Dua Warga Palestina Tewas Pasca Bentrok dengan Militer Israel

Setidaknya dua orang tewas pasca bentrok yang terjadi antara ribuan warga Palestina dengan tentara Israel di Jalur Gaza.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 09 Desember 2017  |  12:03 WIB
Dua Warga Palestina Tewas Pasca Bentrok dengan Militer Israel
Warga Palestina membakar bendera Israel dan Amerika Serikat dalam sebuah demonstrasi terhadap niat Amerika Serikat memindahkan kedubes mereka ke Yerusalem dan mengenali Yerusalem sebagai ibukota Israel, di Kota Gaza, Rabu (6/12/2017). - Reuters

Kabar24.com, Gaza -- Setidaknya dua orang tewas pasca bentrok yang terjadi antara ribuan warga Palestina dengan tentara Israel di Jalur Gaza.

Bentrokan terjadi ketika warga Palestina sedang melakukan demonstrasi mengecam pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal pengakuan Yerusalem sebagai Ibukota Israel.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan Washington tidak lagi berperan sebagai perantara untuk mencapai perdamaian di Palestina.

Seluruh dunia dan umat Muslim yang terdiri dari ribuan pemrotes turun ke jalan pada hari Jumat, hari suci bagi umat Islam, untuk mengungkapkan solidaritas kepada warga Palestina dan kemarahan atas kemunduran pemerintahan AS di bawah kepemimpinan Trump.

Dikutip dari Reuters, tentara Israel menembak mati seorang pria Palestina di dekat perbatasan Gaza, ini merupakan kematian pertama yang dikonfirmasi sejak dua hari berlangsungnya kerusuhan.

Sejumlah orang ikut terluka pada "Day of Rage".

Pejabat rumah sakit di Gaza menyebutkan korban berikutnya meninggal lantaran luka-luka yang dideritanya.

Seorang tentara Israel mengatakan ratusan warga Palestina menggulirkan ban yang terbakar dan melemparkan batu ke tentara di seberang perbatasan.

"Selama kerusuhan tentara IDF menembakkan senjata secara selektif terhadap dua orang penghasut dan penembakan sudah dikonfirmasi," ujarnya, Sabtu (9/12/2017).

Layanan ambulans Red Crescent Palestina menyebutkan lebih dari 80 warga Palestina terluka di kawasan Tepi Barat dan Jalur Gaza yang diduduki oleh Israel karena tembakan dan peluru karet.

Puluhan lagi menderita gangguan pernafasan yang disebabkan oleh gas air mata. Dikonfirmasi ada 31 orang terluka pada Kamis (7/12/2017).

Ketika ibadah Shalat Jumat berakhir di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, para jemaah berjalan menuju gerbang kota tua yang dibatasi dengan dinding dan meneriakkan "Yerusalem adalah milik kita, Yerusalem adalah Ibukota kita," dan "Kita tidak memerlukan kata-kata kosong, kita membutuhkan batu dan Kalashnikov,".

Tidak lama berselang bentrok pun terjadi antara aparat kepolisian dan pemrotes.

Di Hebron, Betlehem, dan Nablus, puluhan warga Palestina melemparkan batu ke tentara Israel yang melepaskan tembakan gas air mata.

Sedangkan di Gaza, yang dikendalikan oleh kelompok Islam, Hamas, menyerukan agar para jemaah melakukan protes dengan menggunakan pengeras suara.

Hamas telah menyerukan pemberontakan baru di Palestina seperti "Intifada" pada 1987-1993 dan 2000-2005, yang mengakibatkan ribuan warga Palestina dan Israel menjadi korban tewas.

Pemimpin Hamas Faathy Hammad menyerukan jika ada siapapun yang memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem maka mereka akan menjadi musuh Palestina dan menjadi target faksi-faksi Palestina.

"Kami menyatakan sebuah Intifada sampai pembebasan Yerusalem dan seluruh Palestina," serunya.

Protes sedikit mereda saat malam tiba.

Sirene roket terdengar di kota-kota Israel Selatan dekat perbatasan Gaza dan tentara Israel mengatakan pihaknya telah mencegar satu dari setidaknya dua proyektil yang ditembakkan dari Gaza. Tidak ada korban yang dilaporkan.

Brigade Martir Al-Aqsa, sebuah kelompok militan yang terkait dengan Partai Fatah Abbas, mengaku bertanggung jawab atas penembakkan salah satu roket tersebut sebagai bentuk protes terhadap putusan Trump.

Militer Israel mengatakan bahwa dalam menanggapi tembakan roket tersebut pesawatnya mengebom target militan di Gaza.

Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan setidaknya 25 orang terluka dalam serangan tersebut termasuk enam anak.

Di PBB, Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley mengatakan Washington masih memiliki kredibilitas sebagai mediator.

"Amerika Serikat memiliki kredibilitas dengan kedua belah pihak. Israel tidak pernah dan tidak boleh diintimidasi oleh PBB atau oleh kumpulan negara-negara yang telah membuktikan ketidakpedulian mereka terhadap keamanan Israel," ujarnya.

Presiden Abbas menentang pernyataan tersebut. "Kami menolak keputusan Amerika atas Yerusalem. Dengan posisi ini Amerika Serikat sudah tidak lagi memenuhi syarat untuk mensponsori proses perdamaian," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Yerusalem

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top