Polisi Ungkap Massa Anarkis Mengaku Terima Bayaran Hampir Rp6 Juta

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menduga massa anarkis yang telah diamankan jajaran Polda Metro Jaya merupakan 'preman bayaran' yang sengaja membuat kerusuhan.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 22 Mei 2019  |  19:45 WIB
Polisi Ungkap Massa Anarkis Mengaku Terima Bayaran Hampir Rp6 Juta
Aksi di depan gedung Bawaslu ricuh, Rabu (22/5/2019)/JIBI - Bisnis/Lalu Rahadian

Bisnis.com, JAKARTA — Kapolri Jenderal Tito Karnavian menduga massa anarkis yang telah diamankan jajaran Polda Metro Jaya merupakan 'preman bayaran' yang sengaja membuat kerusuhan.

Hal ini diungkapnya dalam konferensi pers bersama Menkopolhukam Wiranto, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Menkumham Yasonna Laoly, Memkominfo Rudiantara, Mendagri Tjahjo Kumolo, Kepala BIN Budi Gunawan, dan Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko di kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Rabu (22/5/2019).

"Yang diamankan ini kita lihat, termasuk yang di depan Bawaslu, ditemukan di mereka amplop berisikan uang totalnya hampir Rp6 juta, di amplop terpisah," ungkap Tito.

"Sebagian mengaku ada yang membayar, ini ditemukan juga, mohon maaf, pelaku yang melakukan aksi anarkis ini memiliki tato," tambahnya.

Sebelumnya Tito menjelaskan bahwa masa provokator yang ditangkap ini merupakan sekelompok anak muda sekitar 304 orang yang melakukan penyerangan pada aparat kepolisian di Bawaslu, Selasa (21/5/2019) pukul 23.00 WIB.

Ditambah massa anarkis di Asrama Brimob Polri di bilangan Petamburan pada Rabu (22/5/2019) dini hari, yang membakar total 14 mobil dinas polisi maupun mobil warga yang terparkir.

Sementara kabar terakhir terkait penangkapan para provokator, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono menyatakan pihaknya telah mengamankan sekitar 101 orang.

Selain itu, Argo mengimbau kepada masyarakat agar tidak menyebarkan video dan informasi yang bermuatan provokasi terkait kerusuhan. Sebab, video dan konten tersebut sengaja disebar oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk menciptakan ketakutan pada masyarakat.

"Memang telah beredar video aksi kekerasan atau video yang menampilkan korban luka-luka akibat kerusuhan tersebut. Itu bertujuan untuk menimbulkan rasa takut," ujar Argo.

"Jangan sebar video atau konten-konten provokasi. Jika mendapatkan informasi seperti itu, silahkan dihapus saja dan jangan disebar," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
polri, bawaslu, Aksi 22 Mei

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup