Diincar Sejak 2015, Berikut Fakta Menarik di Balik Pembunuhan Jamal Khashoggi

Putra mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman (MBS), rupanya telah mengincar Jamal Khahsoggi sejak 2015.
JIBI | 02 November 2018 11:08 WIB
Jamal Khashoggi - reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Putra mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman (MBS), rupanya telah mengincar Jamal Khahsoggi sejak 2015.

Jamal Khashoggi menjadi target MBS selama tiga tahun lalu ketika ia terjebak dalam perselisihan antara dua kubu dalam keluarga kerajaan Saudi, menurut seorang pengusaha dekat dengan kerajaan-kerajaan Arab, seperti dilansir dari Dailymail.co.uk, Kamis (1/11/2018).

Pengusaha asal Kanada Alan Bender saat itu berada di sebuah pertemuan pada Januari 2015, yang memicu perseteruan berujung penangkapan dan penyiksaan beberapa pangeran, dan akhirnya pembunuhan Jamal Khashoggi.

Bender, yang telah menghabiskan 15 tahun lebih sebagai negosiator untuk banyak bangsawan di Timur Tengah, telah diundang ke Swiss untuk bertemu dengan Pangeran Saudi Al Waleed bin Talal, untuk perundingan kesepakatan bisnis senilai US$ 17,1 miliar atau sekitar Rp 258,5 triliun, bersama Talal dan istri gelapnya.

Khashoggi, yang bekerja untuk Pangeran Al waleed pada saat itu, bergabung dengan dua pria di sebuah resor puncak gunung di Verbier.

Bender mengatakan, Jamal Khashoggi telah melakukan perjalanan selama berjam-jam dari Bahrain untuk menyampaikan pesan kepada Al Waleed dari putra raja, Pangeran Mohammad bin Salman.

Seminggu sebelumnya, Pangeran Mohammad bin Salman berhasil menduduki jabatan penting di Arab Saudi, ditunjuk sebagai Menteri Pertahanan dan penasihat khusus untuk ayahnya, Raja Salman.

Kenal Pialang

Jamal Khashoggi telah mengenal para pialang saham paling senior di kerajaan Saudi selama bertahun-tahun, bekerja untuk anggota keluarga kerajaan senior Pangeran Turki bin Abdullah dalam perannya sebagai Duta Besar untuk AS dan Inggris.

Pada 2015, Pangeran Al Waleed, pada saat itu dianggap sebagai pangeran terkaya di Saudi dan investor utama perusahaan besar, merekrut Khashoggi untuk membangun Al Arab, stasiun TV barunya yang berbasis di Bahrain. Tapi pekerjaan baru Jamal Khashoggi ini membuatnya terjebak dalam perselisihan kerajaan Saudi.

"Jamal memberitahu saya, selama dia masih hidup di Arab Saudi: tolong jangan bicara tentang apa yang sedang kita bicarakan." kata Bender."

Sekarang dia sudah pergi, jadi saya bisa mengatakannya.

"Dia punya pesan dari MBS (Mohammed bin Salman) ke Al Waleed, bahwa MBS akan mengawasi, jadi jaga mulutmu. Dia mengirim Jamal untuk menyampaikan peringatan itu kepada Al Waleed di Swiss," kata Bender mengutip kata-kata Khashoggi.

Awasi dan Ingatkan Media

Al Waleed berpikir bahwa dengan meluncurkan Al Arab, MBS akan berusaha mendapatkan persetujuan dan persahabatannya, karena dia memiliki stasiun TV ini di luar kendali yurisdiksi Saudi, kata Bender.

"Saya berkata kepada Al Waleed: Saya tidak berpikir stasiun TV ini akan bertahan sebulan," kata Bender dan Khashoggi mengangguk setuju.

"Dia (Khashoggi) berkata kepada Al Waleed: Yang Mulia, kami sudah mendapat peringatan. MBS mengawasi, dan Anda menjangkau lebih kuat dengan stasiun TV ini. Bukan keuntungan MBS untuk mengizinkan Anda memiliki kekuatan semacam ini di media," tutur Bender.

Pangeran Al Waleed mengabaikan saran itu, dan memerintahkan Jamal Khashoggi untuk melanjutkan peluncuran stasiun TV. Akhirnya Khashoggi pergi ke Jenewa dan terbang kembali ke Bahrain.

Stasiun TV itu akhirnya diluncurkan pada 1 Februari 2015, tetapi ditutup beberapa jam oleh pemerintah Bahrain atas perintah Pangeran Mohammed bin Salman.

Bender mengklaim bahwa insiden itu menjadikan Jamal Khashoggi sebagai musuh bagi Pangeran Mohammad bin Salman hingga kematiannya pada 2 Oktober di konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Pada September tahun lalu Jamal Khashoggi melarikan diri dari Arab Saudi, dua bulan sebelum Pangeran Mohammad menangkap Pangeran Al Waleed dan beberapa bangsawan lainnya ditahan dan diduga disiksa di Riyadh Ritz Carlton, namun akhirnya dibebaskan setelah bersumpah setia kepada Pangeran Mohammed bin Salman.

 

Sumber : Tempo

Tag : arab saudi, Jamal Khashoggi
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top