Terungkap, Ini Jenis Racun Saraf yang Bikin Mantan Mata-mata Rusia Pingsan

Racun mematikan, yang membuat mantan mata-mata Rusia dan putrinya tersungkur pada bulan lalu di Inggris dipastikan adalah zat saraf Novichok.
Newswire | 13 April 2018 06:33 WIB
Polisi berdiri di depan pub Mill setelah inspektur dari Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW) tiba untuk mulai bekerja di tempat serangan agen saraf pada mantan agen Rusia Sergei Skripal, di Salisbury, Inggris 21 Maret 2018. - Reuters

Bisnis.com. DENHAAG - Racun mematikan, yang membuat mantan mata-mata Rusia dan putrinya tersungkur pada bulan lalu di Inggris dipastikan adalah zat saraf Novichok.

Kesimpulan itu dikeluarkan pada Kamis (12/4/2018) oleh badan internasional pengawas senjata kimia serta memperkuat temuan penyelidikan oleh Inggris.

Mantan mata-mata itu, Sergei Skripal, adalah mantan kolonel pada badan intelijen militer Rusia, yang menghianati puluhan agen Rusia untuk menyeberang ke pihak Dinas Intelijen Asing Inggris, MI6.

Skripal dan putrinya, Yulia, ditemukan tidak sadar di bangku di kota katedral Inggris, Salisbury, pada 4 Maret.

Inggris menyalahkan Rusia atas peracunan itu dan Perdana Menteri Theresa May mengatakan bahwa Skripal dan putrinya diserang menggunakan racun saraf kategori militer, Novichok, yang dikembangkan oleh Uni Soviet pada 1970-an dan 1980-an.

Moskow membantah memiliki keterlibatan apa pun dan menduga bahwa Inggris lah yang telah melakukan serangan itu untuk mengobarkan histeria anti-Rusia.

Namun, Inggris meminta Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) untuk memeriksa sampel-sampel dari Salisbury.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh empat laboratorium yang memiliki jaringan dengan badan global pengawas senjata kimia itu membenarkan temuan Inggris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zat kimia beracun itu "memiliki kandungan murni yang tinggi".

Tak Terbuka

OPCW tidak secara terbuka menyebut Novichok dalam kesimpulan yang diterbitkannya ataupun mengatakan dari mana racun itu berasal dan siapa yang melakukan serangan.

Tapi, OPCW membenarkan analisis yang disimpulkan Inggris soal zat yang telah digunakan dalam serangan tersebut.

"Hasil analisis laboratorium-laboratorium yang ditunjuk OPCW atas sampel-sampel lingkungan dan biomedis yang dikumpulkan tim OPCW membenarkan temuan-temuan yang dihasilkan Britania Raya terkait identitas kimia beracun," kata kesimpulan OPCW.

Pemeriksaan yang dijalankan oleh laboratorium-laboratorium OPCW, yang hasil rincinya masih dirahasiakan, juga menemukan fakta bahwa zat yang digunakan di Salisbury memiliki kadar "kemurnian tinggi". Hasil pemeriksaan itu mendukung pernyataan pemerintah Inggris bahwa negara terlibat.

Ketika menanggapi kesimpulan tersebut, Moskow mengatakan pihaknya memiliki alasan untuk berpikir bahwa laporan tersebut merupakan bagian dari upaya Inggris untuk menjelekkan Rusia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan Moskow tidak akan mempercayai kesimpulan apa pun menyangkut peracunan itu kecuali jika para pakar Rusia diberi akses pada penyelidikan tersebut.

Zakharova juga menantang Inggris membuktikan bahwa Skripal dan putrinya tidak disandera. Ia mencatat tidak ada pihak lain selain pihak berwenang Inggris yang bertemu dengan ayah atau putrinya itu selama lebih dari satu bulan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rusia, senjata kimia

Sumber : Antara
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top