Pengamat Anggap Realistis Kader PKS & PAN Enggan Kampanyekan Prabowo

Pengamat Politik dari Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti mengatakan, dua partai tersebut lebih memilih untuk fokus ke Pileg 2019 karena bila mereka memfokuskan ke Pilpres 2019 yang diuntungkan adalah Gerindra dan Prabowo Subianto.
M. Taufikul Basari | 29 Oktober 2018 19:53 WIB
Prabowo Subianto bersama adiknya Hashim Djojohadikusumo. - Bisnis/Jaffry Prabu Prakoso

Bisnis.com, JAKARTA – Langkah sejumlah politisi Partai Keadilan Sosial (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) untuk lebih fokus pada Pemilihan Umum Legislatif diabandingkan mengkampanyekan calon presiden dan wakil presiden Parbowo-Sandiaga Uno dinilai sebagai sikap realistis.

Pengamat Politik dari Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti mengatakan, dua partai tersebut lebih memilih untuk fokus ke Pileg 2019 karena bila mereka memfokuskan ke Pilpres 2019 yang diuntungkan adalah Gerindra dan Prabowo Subianto.

Ini mesti disikapi secara realistis, karena mereka punya alasan bahwa bila mengkampanyekan Prabowo yang diuntungkan adalah Gerindra, kata Ray dalam rilis, Senin (29/10/2018).

Menurutnya, politisi PAN dan PKS yang fokus ke Pileg karena demi kepentingan partainya. Apabila mereka harus all out ke partai, lanjutnya, maka yang diuntungkan partainya.

Terlebih lagi ada parlementary threshold.Mereka menyadari, suara mereka masih 3%, dari yang dibutuhkan yakni 4%. Kalau tidak mereka tidak akan lolos, ujar Ray.

Tak hanya itu, lanjut dia, PAN dan PKS cukup jeli karena melihat figur Prabowo tak berimbas ke partai.

Sementara itu, Direktur Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai sikap sejumah kader PAN di daerah yang enggan mengkampanyekan Prabowo-Sandi mengindikasikan ada persoalan di internal partai koalisi.

Dilematisnya, jika figur pasangan capres kurang laku dijual di daerah tertentu akan menjadi beban bagi caleg dan partai pengusung. Apalagi jika pasangan calon dan timnya kerap membuat blunder politik, pasti akan semakin sulit memasarkan capresnya.

Persoalan lain yang membuat caleg PAN semakin tertekan karena kubu Prabowo - Sandi kerap membuat blunder politik, misalnya dalam kasus berita bohong yang dibuat Ratna Sarumpaet.

Selain itu, sejumlah narasi dari kubu Prabowo dan Sandiaga Uno yang cenderung sarkastis justru kerap menimbulkan sentimen negatif. Ini bisa menjadi beban bagi para caleg pengusung Prabowo - Sandi.

Pengamat politik Afriadi Rosdi menangkap kesan PKS menganggap Prabowo Subianto tak laku dijual di Pilpres 2019. Alhasil, partai tidak bisa lagi mengangkat elektabilitas Prabowo-Sandi dalam mengejar popularitas pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Jadi, partai-partai pendukung, termasuk PKS hanya akan menghabiskan energi jika mengampanyekan Prabowo, ujar Afriadi.

Selain itu, menurut Afriadi, partai pimpinan Sohibul Iman tersebut kemungkinan menganggap mengampanyekan Prabowo tidak ada manfaatnya.

Bahkan, kemungkinan PKS menganggap mudaratnya lebih besar dibanding manfaatnya dalam kaitan dengan kebutuhan PKS menembus parliamentary threshold.

Sepertinya, PKS menganggap mengampanyekan Prabowo hanya akan menguntungkan Gerindra, memperbesar perolehan suara Gerindra di pemilihan legislatif, sebaliknya menggerus suara PKS,” katanya.

Tag : pks, parpol
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top