LAPORAN DARI ITALIA: Parlemen Italia dan Indonesia Sepakat Perkokoh Kerja Sama

Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) bertemu dengan Parlemen Italia untuk memperkuat kerja sama antarparlemen.
Siti Munawaroh | 15 Mei 2019 09:06 WIB
Delegasi Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR bertemu dengan Parlemen Italia di Gedung Palazzo Montecitorio, Selasa (14/05/2019) sore di Roma Italia. Parlemen dari kedua negara sepakat untuk memperkokoh kerja sama guna meningkatkan hubungan Indonesia-Italia. JIBI/Bisnis - Siti Munawaroh

Bisnis.com, ROMA -  Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) bertemu dengan Parlemen Italia untuk memperkuat kerja sama antarparlemen.

Pertemuan itu dilakukan di Gedung Parlemen Italia (Palazzo Montecitorio), Selasa (14/05/2019) sore, dalam rangkaian lawatan BKSAP DPR-RI ke Roma Italia.

Dalam pertemuan tersebut hadir Ketua Delegasi sekaligus Wakil Ketua BKSAP Juliari Batubara, Ketua BKSAP Nurhayati Ali Assegaf, Wakil Ketua BKSAP Dave Akbarshah Fikarno.

Duta Besar RI untuk Italia, Esti Andayani, turut mendampingi pertemuan delegasi BKSAP dengan Parlemen Italia. 

Adapun dari Parlemen Italia disambut oleh Ketua Komisi III (Urusan Hubungan Luar Negeri dan Komunitas) Marta Grande dan Presiden Parliamentary Friendship Group Italy-Indonesia Daniele del Grosso.

Kedua parlemen sepakat untuk memperkokoh kerja sama antarparlemen. Peringatan 70 tahun hubungan Indonesia dan Italia pada 2019 ini menjadi momentum penguatan hubungan bilateral kedua negara.

Juliari mengungkapkan pertemuan ini didasari semangat untuk mempererat hubungan kedua negara, mengingat Italia memiliki sejumlah keunggulan komparatif.

"Ingin menggali pengalaman di bidang - bidang yang menjadi keunggulan komparatif Italia, termasuk di sektor pariwisata, lingkungan hingga pendidikan," ujar Juliari yang juga menjabat Ketua Panja Kerja Sama Ekonomi Regional (KER).

Pada kesempatan tersebut, Martha Grande menyambut baik kehadiran Delegasi BKSAP ke Parlemen Italia dan siap mempererat hubungan parlemen kedua negara baik dalam forum bilateral maupun antarparlemen.

Martha berharap hubungan Italia-Indonesia semakin erat, ditandai komitmen erat Italia untuk membentuk grup persahabatan antarparlemen.

"Karena parlemen baru maka akan dibentuk grup persahabatan untuk Indonesia," tukasnya.

Sementara itu, Danielle del Grosso menegaskan kesiapannya untuk membentuk kelompok persahabatan antarparlemen Italia-Indonesia.

Untuk diketahui Parlemen Italia saat ini adalah hasil pemilu 2018, sehingga kelompok persahabatan antarparlemen perlu diperbarui.

Danielle mengungkapkan telah ada minat dari 10-15 anggota parlemen untuk bergabung.

Dalam pertemuan itu, kedua parlemen juga berbagi pandangan terkait isu SDGs dan perubahan iklim.

Nurhayati menyampaikan bahwa Indonesia pendukung SDGs dan DPR RI telah dua kali menginisiasi World Parliamentary Forum on Sustainable Development (WPSD).

Nurhayati mengundang Parlemen Italia untuk berpartisipasi pada WPSD 2019.

"Mereka antusias dan semangat sekali untuk mempererat hubungan kerja sama Italia Indonesia. Mereka juga tertarik untuk berkunjung ke Indonesia menghadiri WPSD. Jadi misi ini sukses, karena gayung bersambut," jelas Nurhayati.

Nilai perdagangan Indonesia dengan Italia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sejak 2016. Pada 2018, total perdagangan mencapai US$ 3,7 miliar dengan surplus bagi Indonesia sebesar US$ 80,7 juta.

Sejumlah komoditas utama ekspor Indonesia ke Italia di antaranya batubara, minyak kelapa sawit, kopi, garmen, sepatu kulit, dan sebagainya.

Terkait kelapa sawit, Dave Akbarshah menguraikan bahwa selama ini kontribusi kelapa sawit terhadap perdagangan Indonesia Italia cukup positif.

Namun, lanjut Dave, kelapa sawit Indonesia mendapatkan tantangan berupa kampanye negatif dan kebijakan diskriminatif regulasi penerapan perintah energi terbarukan Uni Eropa (RED II).

"Padahal perkembangan kelapa sawit di Indonesia semakin menunjukkan progres positif dalam hal-hal sustainability seperti ISPO hingga luasan lahan yg ditanami kembali," tegasnya.

Italia adalah konsumen CPO terbesar ketiga di Indonesia, setelah Belanda dan Spanyol, setidaknya hingga 2017-2018. Hingga April 2018, Italia membukukan impor CPO dari Indonesia sebesar US$ 215,4 juta.

"Kami menjelaskan bahwa isu yang dilontarkan Uni Eropa itu tidak benar. Bagaimana mungkin kita ini merusak lingkungan. Padahal Indonesia sangat berkomitmen mengembangkan mekanisme produksi dan produk CPO yang berkelanjutan," tutup Nurhayati.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dpr, italia, parlemen

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup