Pangeran Mohammad Sebut Jamal Khashoggi Pengikut Islam yang Berbahaya

Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammad bin Salman, dalam percakapan dengan para pejabat pemerintah Amerika Serikat (AS), menggambarkan kolumnis yang terbunuh Jamal Khashoggi sebagai pengikut Islam yang berbahaya, demikian laporan Washington Post, Kamis (1/11/2018).
Newswire | 02 November 2018 08:33 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammad bin Salman, dalam percakapan dengan para pejabat pemerintah Amerika Serikat (AS), menggambarkan kolumnis yang terbunuh Jamal Khashoggi sebagai pengikut Islam yang berbahaya, demikian laporan Washington Post, Kamis (1/11/2018).

Pernyataan tersebut dikeluarkan selama perbincangan dengan Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton dan Penasihat Senior serta menantu Presiden Trump Jared Kushner sebelum Riyadh mengakui Kerajaan itu membunuh Khashoggi, kata surat kabar tersebut.

Pangeran Mohammad, penguasa de fakto Arab Saudi, berusaha menggambarkan Khashoggi sebagai anggota Ikhwanul Muslimin, kelompok transnasional yang berasal dari Mesir dan telah menjadi pusat kecaman dari sebagian pejabat di dalam Pemerintah Trump, termasuk Blton.

Namun, seorang pejabat Arab Saudi membantah bahwa pernyataan semacam itu dikeluarkan, kata kantor berita Anadolu --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat pagi (2/11/2018).

Tapi, pernyataan yang dilaporkan tersebut, jika benar, bertolak-belakang dengan pernyataan terbuka yang dikeluarkan Kerajaan tersebut saat Arab Saudi mengeluarkan pernyataan mengenai hilangnya Khashoggi sebelum akhirnya mengakui bahwa wartawan itu tewas di dalam Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, di tengah kecamanan internasional.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir mengatakan kepada Fox News bahwa kematian Khashoggi adalah "kekeliruan yang mengerikan" dan pada saat yang sama menyesalkan "tragedi yang mengerikan itu".

"Ini adalah operasi saat beberapa orang melakukan perbuatan yang melampaui wewenang dan tanggung-jawab mereka. Mereka membuat kekeliruan ketika mereka membunuh Jamal Khashoggi di dalam Konsulat dan mereka berusaha menutupinya," katanya.

Banyak laporan telah menunjukkan Arab Saudi "berencana menimpakan kematian Khashoggi pada tokoh merah" sebelum akhirnya mengakui Khashoggi terbunuh di dalam Konsulat.

Arab Saudi belum menjelaskan versinya mengenai hilangnya Khashoggi, dan Riyadh juga belum menyerahkan jasad Khashoggi setelah beberapa laporan mengatakan ia dimutilasi di instalasi diplomatik tersebut.

Kantor Kejaksaan di Istanbul mengatakan Khashoggi dicekik hingga tewas "dalam cara yang sudah direncanakan sebelumnya" tak lama setelah ia memasuki konsulat untuk meminta dokumen bagi perkawinannya, dan menambahkan jenazah Khashoggi dibuang setelah dimutilasi.

Anggota senior Parlemen AS, termasuk Senator Lindsey Graham, telah menepis pendapat yang mengatakan bahwa ada orang selain Pangeran Mohammad yang bisa menginstruksikan operasi itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Donald Trump, Jamal Khashoggi

Sumber : Antara
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top