Kaltim Targetkan Bebas Lokalisasi Prostitusi di 2019

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menargetkan Kaltim bebas lokalisasi prostitusi pada 2019.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 28 Februari 2016  |  21:00 WIB
Kaltim Targetkan Bebas Lokalisasi Prostitusi di 2019
Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek. - Antara

Bisnis.com, SAMARINDA - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menargetkan Kaltim bebas lokalisasi prostitusi pada 2019.

Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mengatakan untuk menuju Kaltim bebas lokalisasi prostitusi pada 2019 dengan melakukan tahapan penutupan lokalisasi di KM 10 Loa Janan dan di Simpang Kitadin kabupaten Kutai Kartanegara.

Pencanangan Kaltim bebas lokalisasi prostitusi ini dihadiri oleh Menteri Sosial RI Khofifah Inda Parawansa dan Bupati Kukar Rita Widyasari serta pihak dari kepolisian dan TNI serta sejumlah tokoh masyarakat di Kaltim.

Penutupan lokalisasi dilakukan secara bertahap dengan mengedepankan langkah agar tidak menimbukan keributan. "Harus dilakukan sosialisasi terlebih dahulu, perlu ada pendekatan antar semua pihak dan semuanya itu harus terencana dengan matang," ujarnya dalam laman resmi Pemprov, Minggu (28/2/2016).

Persoalan kemiskinan sudah menjadi faktor utama para Wanita Tunas Susila (WTS) untuk mencari makan dan hidup di Kaltim. Apalagi, di Kaltim sudah dikenal sebagai daerah yang sangat terbuka dalam memberikan kehidupan yang layak.

"Persoalan seperti itu harus segera di selesaikan. Kita harus temukan bagaimana solusinya. Dengan penutupan ini, tidak usah kawatir. Pemerintah sudah memberikan jaminan hidup. Kita lakukan pembinaan dan pelatihan agar memiliki keterampilan berusaha. Yang jelas, dengan penutupan ini, para pelaku akan diberdayakan untuk meningkatkan taraf hidupnya," katanya.

Menurut Awang, setiap penutupan lokalisasi biasanya diwarnai dengan keributan seperti di Kalijodo Jakarta dan Dolly Jawa Timur. Namun, berbeda dengan Kaltim yang penutupan lokalisasinya tidak diwarnai dengan keributan.

"Alhamdulillah, tidak ada keributan. Kaltim tetap aman dan kondusif karena ada jaminan hidup buat para pelaku. Kita tutup lokalisasi dan langsung kita berikan aktivitas khusus kepada para pelaku (eks WTS) agar mandiri dengan melakukan pekerjaan seperti menjahit, memasak, kecantikan dan kegiatan lainnya yang diinginkan para pelaku," ucap Awang.

Dia menambahkan di Kaltim ini masih terdapat 35 lokalisasi dengan jumlah WTSnya sebanyak 4.035 WTS. Pihaknya berharap setelah pencanangan penutupan lokalisasi secara bertahap ini, Kaltim akan bebas prostitusi 2019 sejalan dengan pencanangan gerakan Indonesia bebas lokalisasi prostitusi 2019. ()

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kaltim, lokalisasi, prostitusi

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top