Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penculikan Aktivis 1998 : Sudah 21 Tahun Keluarga Menanti Kejelasan

Hingga kini keluarga tak juga mendapat kejelasan, baik mengenai keberadaan anak dan saudara mereka yang hilang maupun pengusutan kasus yang terjadi di era Orde Baru itu.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 13 Maret 2019  |  23:41 WIB
Kerusuhan saat krisis moneter di Jakarta, Mei 1998. Bisnis - Firman Wibowo
Kerusuhan saat krisis moneter di Jakarta, Mei 1998. Bisnis - Firman Wibowo

Bisnis.com, JAKARTA--Sudah 21 tahun keluarga korban penculikan aktivis pro demokrasi 1997-1998 menanti.

Namun hingga kini mereka tak juga mendapat kejelasan, baik mengenai keberadaan anak dan saudara mereka yang hilang maupun pengusutan kasus yang terjadi di era Orde Baru itu.

Komnas HAM mencatat pada periode medio 1997 hingga medio 1998 setidaknya sebanyak 23 aktivis pro demokrasi menjadi korban penculikan dan penghilangan paksa.

Sembilan aktivis kemudian dilepaskan setelah mengalami penyiksaan, satu orang ditemukan tewas dengan luka tembak, dan 13 sisanya masih hilang serta tidak diketahui nasibnya.

Budiarti, ibunda Leonardus Nugroho Iskandar atau Gilang, korban penculikan yang ditemukan tewas, tak kuasa menahan tangis ketika mengingat peristiwa yang menimpa anaknya tersebut.

Dia menceritakan bagaimana Gilang telah diculik, dibunuh, dan jasadnya dibuang di tengah hutan.

"Ditemukan dengan luka tembak. Gilang ditemukan dalam posisi terlentang dan tangan ditali di bawah pohon terus sobekan di dada. Lalu ulu hatinya yang di dalam itu dikeluarkan," ujar Budiarti dengan suara tercekat menahan tangis.

Kala itu, Budiarti langsung syok mendengar kondisi anaknya tersebut. Ia tak menyangka dan tak habis pikir peristiwa naas itu bisa menimpa putranya.

Padahal menurutnya, Gilang hanyalah seorang pengamen dan tidak pernah berbuat kriminalitas.

Peristiwa penculikan 1997-1998 itu juga memberikan luka bagi Ma'rufah, ibunda Faisol Reza, salah satu korban penculikan yang dilepaskan.

Faisol Reza diketahui diculik di Jakarta pada 12 Maret 1998. Ma'rufah yang tinggal di Purbolinggo, Jawa Timur, mengetahui perihal tersebut dari koran sore yang dibacanya.

"Di situ tercantum Faisol Reza ditangkap, diculik di Rumah Sakit Fatmawati. Saya kaget. Lalu malamnya ditelpon LBH, diminta datang ke Jakarta," kenang Ma'rufah.

Dengan keterbatasan uang pun dia mengaku bolak balik ke Jakarta untuk mencari keberadaan anaknya. Hingga akhirnya suatu hari, Faisol Reza menghubunginya dan mengabarkan dia telah dilepaskan dan akan segera pulang.

Ma'rufah mengungkapkan setelah dilepaskan, anaknya itu sama sekali tak mau menceritakan kondisinya ketika diculik. Ia mengetahuinya dari cerita adik-adik Faisol.

Dari situ ia tahu bahwa anaknya telah mengalami hal yang mengerikan. Faisol, katanya, disiksa dengan sundutan rokok.

"Yang paling berat katanya ditidurkan dibalok es dalam keadaan telanjang. Lalu digantung pakai tali dengan kepala di bawah entah berapa menit saya enggak tahu. Dia nggak pernah cerita," ujarnya.

Dia amat bersyukur anaknya itu bisa selamat. Menyadari kondisi anaknya yang lebih beruntung daripada para aktivis yang hilang, dia pun berkomitmen untuk sebisa mungkin berjuang bersama keluarga korban yang masih menantikan pengusutan tuntas kasus ini.

Keluarga korban yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) pun menuntut pemerintah untuk segera mengusut tuntas kasus ini.

Salah satunya dengan menjalankan 4 rekomendasi DPR RI soal kasus ini yang dikeluarkan pada 2009.

Rekomendasi tersebut, antara lain: pertama, merekomendasikan Presiden RI membentuk pengadilan HAM ad hoc. Kedua, merekomendasikan Presiden RI serta institusi pemerintah dan pihak terkait untuk mencari 13 aktivis yang masih hilang.

Ketiga, merekomendasikan pemerintah merehabilitasi dan memberikan kompensasi kepada keluarga korban yang hilang.

Keempat, merekomendasikan pemerintah meratifikasi konvensi Anti Penghilangan Paksa sebagai bentuk komitmen dan dukungan untuk menghentikan praktik penghilangan paksa di Indonesia.

Ketua Dewan Penasehat IKOHI Mugiyanto menyadari bahwa empat rekomendasi itu tidak bisa dijalankan bersamaan secara cepat. Namun bagi keluarga korban yang terpenting adalah mereka mengetahui secara pasti kondisi dan keberadaan keluarganya yang hilang dan diculik. 

"Itu yang kami tunggu sebenernya untuk dilakukan pemerintah. Keluarga berharap pemerintah mencari mereka. Apakah masih hidup atau sudah meninggal, kalau meninggal dikubur di mana. Itu yang paling mendesak," kata Mugiyanto yang juga merupakan aktivis korban penculikan yang selamat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

penculikan reformasi 1988
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top