi yang merupakan pimpinan PT Kimia Farma terkait perkara dugaan tindak pidana korupsi pengadaan obat aids dan PMS Tahap I di Kementerian Kesehatan tahun anggaran 2016.
Sholahuddin Al Ayyubi
Sholahuddin Al Ayyubi - Bisnis.com 25 Juli 2019  |  08:25 WIB
Korupsi Penyediaan Obat Aids dan PMS, Kejagung Periksa 4 Petinggi Kimia Farma
Pabrik Kimia Farma di Pulogadung, Jakarta. - Kimia Farma
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kejaksaan Agung (Kejagung) memeriksa empat orang saksi yang merupakan pimpinan PT Kimia Farma terkait perkara dugaan tindak pidana korupsi pengadaan obat AIDS dan PMS Tahap I di Kementerian Kesehatan tahun anggaran 2016.
 
Keempat saksi tersebut adalah mantan Direktur Pemasaran PT Kimia Farma (Persero), Wahyuli Safari, Manager Pemasaran PT Kimia Farma Andi Prazos dan Eva Fairuz dan Kepala Unit Logistik Sentral PT Kimia Farma Gustampera.
 
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Mukri mengatakan keempatnya masih diperiksa sebagai saksi oleh tim penyidik Kejagung. Dia menjelaskan PT Kimia Farma Trading & Distribution merupakan salah satu penyedia barang yang memenangkan kontrak dengan nilai sebesar Rp211 miliar untuk pengadaan obat aids dan PMS yang kemudian hari terjadi penyimpangan dan berujung pada tindak pidana korupsi.
 
"Memang betul keempatnya masih diperiksa dalam kapasitas sebagai saksi oleh tim penyidik ya," tutur Mukri, Kamis (25/7).
 
Perkara dugaan tindak pidana korupsi itu, terjadi pada tahun 2016 pada Direktorat Tata Kelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Kementerian Kesehatan.
 
Dana yang bersumber dan APBN digunakan untuk melaksanakan kegiatan pengadaan obat, vaksin dan perbekalan kesehatan serta penyediaan obat untuk penyakit aids dan PMS tahap I.
 
Namun, seiring berjalannya waktu ditemukan ada dugaan penyimpangan penggunaan anggaran yang nilai kontraknya mencapai Rp211 miliar, karena ada dugaan PT Kimia Farma Trading & Distribution tidak berpedoman pada peraturan pengadaan barang dan jasa Pemerintah.
 
 
 
 
 
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kejagung hiv/aids kimia farma
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top