Sejumlah Bank Sentral Diyakini Segera Akhiri Pelonggaran Stimulus

Perlahan tapi pasti, bank sentral di seluruh dunia mengakhiri pelonggaran stimulus yang mereka lakukan sedekade terakhir. Sejak krisis 2008, bank sentral utama dunia telah menyuntikkan stimulus ke dalam perekonomian global untuk menghadapi dampak krisis keuangan dan resesi.
Dwi Nicken Tari | 28 Juni 2018 19:20 WIB
Bank sentral AS The Federal Reserve - Reuters/Larry Downing

Kabar24.com, JAKARTA - Perlahan tapi pasti, bank sentral di seluruh dunia mengakhiri pelonggaran stimulus yang mereka lakukan sedekade terakhir. Sejak krisis 2008, bank sentral utama dunia telah menyuntikkan stimulus ke dalam perekonomian global untuk menghadapi dampak krisis keuangan dan resesi.

Pada tahun ini, Bank Sentral AS (Federal Reserve) telah menaikkan suku bunga acuannya sebanyak dua kali. Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) mengumumkan akan menghentikan program pembelian aset pada Desember 2018.

Sementara itu, bank sentral negara berkembang seperti di Turki dan Argentina juga ikut mengetatkan kebijakan moneter, bahkan lebih agresif lagi. Pasalnya, aliran arus modal keluar dari pasar negara berkembang menjadi kekhawatiran tersendiri bagi negara-negara kawasan emerging market.

Namun, tidak semua negara bergerak mengetatkan kebijakannya. Bank Sentral Jepang (BOJ) masih tetap mempertahankan stimulus masifnya dan Bank Sentral China (PBOC) juga masih bersandar pada kebijakan moneter yang longgar.

Apapun yang dilakukan oleh para pembuat kebijakan hingga akhir tahun ini tentu saja akan menggerakkan pasar keuangan, yang terlalu lama mendapat dukungan dari membanjirnya uang tunai.

Oleh karena itu, Bloomberg Economics melakukan riset atas 22 bank sentral utama di dunia, yang bersama-sama berpengaruh atas 90% di dalam ekonomi global.

The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebesar seperempat basis poin menjadi 1,75%-2%. Adapun perkiraan Fed Fund rate (FFR) pada akhir tahun ini adalah di kisaran 2%-2,25% dan menjadi 2,75%-3% pada penghujung 2019.

“The Fed tampaknya bersandar kuat pada kenaikan keempat pada 2018, berdasarkan nada yang didengungkan pada pertemuan terakhir. Namun, pasar memperlihatkan keraguan. Probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember tetap berada di bawah 60%,” kata Carl Riccadonna, ekonom Bloomberg, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (28/6/2018).

Sementara itu, ECB masih mempertahankan suku bunga di level negatif 0,40% dan diperkirakan mencapai -0,15% pada akhir tahun depan. ECB saat ini masih mengamati pergerakan Zona Euro setelah pelemahan baru-baru ini. Hal itu merupakan yang terpenting karena institusi keuangan Eropa itu akan menghentikan program pembelian obligasinya pada akhir tahun ini. Selain itu, tensi dagang dengan AS turut mebawa kekhawatiran.

Di Asia, BOJ masih menahan suku bunga acuan di -0,10% dan diperkirakan tidak akan berubah bahkan hingga akhir tahun depan. BOJ menjadi bank sentral yang tertinggal dari bank sentral lainnya di dalam normalisasi kebijakan. Pasalnya, inflasi Negeri Sakura tidak mau meninggalkan level rendah dan tetap berada jauh dari setengah target 2%.

Sebagian besar ekonom berharap Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda dapat menjaga pengaturan kurva imbal hasil saat ini untuk beberapa waktu ke depan.

Sementara BOJ masih mengacu kepada panduan pembelian aset pemerintah sebesar 80 tiriliun yen, level aktual pembelian itu dapat menurun karena fokus Kuroda untuk mengubah manajemen imbal hasil pada 2016 membuat kebijakannya lebih berkelanjutan.

“BOJ akan sabar, mencerminkan keyakinan mereka bahwa inflasi masih terlelap dan berlalu begitu saja, yaitu di level 0,7% pada Mei, seiring dengan penguatan ekonomi Jepang dan pertumbuhan upah yang lebih cepat memicu tekanan harga,” kata Yuki Masujima, Ekonom Bloomberg.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali dalam dua minggu pada Mei. Hal itu dilakukan di tengah aksi jual global aset pasar negara berkembang dan rupiah menjadi tertekan.`

Gubernur BI Perry Warjiyo yang baru menjabar pada 24 Mei 2018 menaikkan suku bunga tidak di dalam rapat rutin bank sentral, tidak lebih dari seminggu setelah menjabat. Dia berjanji untuk menjaga kebijakan moneter dan menaikkan prospek untuk pengetatan selanjutnya untuk menjaga nilai tukar rupiah terhadap menguatnya dolar dan kenaikan FFR.

Sementara inflasi masih rendah di Indonesia—nilai  harga konsumen tumbuh 3,2% pada Mei—dan pertumbuhan ekonomi relatif di sekitar 5%, kini BI lebih fokus pada nilai mata uang yang telah anjlok lebih dari 3,5% pada tahun ini.

Dengan bergabungnya ECB ke dalam pengetatan kebijakan seperti The Fed, Indonesia bakal menghadapi volatilitas lebih lanjut. Kenaikan suku bunga ketiga jelas sekali terjadi pada rapat kebijakan 29 Juni 2018.

“BI telah mengubah prioritasnya untuk stabilitas dari pertumbuhan. Bank sentral menaikkan suku bunga hingga 50 bps pada Mei dan memberikan sinyal pengetatan lebih lanjut,” ujar Tamara Henderson, Ekonom Bloomberg.

Henderson menjelaskan, hal itu akan menaikkan suku bunga diferensial dengan AS, menaikkan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia, dan menstabilkan rupiah.

Adapun inflasi inti tetap rendah dan pertumbuhan masih di bawah tingkat potensialnya. Henderson mengungkapkan, dengan fokus BI lebih kepada stabilitas mata uang, maka bank sentral akan menggunakan bingkai kerja yang menargetkan inflasi untuk menetapkan kebijakannya.

Tag : bank indonesia, ecb, boj, bank sentral, federal reserve
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top