Setelah Inggris dan AS, Kini Giliran Australia Usir Diplomat Rusia

Setelah Inggris, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Eropa, kini giliran Australia mengusir dua diplomat Rusia terkait kasus upaya pembunuhan mantan agen ganda Rusia di Salisbury, Inggris.
John Andhi Oktaveri | 27 Maret 2018 10:57 WIB
Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull dan Menteri Luar Negeri Australian Julie Bishop berbicara kepada media massa di Gedung Parlemen, Canberra Australia, 27 Maret 2018. - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA - Setelah Inggris, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Eropa, kini giliran Australia mengusir dua diplomat Rusia terkait kasus upaya pembunuhan mantan agen ganda Rusia di Salisbury, Inggris.

Perdana Menteri Malcolm Turnbull mengatakan keduanya adalah 'staf intelijen yang terselubung'. Dia memberi waktu tujuh hari kepada mereka untuk meninggalkan Australia.

"Keputusan ini mencerminkan betapa mengejutkannya serangan, penggunaan senjata kimia di Eropa untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia Kedua,” ujar Turnbull.

Menurutnya, senjata kimia itu melibatkan substansi yang sangat mematikan di kawasan yang padat penduduk sehingga membahayakan banyak anggota masyarakat lainnya.

Turnbull mengatakan keputusan itu mengikuti petunjuk London yang menyatakan bahwa substansi yang digunakan dalam serangan terhadap Sergei Skripal dan putrinya, Yulia pada 4 Maret lalu adalah zat saraf militer dari jenis yang dikembangkan oleh Rusia.

Dia menyebut hal itu sebagia "sebuah pola dari perilaku nekat dan disengaja oleh Rusia, yang mengandung ancaman bagi keamanan internasional. Serangan semacam itu tidak dapat ditoleransi oleh negara berdaulat manapun, katanya sebagimana dikutip CNN.com, Selasa (27/3/2018).

“Kami sangat mendukung seruan Rusia untuk mengungkapkan program senjata kimianya sesuai dengan hukum internasional," kata Turnbull.

Canberra mengikuti langkah Washington yang mengusir 60 diplomat Rusia dari Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga memerintahkan penutupan konsulat jenderal Rusia di Seattle.

Kanada, Ukraina, Albania dan sebagian besar negara-negara Uni Eropa turut mengikuti langkah AS dengan mengusir sejumlah diplomat Rusia. Sebelumnya Inggris mendesak sekutu-sekutunya mengambil langkah serupa terkait kasus peracunan Skripal.

Rusia membantah telah mendalangi upaya pembunuhan Skripal, yang menyebabkan Skripal dan putrinya kini dalam kondisi kritis. Presiden Vladimir Putin menyatakan tuduhan itu tidak masuk akal, dan mendesak Inggris untuk membuktikan tuduhannya, dan jika tidak terbukti harus minta maaf.

 

Tag : rusia, australia
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top