Biaya Pemindahan Ibu Kota Diperkirakan Capai Rp323 Triliun-Rp466 Triliun

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro menyatakan terdapat dua skenario untuk pemindahan Ibu Kota tersebut. Skenario pertama dibutuhkan lahan seluas 40.000 hektare dan skenario kedua 30.000 hektare.
Yodie Hardiyan
Yodie Hardiyan - Bisnis.com 29 April 2019  |  18:38 WIB
Biaya Pemindahan Ibu Kota Diperkirakan Capai Rp323 Triliun-Rp466 Triliun
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kiri) memimpin rapat terbatas membahas tindak lanjut rencana pemindahan ibu kota, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (29/4/2019). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA-- Pemerintah memperkirakan biaya pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke luar Jakarta mencapai Rp323 triliun-Rp466 triliun (US$22 miliar-US$33 miliar).

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro menyatakan terdapat dua skenario untuk pemindahan Ibu Kota tersebut. Skenario pertama dibutuhkan lahan seluas 40.000 hektare dan skenario kedua 30.000 hektare.

"Dimana porsi pemerintah, misalkan, skenario satu itu Rp250an lebih triliun dan swasta hampir sama yaitu sekitar Rp 215 triliun. Demikian juga untuk skenario dua pemerintah sedikit lebih besar dari pada swasta," kata Bambang dalam rapat terbatas membahas pemindahan Ibu Kota di Kantor Presiden, Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (29/4/2019).

Bambang menyebutkan salah satu contoh biaya pemindahan Ibu Kota di Korea Selatan dari Seoul ke Sejong sebesar US$22 miliar. Menurutnya, beberapa kantor kementerian telah berada di Sejong kendati sebagian masih berada di Seoul. Selain itu, Bambang juga menyebut sejumlah contoh pemindahan ibukota di Malaysia dan Brazil.

"Putra Jaya (Malaysia) memang lebih kecil karena dia sifatnya hanya pusat pemerintahan saja bukan kota yang mandiri sedangkan Brasilia karena dibangun sudah lama sekali tahun 1955, biayanya kelihatan besar waktu itu yaitu US$8,1 miliar untuk biaya konstruksi kotanya. Awalnya direncanakan 500.000 penduduknya, sekarang sudah 2,5 juta orang," kata Bambang.

Bambang mengakui rencana pemindahan Ibu Kota ini membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Menurutnya, sumber pembiayaan rencana pemindahan tersebut dapat berasal dari 4 sumber yaitu APBN, BUMN, swasta dan kerjasama pemerintah dan badan usaha (KPBU).

"Dari APBN sendiri khususnya untuk initial infrastruktur (infrastruktur dasar) dan juga fasilitas kantor pemerintahan dan parlemen. Kemudian dari BUMN untuk infrastruktur utama dan fasilitas sosial. Kemudian KPBU, untuk beberapa infrastruktur utama dan fasilitas sosial. Dan swasta murni khususnya terkait dengan properti perumahan dan fasilitas komersial," kata Bambang.

Pusat Bisnis

Bambang mengatakan satu hal yang dituju dari pembentukan Ibu Kota baru adalah pemisahan pusat bisnis dan pusat pemerintahan. Jakarta, menurutnya, tetap akan menjadi pusat bisnis. Pusat pemerintahan yang selama ini terpusat di Jakarta akan dipindahkan.

Seperti diketahui, wacana pemindahan Ibu Kota ini telah dibahas sejak zaman Presiden Soekarno. Namun, menurut Jokowi, isu ini timbul tenggelam karena tidak pernah diputuskan dengan matang.

"Memindahkan Ibu Kota memerlukan persiapan yang matang, persiapan yang detail, baik dari sisi pilihan lokasi yang tepat, termasuk dengan memperhatikan aspek geopolitik, geostrategis, kesiapan infrastruktur pendukungnya dan juga soal pembiayaannya," kata Jokowi.

Seperti diketahui, pemerintah pusat kembali membahas rencana pemindahan Ibu Kota Indonesia di Kantor Presiden, Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (29/4/2019).

Rapat yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo dan diikuti oleh sejumlah menteri Kabinet Kerja itu mengkaji sejumlah opsi pemindahan Ibu Kota Indonesia yang sekarang berada di Jakarta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, Ibu Kota Dipindah

Editor : Rahayuningsih

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top