Dituding Dalang Kerusuhan 1998, Wiranto Tantang Prabowo dan Kivlan Sumpah Pocong

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menantang calon presiden nomor 02, Prabowo Subianto, dan mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, Mayor Jenderal Purnawirawan Kivlan Zen untuk sumpah pocong mengenai tuduhan dirinya dalang peristiwa kerusuhan 1998.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  14:13 WIB
Dituding Dalang Kerusuhan 1998, Wiranto Tantang Prabowo dan Kivlan Sumpah Pocong
Menkopolhukam Wiranto berjalan, seusai rapat terbatas tentang rencana pembentukan Detasemen Khusus tindak pidana korupsi (Densus Tipikor) di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (24/10). - ANTARA/Rosa Panggabean

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menantang calon presiden nomor 02, Prabowo Subianto, dan mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, Mayor Jenderal Purnawirawan Kivlan Zen untuk sumpah pocong mengenai tuduhan dirinya dalang peristiwa kerusuhan 1998.

SIMAK: Benarkah Dana Pam Swakarsa Kerusuhan 1998 dari Wiranto?

"Saya berani ya, katakanlah berani untuk sumpah pocong saja 1998 itu yang menjadi bagian dari kerusuhan itu. Saya, Prabowo, dan Kivlan Zein. Sumpah pocong kita, siapa sebenarnya dalang kerusuhan itu," kata Wiranto dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (27/2/2019).

Kivlan menuduh Wiranto sebagai dalang kerusuhan 1998 dalam acara 'Para Tokoh Bicara 98' di Gedung Ad Premier, Jakarta Selatan, pada Senin, 25 Februari 2019. Selain menuding dalang kerusuhan, Kivlan juga menyebut Wiranto memainkan peranan ganda dan isu propagandis saat masih menjabat sebagai Panglima ABRI.

Wiranto menantang Prabowo dan Kivlan melakukan sumpah pocong agar menjadi jelas duduk perkaranya. Ia tidak ingin ada lagi yang menuduhnya dalang kerusuhan Mei 1998.

"Ini supaya jelas. Dulu saya diam saja, sekarang tidak. Saya buka-bukaan saja," kata Wiranto.

Saat kejadian pada 1998, Wiranto menuturkan bahwa ia justru melakukan berbagai langkah persuasif, edukatif, kompromis, dan dialogis dengan para aktivis reformasi agar tidak muncul kekacauan dan kerusuhan yang dapat merugikan bangsa Indonesia.

Wiranto menjelaskan saat kerusuhan pada 13 Mei 1998 terjadi penembakan di Trisakti dan kerusuhan. Esok harinya adalah puncak kerusuhan. Pada 14 Mei 1998 malam, Wiranto mengaku mengerahkan pasukan dari Jawa Timur ke Jakarta.

Esok paginya, kata dia, Jakarta sudah aman.

"Peluang untuk saya kudeta tidak saya lakukan karena saya mencintai negeri ini, saya mencintai teman-teman reformis yang ingin mengubah negeri ini."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
prabowo subianto, wiranto

Sumber : Tempo.Co

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup