Tak Mau Ekonomi AS Terus 'Dirampok', Trump Terapkan Pajak Resiprokal

Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan mendorong pemberlakuan pajak resiprokal terhadap negara-negara yang mengenakan hambatan tarif kepada produk asal negara adidaya tersebut.
Yustinus Andri DP | 13 Februari 2018 19:06 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan mendorong pemberlakuan pajak resiprokal terhadap negara-negara yang mengenakan hambatan tarif kepada produk asal negara adidaya tersebut.

Namun demikian, Trump belum mau menjelaskan secara terperinci rencananya tersebut. Dia baru menjelaskan bahwa kebijakan itu akan diberlakukan kepada seluruh negara, bahkan kepada sekutunya.

“Kami tidak dapat terus membiarkan orang-orang datang ke negara kami dan merampok ekonomi AS. Kami tidak mau mereka mengenakan hambatan tarif atas produk AS, sementara AS tidak melakukan apa-apa atas praktik itu,” kata Trump pada Selasa WIB (13/2/2018).

Pernyataan tersebut seolah mengulang kembali janji kampanyenya pada 2016. Kala itu dia mencerca negara-negara yang memiliki surplus perdagangan dengan cara mengambil keuntungan dari AS. Dia pun sempat mengapungkan rencananya untuk melaksanakan kebijakan retaliasi apabila terpilih.

Dia pun menyebutkan negara seperti Jepang dan Korea Selatan sebagai sekutu politik Paman Sam. Namun, dalam hal perdagangan kedua negara itu disebutnya bukan sekutu AS.

“AS kehilangan uang sangat banyak dari Jepang dan Korsel, juga China. Kebijakan pajak dagang balasan ini sulit bagi kami. Namun kami akan tetap mengadopsinya,” lanjutnya.

Trump mencontohkan kesulitan yang dialami oleh perusahaan kendaraan roda dua asal AS yakni Harley-Davidson.

Menurutnya, produk Harley-Davidson dikenai tarif masuk sebesar 60% di Thailand. Kebijakan Negeri Gajah Putih itu membuat perusahaan motor gede tersebut harus membangun pabrik di negara tersebut.

Berdasarkan data dari Organisasi Perdagangan Internasional (WTO), AS memberikan tarif masuk pada produk dari luar negeri relatif rendah, yakni rata-rata 3,5%. Tarif tersebut relatif lebih rendah dari China sebesar 9,9% dan Uni  Eropa 5,2%.

Untuk beberapa produk, seperti kendaraan untuk penumpang, AS mengenaikan tarif masuk sebesar 2,5%. Sebaliknya China menerapkan tarif sebesar 25% dan Uni Eropa 10%.

Di sisi lain, rencana dari Trump ini mendapatkan tentangan yang besar dari para importir AS. Federasi Ritel Nasional AS (NRF) mengaku akan menolak rencana Presiden AS dari Partai Republik tersebut yang akan menaikkan pajak impor menjadi 20%.

“Kebijakan pajak itu sangat buruk dan akan menaikkan harga produk di Assecara masif,” tulis NRF dalam keterangan resminya.

Meski demikian, protes dari NRF tersebut nampaknya akan sulit terakomodasi. Pasalnya, Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross menyatakan akan mendukung usulan Trump tersebut.

Sumber : Bloomberg & Reuters

Tag : perdagangan as
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top