Cerita Tito Tentang Konflik Poso dan Pemboman Gedung Milik Kalla

Dalam konflik Poso dan Ambon dirinya masih menjabat Kepala Satuan Tugas (Kasatgas). Kala itu, sikap Jusuf Kalla menjadi penengah konflik telah membuat para penolak perdamaian menyerang gedung milik Kalla di Makassar.
Anggara Pernando
Anggara Pernando - Bisnis.com 15 Juli 2019  |  13:23 WIB
Cerita Tito Tentang Konflik Poso dan Pemboman Gedung Milik Kalla
Wakil Presiden Jusuf Kalla (ketiga kiri) berjabat tangan dengan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (keempat kanan) disaksikan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kiri) saat menghadiri acara pembekalan calon perwira remaja (capaja) TNI-Polri di Mabes TNI, Jakarta, Senin (15/7/2019). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA  - Di hadapan calon perwira remaja TNI dan Polri, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Tito Karnavian memuji peran Jusuf Kalla sebagai sosok yang komplit.

Tito menuturkan Jusuf Kalla merupakan pengusaha, ekonom, politisi dan birokrat yang mencatatkan namanya dalam sejarah karena mampu memenangkan pemilihan Wakil Presiden dua kali dengan Presiden yang berbeda.

"Dalam sejarah bangsa Indonesia beliau [Jusuf Kalla] adalah sosok yang pertama kali pernah menjadi Wakil Presiden Indonesia dua kali," kata Jusuf Kalla di Mabes TNI Cilangkap, Senin (15/7/2019).

Tito menyampaikan peran Jusuf Kalla juga sangat kuat dalam proses perdamaian yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Peran ini meliputi keberanian Jusuf Kalla mengambil bagian dalam perdamaian Aceh, Poso dan Ambon.

"Indonesia pernah mengalami pelajaran pahit ribuan anak bangsa meninggal gugur dalam konflik di Aceh, kemudian konflik di Ambon, konflik di Poso. Setelah bertahun-tahun dengan upaya kekerasan dilakukan tapi akhirnya bisa selesai dengan cara-cara damai. Salah satu tokoh yang berada di balik perdamaian itu adalah beliau," kata Tito.

Tito menyatakan, dalam konflik Poso dan Ambon dirinya masih menjabat Kepala Satuan Tugas (Kasatgas). Kala itu, sikap Jusuf Kalla menjadi penengah konflik telah membuat para penolak perdamaian menyerang gedung milik Kalla di Makassar.

"Kita juga [punya] pengalaman pahit di Ambon dan Poso. Bertahun-tahun banyak korban tapi kemudian beliau mengumpulkan kedua belah pihak yang berkonflik sehingga kemudian dilaksanakan perjanjian Malino satu dan Malino dua di Sulawesi Selatan sehingga konflik di daerah Ambon dan Poso semua berakhir dengan baik. Meskipun begitu beliau juga mengalami risiko [dimana] dua gedung beliau [JK] di kota Makassar itu diledakkan," katanya.

Tito juga mengingatkan ketegasaan pernyataan JK dalam bersikap. Dalam salah satu kesempatan JK menegaskan di Indonesia hanya TNI dan Polri yang diizinkan memiliki senjata. 

Kapolri hadir bersama Panglima TNI dalam acara pembekalan calon perwira remaja (capaja) TNI-Polri. Pembekalan tersebut diikuti oleh 781 calon perwira remaja, yang terdiri atas 259 capraja TNI AD, 117 capraja TNI AL, 99 capraja TNI AU dan 306 capraja Polri.

Sebanyak 781 capraja tersebut telah mengikuti pendidikan akademi selama empat tahun di Akademi TNI dan Akademi Polisi, serta menjalani pendidikan integrasi selama tiga bulan di Resimen Candradimuka Akademi TNI.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jusuf kalla, Tito Karnavian

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top