Esti Andayani: Produk Indonesia harus Tetap Kompetitif di Eropa

Italia merupakan salah satu negara yang menjadi mitra penting Indonesia di Uni Eropa. Menjelang peringatan 70 tahun hubungan diplomasi Indonesia dan Italia, berbagai peluang kerja sama di berbagai sektor pun terus dimatangkan
Oktaviano Donald Baptista/Fitri Sartina Dewi | 20 September 2018 12:47 WIB
Duta Besar RI untuk Italia,Malta, Siprus, San Marino Esti Andayani.

Bisnis.om, JAKARTA – Italia merupakan salah satu negara yang menjadi mitra penting Indonesia di Uni Eropa. Menjelang peringatan 70 tahun hubungan diplomasi Indonesia dan Italia, berbagai peluang kerja sama di berbagai sektor pun terus dimatangkan. Untuk menggali strategi peningkatan kerja sama, Bisnis mewawancarai Esti Andayani, Duta Besar RI untuk Italia merangkap Malta, Siprus, dan San Marino. Berikut petikannya:

Apa saja milestone penting bagi hubungan Indonesia dan Italia?

Italia adalah salah satu negara Eropa yang termasuk lebih awal mengakui kedaulatan Republik Indonesia pada 1949. Dengan demikian, pada 2019, kita akan memperingati 70 tahun hubungan bilateral RI–Italia. Pada 1951, Pemerintah Italia membuka kantor perwakilan di Jakarta dan setahun setelahnya, Indonesia membuka perwakilan di Roma.

Kerja sama kedua negara selama ini juga terus menunjukkan perkembangan positif. Pada 2009, kedua negara sepakat membentuk Forum Konsultasi Bilateral. Sebagai sesama anggota G20, kepala pemerintahan kedua negara juga bertemu dalam forum tersebut guna membahas berbagai isu.

Apa tugas khusus yang diamanatkan pemerintah kepada Anda sebagai dubes?

Saya diminta memanfaatkan semua aset diplomasi secara optimal di wilayah akreditasi untuk menegaskan citra positif Indonesia sebagai negara demokrasi dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Selain itu, tentu saja, penguatan diplomasi ekonomi.

Apa yang menjadi prioritas dan target Anda sebagai dubes?

Selain Italia, wilayah kerja saya mencakup pula Malta, Siprus dan San Marino sekaligus organisasi internasional seperti FAO, IFAD, WFP dan UNIDROIT.

Sebagai Duta Besar RI, saya bertugas meningkatkan kerja sama bilateral Indonesia dengan keempat negara akreditasi, khususnya agar hubungan tersebut memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional Indonesia.

Oleh karena itu, prioritas saya adalah pelaksanaan diplomasi ekonomi dalam rangka meningkatkan nilai ekspor produk dalam negeri dan investasi ke Indonesia. Diplomasi ini juga termasuk kegiatan promosi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.

Apa saja sasaran yang ingin dicapai mengenai ekspor?

Sejalan dengan permintaan Presiden RI, saya mencanangkan target kenaikan nilai ekspor RI ke Italia sebesar 50% selama masa tugas sebagai Duta Besar RI di Roma.

Untuk mencapainya, berbagai upaya promosi perdagangan telah dilakukan pada tahun pertama penugasan saya. Dengan strategi tersebut, pada 2017 telah menunjukkan hasil positif kenaikan ekspor RI hingga sekitar 22,93%.

Bagaimana strategi Anda untuk meningkatkan hubungan perdagangan kedua negara?

Terdapat tiga hal utama yang saya lakukan antara lain adalah match-making pelaku bisnis Indonesia dengan Italia, mengundang pemerintah setempat maupun asosiasi industri swasta untuk mengambil bagian dalam kegiatan promosi KBRI Roma.

Selain itu, mengupayakan transfer of knowledge dari mitra di Italia kepada pelaku UMKM Indonesia, khususnya dalam hal strategi pemasaran. Kami juga aktif mengikuti berbagai forum bisnis serta upaya promosi terpadu, bukan hanya menyasar skala besar, melainkan juga UMKM, baik di Italia maupun wilayah akreditasi lainnya.

