Dramaturgi Aksi 22 Mei : Tampak Depan Skenario Politik, Tampak Belakang Ada Rencana Pembunuhan

Aksi 22 Mei ditelisik dari teori dramaturgi menyajikan dua hal yang berbeda. Tampak depan, aksi itu merupakan sebuah gerakan dengan skenario politik. Namun, di tampak belakang muncul rencana pembunuhan terhadap sejumlah pejabat.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 29 Mei 2019  |  13:05 WIB
Dramaturgi Aksi 22 Mei : Tampak Depan Skenario Politik, Tampak Belakang Ada Rencana Pembunuhan
Tersangka pelaku kericuhan pada Aksi 22 Mei ditunjukkan polisi saat gelar perkara di Polres Metro Jakarta Barat, Kamis (23/5/2019). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, KUPANG - Aksi 22 Mei bisa dilihat dari dua aspek, jika dikaji dengan menggunakan teori dramaturgi, yakni aspek yang muncul di depan atau tampak depan dan aspek yang muncul di belakang atau tampak belakang. 

Aksi 22 Mei secara tampak depan merupakan skenario politik, namun pada tampak belakang ada upaya terselubung untuk melakukan rencana pembunuhan terhadap sejumlah pejabat negara.

Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang Ahmad Atang menilai wacana people power dengan upaya pembunuhan terhadap empat pejabat negara pada aksi 22 Mei adalah dua hal yang berbeda.

"Menurut saya, ini dua hal yang berbeda antara wacana people power dengan upaya pembunuhan pejabat negara, sehingga Polri sebaiknya fokus memeriksa saksi dan tersangka yang sudah diamankan," kata Ahmad Atang kepada Antara di Kupang, Rabu (29/5/2019).

Ahmad Atang mengemukakan pandangan itu berkaitan dengan terungkapnya rencana pembunuhan terhadap empat pejabat negara pada aksi 22 Mei, dan perlu tidaknya Polri memanggil Amien Rais sebagai pencetus 'Poeple Power'.

Menurut Ahmad Atang, skenario aksi 22 Mei dipicu oleh wacana people power dengan mengusung isu kecurangan Pemilu 2019 yang menyebabkan paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kalah.

Dalam aksi 22 Mei, jelas Ahmad Atang, tampak depan merupakan skenario politik, namun tampak belakang ada upaya terselubung untuk melakukan rencana pembunuhan terhadap sejumlah pejabat negara.

"Tetapi kita belum tahu apa motif di balik rencana pembunuhan pejabat negara itu, dan kenapa empat pejabat negara tersebut yang menjadi target pembunuhan serta atas peran apa dalam Pemilu 2019," kata Ahmad Atang.

Ahmad Atang menyebutkan Polri harus mengungkap aktor intelektual di balik rencana pembunuhan tersebut agar semua jadi terang. Jika tidak maka akan terjadi adanya prasangka antaranak bangsa.

Menurut dia, pemanggilan terhadap Amien Rais terkait wacana people power yang digagasnya tidak terlalu penting, karena boleh jadi ada penumpang gelap yang memanfaatkan situasi itu.

"Jadi menurut saya, ini dua hal yang berbeda antara wacana people power dengan upaya pembunuhan pejabat negara. Karena itu, aparat kepolisian menurut saya fokus saja ke pemeriksaan saksi dan tersangka jika ditemukan petunjuk siapa aktor intelektual akan lebih mudah dan beralasan bagi Kepolisian untuk menindak," kata Ahmad Atang.

Ahmad Atang mengatakan, dalam suasana eskalasi politik yang dinamis ini, pemanggilan tokoh hanya didasarkan dugaan, justru akan menyulitkan aparat Kepolisian.

Tetapi seandainya bukti sudah mengarah ke sana, apa pun tindakan polisi tetap mendapatkan apresiasi publik, kata pengajar ilmu komunikasi politik pada sejumlah perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT) itu. 

Untuk diketahui, teori dramaturgi menganalisis interaksi sosial sebagai suatu pertunjukan teatrikal. Kehidupan normal dibandingkan dengan suatu penampilan di depan panggung (front stage) tempat manusia masing-masing memainkan peran dalam kehidupan dan saat ia berada di belakang panggung (back stage).

Dalam berinteraksi secara sengaja kita akan menampilkan diri sebagaimana yang diinginkan. Setelah berinteraksi, orang akan melepaskan semua aksesori saat dia tampil dan kembali menjadi dirinya sendiri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Aksi 22 Mei

Sumber : Antara

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top