Kemenangan Rashida Tlaib Beri Secercah Harapan Bagi Warga Palestina

Rashida Tlaib menjadi perempuan keturunan Palestina yang menduduki posisi Kongres AS. Kemenangannya dinilai sebagai harapan untuk hubungan AS-Palestina di masa depan.
Iim Fathimah Timorria | 07 November 2018 21:23 WIB
Bendera Palestina - aljazeera.net

Bisnis.com, JAKARTA - Hari masih pagi ketika berita kemenangan Rashida Tlaib, perempuan keturunan Palestina pertama yang menjadi anggota Kongres AS, sampai di telinga keluarga besarnya yang bermukim di Tepi Barat, wilayah okupasi Israel.

"Ia menjadi kebanggaan bagi Palestina, dunia Arab, dan seluruh umat muslim," kata Bassam Tlaib, paman Rashida, di desa kecil bernama Beit Ur Al-Fauqa pada Rabu (7/11/2018).

Tlaib, seorang Demokrat, melaju tanpa saingan berarti di daerah pemilihan ke-13 Michigan yang meliputi barat daya Detroit dan pinggiran barat Dearborn. Sebelum menjajal pencalonan anggota Kongres, ia telah mengenyam pengalaman sebagai anggota legislatif negara bagian Michigan.

Bersama calon Partai Demokrat lain, Ilhan Omar dari Minnesota, ia menjadi perempuan muslim pertama dalam sejarah AS yang menjabat anggota Kongres.

"Saya akan berbicara kebenaran untuk berkuasa," kata Tlaib kepada Detroit Free Press pada malam pemilihan pada hari Selasa (6/11/2018).

"Saya jelas memiliki agenda yang bukan prioritas presiden saat ini, tapi hal itu tidak akan menghalangi saya untuk mendorongnya [agenda itu]," lanjutnya.

Daerah pemilihan Tlaib merupakan rumah bagi populasi Arab-Amerika terbesar di AS. Kemenangan Tlaib menjadi sorotan di tengah gerakan kandidat diaspora Palestina dan aktivis yang menggandeng sayap progresif Partai Demokrat pada masa tersulit hubungan AS-Palestina di bawah administrasi Trump.

Di daerah pemilihan ke-50 negara bagian California, Ammar Campa Najjar, keturunan Palestina-Amerika lain harus menghadapi persaingan ketat dengan calon Republik Duncan Hunter.

Omar Baddar, deputi direktur Institut Arab-Amerika yang berbasis di Washington menilai partisipasi diaspora Palestina dalam menyebarkan pesan progresif adalah bukti terdapat pergeseran wacana publik.

"Pesan itu mencakup berbagai masalah, termasuk isu Palestina," katanya seperti dilansir Reuters pada Rabu (7/11/2018).

Washington menunjukkan kebijakan yang tidak ramah kepada Palestina di bawah administrasi Trump. Langkah Trump yang paling kontroversial adalah pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel yang diikuti pemindahan kedutaan besar ke kota suci tersebut. Amerika juga memutuskan memotong dana untuk PBB yang digunakan untuk membantu Palestina.

Di Tepi Barat kota Ramallah dan sepanjang teritori Palestina, penduduk setempat menaruh perhatian pada berita pencalonan Tlaib.

"Perubahan ini berkembang secara perlahan, penduduk Palestina menyadari hal itu," kata Salem Barahmeh, direktur eksekutif Institut Palestina untuk Diplomasi Publik.

"Kemenangan Tlaib dilihat sebagai secercah harapan dalam episode yang paling gelap sepanjang sejarah rakyat Palestina," lanjut Barahmeh.

Bassam Tlaib kembali menunjukkan rasa bangganya. Ia berkata Rashida Tlaib adalah sosok yang berani melawan Trump, bahkan ketika pemimpin Arab enggan menghadapi presiden dari Partai Republik itu.

Tag : palestina, kongres as
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top