Apa saja produk Indonesia yang paling diminati di Italia?

Produk Indonesia yang menjadi unggulan di Italia adalah kopi, kelapa sawit, dan karet. Kelapa sawit Indonesia dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan dan juga dalam proses pengolahan cokelat oleh perusahaan Italia.

Sejak 2017, untuk pertama kalinya, nanas segar Indonesia dapat masuk ke Italia setelah hanya dalam bentuk kalengan. Keberhasilan ini mendorong KBRI Roma mengintensifkan penjajakan bagi buah tropis segar lainnya dari Indonesia untuk dapat diekspor ke Italia.

Hal yang menarik adalah permintaan pasar Italia terhadap bulu mata palsu buatan Indonesia juga cukup besar. Setiap tahun, KBRI Roma aktif berpartisipasi dalam pameran produk kecantikan terbesar di dunia yang diselenggarakan di Bologna, Cosmoprof.

Apa tantangan utama yang masih menjadi hambatan bagi kerja sama perdagangan kedua negara?

Dalam 3 tahun terakhir, angka perdagangan Indonesia-Italia menunjukkan surplus di pihak Indonesia dengan total nilai mencapai lebih dari US$3 miliar. Hal ini menunjukkan kerja sama ekonomi yang baik di antara kedua negara.

Meski demikian, pemahaman akan potensi pasar Italia yang besar masih perlu ditingkatkan, antara lain mengenai mekanisme pembiayaan serta regulasi dagang yang berlaku.

Selama ini, terdapat pandangan bahwa ekspor kita terkendala oleh berbagai regulasi ketat yang berlaku di Uni Eropa termasuk Italia. Menurut saya, regulasi dagang yang ditetapkan Uni Eropa pada dasarnya adalah untuk memenuhi kualitas produk dan dikaitkan dengan aspek kelestarian lingkungan hidup, kesehatan serta keamanan.

Dengan demikian, guna meningkatkan daya saing produk Indonesia, kita perlu meningkatkan dan menjaga standar kualitas produk sehingga tetap kompetitif di pasar internasional.

Bagaimana Anda melihat peluang investasi kedua negara?

Banyak peluang kerja sama investasi dengan Italia yang dapat dimanfaatkan. Terkait dengan investasi dari Indonesia ke Italia, ada sejumlah kecil investor Indonesia yang telah hadir di Italia, antara lain melalui pembelian saham klub sepakbola liga utama atau bidang energi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Italia telah mendorong agar sektor swasta Italia memanfaatkan pasar potensial di wilayah Asia Tenggara, utamanya Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

Hal ini ditandai antara lain dengan inisiatif Italia menyelenggarakan The High Level Dialogue on ASEAN-Italy Economic Relations pertama kali pada Mei 2017 di Jakarta, yang dihadiri lebih dari 150 pengusaha Italia.

Bagaimana Anda melihat minat investor untuk berinvestasi di Indonesia?

Animo pengusaha Italia terus meningkat untuk investasi di Indonesia, baik perluasan investasi maupun investasi baru. Pada 2017, nilai investasi Italia di Indonesia juga meningkat hingga lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan 2016.

Peluang kerja sama investasi kedua negara masih dapat digarap dan ditingkatkan khususnya pada sektor infrastruktur, furnitur, energi, industri pariwisata, perikanan serta cokelat.

Adakah harapan tertentu yang disampaikan pebisnis Indonesia kepada Anda?

Para pelaku usaha yang pernah kami temui mengapresiasi upaya KBRI Roma memberikan informasi mengenai peluang investasi di Italia yang dapat dimanfaatkan.

Mereka mengharapkan kami dapat terus memfasilitasi akses masuk ke pasar Italia khususnya untuk bidang ekonomi kreatif, mengingat Italia merupakan salah satu barometer dunia dalam bidang tersebut.

Bagaimana perkembangan kerja sama di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif saat ini?

Guna tindak lanjut perjanjian kerja sama pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia-Italia, diperlukan koordinasi implementasi dengan pemerintah pusat baik di Indonesia maupun Italia.

