Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

7 dari 10 Remaja Merasa Terancam Kekerasan Seksual

Tujuh dari 10 remaja berusia 18 tahun di Indonesia percaya bahwa anak muda saat ini terancam bahaya pelecehan, kekerasan atau eksploitasi seksual secara online.
Atiqa Hanum
Atiqa Hanum - Bisnis.com 08 Juni 2016  |  02:19 WIB
Pengunjuk rasa melakukan unjuk rasa SisterInDanger di depan Kompleks MPR/DPR Senayan, Jakarta, Rabu (11/5). Mereka menuntut sejumlah hal terkait maraknya kasus kekerasan seksual akhir-akhir ini. - Antara/Rosa Panggabean
Pengunjuk rasa melakukan unjuk rasa SisterInDanger di depan Kompleks MPR/DPR Senayan, Jakarta, Rabu (11/5). Mereka menuntut sejumlah hal terkait maraknya kasus kekerasan seksual akhir-akhir ini. - Antara/Rosa Panggabean

Bisnis.com, JAKARTA - Tujuh dari 10 remaja berusia 18 tahun di Indonesia percaya bahwa anak muda saat ini terancam bahaya pelecehan, kekerasan atau eksploitasi seksual secara online.

Fakta tersebut sesuai dengan studi UNICEF terbaru di mana 69% anak muda di Indonesia percaya akan ancaman kekerasan seksual. Namun, dari mereka juga sangat percaya diri bahwa mereka tidak akan menjadi korban.

Studi tersebut juga menemukan bahwa secara global, delapan dari 10 remaja berusia 18 tahun percaya bahwa anak muda terancam mengalami pelecehan seksual atau dimanfaatkan secara online. Dan lima dari 10 orang menduga teman mereka berpartisipasi dalam perilaku berisiko ini saat menggunakan internet.

Associate Director Perlindungan Anak UNICEF Cornelius Williams mengatakan studi Perils and Possibilities: Growing up online didasarkan pada jajak pendapat internasional terhadap lebih dari 10.000 remaja berusia 18 tahun dari 25 negara dan mengungkap perspektif anak muda atas risiko yang mereka hadapi dengan tumbuh dewasa di dunia yang semakin terhubung.

“Internet dan telepon seluler telah mengubah akses anak muda terhadap informasi, tapi hasil jajak pendapat menunjukkan betapa seriusnya risiko pelecehan online untuk anak perempuan dan lelaki,” katanya dalam siaran pers, Selasa (7/8/2016).

Secara global, lanjutnya, satu dari tiga pengguna internet adalah anak-anak. Temuan ini merupakan masukan penting dari anak-anak muda itu demi menyerukan suara kaum remaja yang membutuhkan bantuan mengatasi kekerasan, eksploitasi dan pelecehan online.

“Kami ingin memastikan bahwa anak-anak mendapat keuntungan penuh dari internet dan telepon selular,” ungkapnya.

Laporan baru ini menemukan secara global kaum remaja tampak percaya diri dengan kemampuan mereka untuk tetap aman, dengan hampir 90% responden yakin mereka dapat menghindari bahaya online. Sekitar enam dari 10 orang mengatakan bertemu dengan orang baru secara online sangat penting bagi mereka, tapi hanya 36% yang yakin bisa mendeteksi jika orang berbohong mengenai identitas mereka.

Lebih dari dua pertiga remaja perempuan, lanjutnnya, 67% setuju mereka akan merasa khawatir jika menerima komentar-komentar atau permintaan seksual di internet, dibandingkan dengan 47% remaja lelaki. Ketika ancaman online muncul, lebih banyak remaja yang berkonsultasi ke teman dibandingkan dengan ke orang tua atau guru, tetapi kurang dari separuhnya setuju bahwa mereka tahu bagaimana menolong teman yang menghadapi risiko online.

“Kami meluncurkan kampanye #ReplyforAll untuk menempatkan remaja di pusat sebagai pembawa pesan dan advokasi untuk menjaga diri mereka tetap aman online,” bebernya.

Anak-anak dan remaja akan diminta untuk memberi masukan mengenai cara terbaik merespons kekerasan atau risiko online dan meningkatkan kesadaran di antara teman melalui media sosial. Upaya ini didukung oleh Aliansi Global WePROTECT, yang didedikasikan untuk mengakhiri eksploitasi seksual anak-anak online melalui aksi nasional dan global.

“Kami juga menyerukan kepada pemerintah di setiap negara untuk mematangkan respons terkoordinasi antar sistem peradilan kriminal termasuk sektor penegak hukum dan kesejahteraan anak, pendidikan, kesehatan serta Teknologi Komunikasi Informasi (ICT), serta masyarakat madani, untuk lebih melindungi anak-anak dari pelecehan seksual dan eksploitasi online,” tegasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

unicef kekerasan anak kekerasan seksual Pelecehan Seksual
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top