Dilema Moon Jae-In dalam Perdamaian Semenanjung Korea

Dengan penampilan dari musisi K-Pop pada hari Minggu (25/2/2018) Presiden Korea Selatan Moon Jae-in merayakan berakhirnya Olimpiade Musim Dingin yang mendorong perdamaian dengan Korea Utara.
Aprianto Cahyo Nugroho | 26 Februari 2018 09:27 WIB
Suasana acara penutupan Olimpiade Musim Dingin 2018 di Kota Pyeongchang Minggu (25/2/2018). Reuters - Christian Hartmann

Bisnis.com, JAKARTA – Dengan penampilan dari musisi K-Pop pada hari Minggu (25/2/2018) Presiden Korea Selatan Moon Jae-in merayakan berakhirnya Olimpiade Musim Dingin yang mendorong perdamaian dengan Korea Utara.

Saat ini, Presiden Moon menghadapi dilema dalam mempertahankan upaya perdamaian antar kedua Korea tersebut.

Bahkan sebelum atlet Korea Utara mulai kembali melintasi perbatasan mereka, Ada dua pertanyaan besar di benak Moon: apakah dia akan mendesak Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan tensi atau menunda latihan militer yang berisiko menyalakan kembali ketegangan, atau apakah akan menerima undangan Kim Jong Un untuk bertemu di ibukota Korea Utara.

Pilihan tersebut terbentang dilematis. Dia ingin mempertahankan atlet Olimpiade dengan atlet Korea berbaris di bawah bendera yang sama dan saudara perempuan Kim menawarkan pertemuan kepemimpinan pertama antar negara dalam 11 tahun terakhir. Tapi dia tidak ingin menyakiti aliansi dengan AS, yang telah bersumpah untuk memberikan "tekanan maksimal" agar Korea Utara menghentikan program senjata nuklirnya dan menggunakan kekuatan militer jika diperlukan.

Menjelang upacara penutupan hari Minggu di Stadion Olimpiade, ada tanda-tanda gesekan yang terjadi. Kim mengirim utusannya, seorang pejabat partai berkuasa yang pernah disalahkan oleh banyak warga Korea Selatan karena menenggelamkan salah satu kapal perang mereka di tahun 2010 dan menewaskan 46 pelaut.

Sementara itu, Trump mengenakan sanksi baru untuk menghambat perdagangan dengan Korea Utara dan memperkirakan fase "sangat kasar" jika kampanye tersebut gagal.

Seorang pejabat Korea Selatan yang terlibat dengan isu nuklir semenanjung mengatakan Moon sedang mencari cara untuk melaksanakan latihan militer tanpa memicu reaksi dari Korea Utara. Seoul berharap dapat meyakinkan Pyongyang untuk membuka dialog langsung dengan AS, yang akan meletakkan dasar untuk pertemuan antara Moon dan Kim.

Pekan lalu, Delegasi Korea Utara tiba-tiba membatalkan pertemuan dengan Wakil Presiden AS Mike Pence pada awal Olimpiade. Pada hari Minggu, kantor kepresidenan Korea Selatan mengatakan bahwa delegasi Korea Utara menyatakan kesediaan untuk berbicara dengan AS, namun Ivanka Trump, putri presiden dan perwakilan dalam upacara penutupan Olimpiade, tidak menyapa setiap anggota VIP dari Pyongyang yang hadir.

Presiden Korea Selatan harus mengambil langkah Olimpiade Paralimpiade Musim Dingin berakhir pada tanggal 18 Maret. AS mengatakan latihan militer massal mereka, yang oleh Korea Utara dianggap sebagai latihan perang, akan segera dimulai setelahnya.

"Jika Korea Utara tidak bereaksi terlalu keras terhadap latihan bersama ini, maka ini bisa menjadi awal yang baik untuk pembicaraan antara AS dan Korea Utara untuk setidaknya membekukan program nuklir Pyongyang," kata Koh Yu-hwan dari Universitas Dongguk di Seoul, seperti dikutip Bloomberg.

AS dan Korea Selatan sebelumnya menunda latihan gabungan ‘Key Resolve and Foal Eagle’ berskala besar yang biasanya dimulai Maret setelah Kim memprakarsai dialog Olimpiade.

Shin Beomchul, seorang profesor di Akademi Diplomat Nasional Korea, mengatakan salah satu opsi untuk mengurangi reaksi Korut atas latihan bersama tersebut adalah menggunakan lebih sedikit armada AS, seperti kapal induk atau pembom bertenaga nuklir dalam latihan.

Tag : semenanjung korea
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top