Kami bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dengan memanfaatkan berbagai platform untuk promosi ekonomi kreatif Indonesia di Italia melalui berbagai forum bertaraf internasional.

Apa saja bentuk kerja sama yang direalisasikan di bidang tersebut?

Itu antara lain seperti Venice Art Biennale untuk industri seni instalasi, Venice Architecture Biennale untuk arsitektur, serta Salone del Mobile untuk furnitur dan desain interior.

Selain itu, mitra terkait di Italia seperti akademi mode terkemuka dan organisasi swasta digandeng untuk mempromosikan industri mode, khususnya batik dan film karya sineas Indonesia.

Kami juga akan memulai penjajakan kerja sama antara startups di Indonesia dengan mitra di Italia. Indonesia saat ini selangkah lebih maju dengan banyaknya varian usaha berbasis startups. Di Italia, bisnis startups masih lebih terfokus pada usaha menengah ke atas dan belum banyak dilaksanakan untuk platform massal.

Bagaimana strategi Anda untuk mempromosikan potensi pariwisata Indonesia kepada masyarakat Italia?

Pemanfaatan media massa kami pandang efektif memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat setempat. Baru-baru ini, kami bekerja sama dengan stasiun televisi terbesar di Italia, RAI1, untuk menyiarkan promosi Indonesia.

Diseminasi informasi pariwisata kepada publik juga dilaksanakan melalui situs dan media sosial KBRI Roma, serta dengan memfasilitasi perjalanan jurnalis atau influencer setempat ke destinasi wisata Indonesia.

Kami juga menggandeng operator perjalanan yang memiliki paket tur ke Indonesia, dan aktif mengikuti pameran pariwisata terkemuka di Italia, baik business-to-business maupun ritel.

Bagaimana dengan program perlindungan WNI?

Hal itu juga menjadi program prioritas saya untuk penguatan perlindungan WNI dengan target seluruh permasalahan yang melibatkan WNI di wilayah akreditasi dapat terselesaikan dengan difasilitasi KBRI Roma.

Berbagai permasalahan yang seringkali dialami WNI selama ini mulai dari yang mengalami gangguan mental, meninggal dunia karena kecelakaan pada saat berwisata di wilayah akreditasi, terjerumus tindak pidana, ataupun mengalami perlakuan tidak adil dalam hubungan ketenagakerjaan, semuanya memerlukan penanganan seksama.

Oleh sebab itu, saya meminta seluruh rekan di KBRI Roma agar dapat memastikan hak-hak para WNI terlindungi dengan baik.

Adakah hal-hal menarik dari Italia yang bisa ditiru atau diterapkan di Indonesia?

Hal yang bisa ditiru adalah konsep pelayanan gratis dalam penanganan gawat darurat bagi siapa saja. Di Italia, apabila kita sakit dan memerlukan penanganan kesehatan gawat darurat, akan ditangani secara langsung tanpa ada biaya yang dibebankan.

Ketentuan tersebut berlaku bagi siapa saja tanpa memandang status ekonomi, bahkan kewarganegaraan. Saya kira, jika ini diterapkan di Indonesia, sila kelima Pancasila dapat tecermin nyata.

BIODATA
Nama: Esti Andayani
Tempat/Tanggal Lahir: Yogyakarta, 31 Januari 1957
Riwayat Pendidikan:
- S1 Sosiologi Universitas Indonesia
Riwayat Karier:
- Duta Besar RI untuk Italia merangkap Malta, Siprus, San Marino serta FAO, IFAD, WFP, UNIDROIT (2017-Sekarang)
- Duta Besar RI Untuk Norwegia merangkap Islandia (2010)
- Direktur Kerja Sama Teknik, Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri (2005—2010)
- Direktur Komoditi Standarisasi, Ditjen Multilateral Ekubang Kementerian Luar Negeri (2004—2005)
- Kepala Bidang Ekonomi I PTRI Jenewa (2002—2004)

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Kamis (20/9/2018)

Tag : italia
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top