Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lebih dari 10.000 Warga Sipil Afganistan Terdampak Kekerasan Sepanjang 2017

Lebih dari 10.000 warga sipil Afganistan tewas dan terluka dalam berbagai aksi kekerasan sepanjang 2017.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 15 Februari 2018  |  14:58 WIB
Tentara Afganistan dan Tentara NATO memeriksa bangunan yang rusak akibat serangan bom, Kamis (10/11/2016).  - Reuters
Tentara Afganistan dan Tentara NATO memeriksa bangunan yang rusak akibat serangan bom, Kamis (10/11/2016). - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Lebih dari 10.000 warga sipil Afganistan tewas dan terluka dalam berbagai aksi kekerasan sepanjang 2017.

Secara keseluruhan, korban tewas dari warga sipil mencapai 3.438 orang dan 7.015 lainnya mengalami luka-luka pada 2017. Meski angka tersebut sangat besar, tapi jumlahnya 9% lebih rendah dibandingkan 2016.

PBB menyatakan sebagian besar korban disebabkan oleh bom militan. Sementara itu, serangan udara yang dilakukan tentara pemerintah maupun pasukan asing lain mencakup 6% dari total korban, di mana 295 orang tewas dan 336 terluka.

"Serangan yang dilakukan kelompok anti pemerintah yang sengaja menyasar warga sipil mencapai 27%, mayoritas dalam bentuk bom bunuh diri dan serangan yang lebih kompleks," papar Komisioner Tinggi HAM PBB Zeid Ra'ad al Hussein, seperti dilansir Reuters, Kamis (15/2/2018).

Dari jumlah tersebut, sebanyak 359 orang di antaranya perempuan, naik 5% dari angka 2016, dan 865 luka-luka.

Serangan terburuk berlangsung pada 31 Mei 2017 ketika serangan bunuh diri dilakukan dengan meledakkan truk berisi bom. Ledakan yang terjadi membunuh 92 orang dan melukai 491 lainnya.

"Warga sipil Afganistan terbunuh ketika melakukan kegiatan sehari-hari seperti bepergian dengan bus, berdoa di masjid, atau bahkan ketika berjalan kaki melewati gedung yang menjadi target serangan," lanjutnya.

Hussein menyatakan serangan-serangan itu bisa dianggap sebagai pelanggaran kemanusiaan atau bahkan kejahatan perang. Dia menegaskan pelakunya mesti ditangkap dan dimintai pertanggungjawaban.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

afganistan

Sumber : Reuters

Editor : Annisa Margrit

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top