Bisnis.com, JAKARTA — Setelah puluhan tahun gagal, para ilmuwan optimistis bahwa generasi baru kandidat vaksin HIV akhirnya akan berhasil. Namun, harapan itu kini meredup karena AS mulai menarik pendanaan imbas kebijakan efisiensi Presiden Donald Trump.
Mengutip Bloomberg, penelitian vaksin itu harusnya bisa mengubah arah pandemi yang telah merenggut lebih dari 42 juta jiwa sejak 1981.
Dalam sebuah dokumen bocor yang merinci nasib lebih dari 6.200 program USAID mencantumkan dua upaya vaksin HIV terkemuka di antara 5.341 proyek yang dijadwalkan untuk disetop.
Berkas setebal 281 halaman, yang ditinjau oleh Bloomberg News dan pertama kali dilaporkan oleh The New York Times, menguraikan rencana pemerintahan Trump untuk memangkas hampir US$28 miliar dalam bentuk dukungan untuk berbagai inisiatif kesehatan global, termasuk Gavi, aliansi vaksin yang mengimunisasi ratusan juta anak terhadap penyakit mematikan seperti campak dan malaria.
“Kecepatan, skala, dan ketidakmanusiawian pendekatan pemerintahan ini dalam membongkar program kesehatan sungguh mengejutkan,” kata Mitchell Warren, Direktur Eksekutif AVAC, organisasi yang mengadvokasi penelitian pencegahan HIV, dikutip Rabu (2/4/2025).
Dia menilai gangguan yang disengaja terhadap pengembangan vaksin HIV sangatlah menyimpang, dan hal itu akan merusak kemajuan selama puluhan tahun.
Baca Juga
Program vaksin HIV terbesar yang akan dihentikan adalah upaya jangka panjang yang dipimpin oleh Inisiatif Vaksin AIDS Internasional, IAVI, yang telah dijanjikan lebih dari US$319 juta dalam bentuk dukungan AS sejak 2016.
Meskipun hampir US$238 juta telah dicairkan, IAVI mengatakan bahwa mereka mengharapkan tambahan US$22 juta hingga pertengahan 2026. Namun, perintah penghentian kerja bulan lalu memaksa organisasi tersebut untuk menghentikan operasi dan memberhentikan staf.
Korban utama lainnya adalah hibah sebesar US$45 juta untuk Dewan Riset Medis Afrika Selatan, yang dimaksudkan untuk mendanai uji coba vaksin HIV di berbagai negara. Hanya sekitar US$9 juta dari dana tersebut yang pada akhirnya akan diterima.
“Kami pikir akan menjadi tragedi jika tidak melanjutkan pekerjaan tersebut,” kata Glenda Gray, kepala staf ilmiah dewan tersebut.
Para peneliti telah mengusulkan untuk mengurangi skala penelitian tersebut agar hanya mencakup Afrika Selatan, tapi tidak termasuk Kenya dan Uganda, dengan harapan membuatnya “lebih menarik bagi para penyandang dana".
Dengan dukungan USAID yang mulai berkurang, para ilmuwan kini bergegas untuk mendapatkan pendanaan alternatif, berharap Institut Kesehatan Nasional AS akan turun tangan untuk memprioritaskan pekerjaan tersebut.
Namun, sampai kini belum jelas apakah NIH (National Institutes of Health), bagian dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, akan terhindar dari kebijakan efisiensi.
Badai PHK
Menteri Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) Robert F. Kennedy Jr. mengumumkan rencana pada Kamis (27/3/2025) untuk memangkas 10.000 pekerjaan dan menyusutkan anggaran lembaga tersebut sebesar US$1,8 miliar, sebagai bagian dari dorongan pemerintahan Trump untuk secara drastis mengurangi tenaga kerja federal dan menyelaraskan kembali pemerintah dengan apa yang disebutnya sebagai 'prioritas inti', termasuk 'membalikkan epidemi penyakit kronis'.
"Program-program ini tidak memiliki tombol on/off. Ilmu pengetahuan, infrastruktur, dan hubungan masyarakat yang dibangun selama dua dekade terakhir bisa terhapus hanya dalam beberapa minggu," kata Warren dari AVAC.
Para peneliti memperkirakan bahwa ratusan juta dolar masih diperlukan untuk membawa vaksin HIV yang efektif ke garis akhir, jumlah yang tidak mungkin berasal dari satu donor saja.
"Kami benar-benar membutuhkan vaksin HIV jika kami ingin mengakhiri epidemi ini," kata Mark Feinberg, Presiden dan Kepala Eksekutif IAVI.
Menanggapi gelombang pemotongan dana, kelompok aktivis ACT UP melakukan aksi unjuk rasa di New York City pada Sabtu. Para aktivis memprotes pembekuan layanan kesehatan yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump, Kennedy, dan Elon Musk.
Demonstrasi tersebut bertujuan untuk menyoroti miliaran dolar dalam pendanaan yang dihentikan untuk pengobatan yang menyelamatkan nyawa dan program kesehatan global.