Lalui Satu Bulan Puasa 16-17 Jam per Hari, Ini Yang Dirasakan Pelajar Indonesia di Amerika

Kabar24.com,JAKARTA- Menjalani suatu hal untuk pertama kalinya kerap dirasa cukup menantang. Rasa penasaran dan kekhawatiran kerap mengiringi ketika memulai suatu hal untuk pertama kali.
Juli Etha Ramaida Manalu | 24 Juni 2017 22:48 WIB
Patung Liberty - tes.com

Kabar24.com,JAKARTA- Menjalani suatu hal untuk pertama kalinya kerap dirasa cukup menantang. Rasa penasaran dan kekhawatiran kerap mengiringi ketika memulai suatu hal untuk pertama kali.

Begitu pula yang dirasakan oleh Natasha, seorang mahasiswi asal Indonesia yang kini menepuh pendidikan di New Jersey, Amerika Serikat. Bulan Ramadhan tahun ini menjadi momen puasa dan Lebaran pertama yang harus dia lalui seorang diri, jauh dari keluarga dan tanah air.

Natasha mengakui awalnya dia merasa khawatir ketika pertama kali memulai puasa di Negeri Paman Sam ini. Selain waktu puasa yang jauh lebih panjang, keadaan di sekitarnya juga jauh berbeda dari lingkungan yang biasanya dia temui kala berpuasa di tanah air.

"Pertama kali puasa di sini agak khawatir karena panjang, 16-17 jam. Imsak jam 04.00 kurang, buka puasa 08.30pm," katanya kepada Bisnis.com, Sabtu (24/6/2017).

Kendati berada jauh dari keluarga membuatnya merasa berat tetapi dia tidak merasa hal tersebut menjadi kendala yang menghalangi ibadahnya. Malah, keadaan ini menurutnya membantu agar dia bisa beribadah dengan tulus tanpa dipengaruhi keadaan sekitar.

Natasha mengingat bahwa di Indonesia kerap kali ada kelompok yang melakukan aksi sweeping jam buka restauran. Padahal, di sana, di tengah keadaan yang jauh berbeda dengan gerai makanan yang ada di mana-mana, dia tidak merasa terganggu.

"Yang berat adalah jam puasa yang panjang dan aktifitas yang padat selama musim panas. Summer waktunya piknik dan jalan-jalan, serta banyak acara-acara menarik. Panas nyaaaa pol, seperti di Indonesia, tapi jam puasanya panjang," ceritanya.

Seperti diketahui, bulan puasa ini jatuh bertepatan dengan musim panas di mana cuaca bisa jadi sangat panas. Belum lagi aktivitas yang padat. Musim panas juga merupakan waktu di mana orang-orang melakukan kegiatan di luar rumah seperti piknik dan ada banyak acara menarik.

Suasana Ramadhan yang jauh berbeda ini, kata Natasha juga membantu mempererat persaudaraan sesama kaum Muslim dari berbagai negara di tengah kondisi politik yang ada di Amerika.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Lebaran 2017

Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top