Penyanderaan 1.300 Warga di Papua, Warga Asal Banti Enggan Dievakuasi

Kapolda Papua Irjen PolISI Boy Rafli mengakui warga sipil asal Banti enggan untuk dievakuasi walaupun Kelompok kriminal bersenjata atau KKB sempat menyandera mereka bersama warga sipil lainnya yang juga disandera.
Newswire | 17 November 2017 18:07 WIB
Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar memberikan keterangan pers - Antara

Bisnis.com, JAYAPURA - Kapolda Papua Irjen PolISI Boy Rafli mengakui warga sipil asal Banti enggan untuk dievakuasi walaupun Kelompok kriminal bersenjata atau KKB sempat menyandera mereka bersama warga sipil lainnya yang juga disandera.

Warga Banti sendiri enggan untuk dievakuasi dan memilih kembali dan menetap dikampungnya, kata Kapolda Papua Irjen Boy Rafli kepada Antara di Jayapura, Jumat (17/11/2017).

Dikatakan Kapolda Papua, saat ini proses evakuasi terhadap warga sudah dilakukan walaupun sempat diwarnai kontak senjata dengan kkb.

Cukup berat pelaksanaan evakuasi karena warga harus berjalan sekitar empat jam akibat jalan dirusak KKB sehingga bus yang disiapkan tidak dapat kelokasi.

Sementara itu warga sipil yang sebelumnya disandera di Kampung Kimbely sudah tiba di Tembagapura dan ditampung di sport hall di mille 66, kata Kapolda Papua Irjen Boy Rafli.

Jumlah warga yang dievakuasi mencapai 346 orang,yang 23 orang diantaranya anak anak dan kini ditangani tim medis yang sudah disiapkan sebelum dievakuasi ke Timika.

Ratusan warga yang sempat disandera kkb itu selain berprofesi sebagai pedulang, pengumpul dan pedagang yang berjualan di sekitar longsoran.

Untuk mencapai Kampung Banti terlebih dahulu harus melewati kawasan longsoran, kampung Kimbely dan Utikini.

Sumber : ANTARA

Tag : papua
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top