Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menantu Ratu Atut: Golkar Sejak Awal Tolak Pembentukan Bank Banten

Adde Rosi Khaerunisa, wakil ketua DPRD Banten yang diperiksa KPK mengatakan fraksinya yaitu fraksi partai Golkar sejak awal telah menolak pembentukan bank daerah di Banten.
Eka Chandra Septarini
Eka Chandra Septarini - Bisnis.com 14 Desember 2015  |  14:44 WIB
Menantu Ratu Atut: Golkar Sejak Awal Tolak Pembentukan Bank Banten
Anggota DPRD Banten periode 2014-2019 Adde Rosi Khaerunisa menjawab pertanyaan wartawan usai diperiksa KPK terkait kasus suap anggota DPRD Banten di Gedung KPK, Jakarta, Senin (14/12/2015). - Antara/Rivan Awal Lingga
Bagikan

Kabar24.com, JAKARTA -- Adde Rosi Khaerunisa, wakil ketua DPRD Banten yang diperiksa KPK mengatakan fraksinya yaitu fraksi partai Golkar sejak awal telah menolak pembentukan bank daerah di Banten.

"Memang saya sampaikan, dari awal Fraksi Golkar memang sudah menolak Bank Banten," ujar Adde, di Gedung KPK, Jakarta, Senin (14/12/2015).

Menurut Adde, lantaran telah menolak pembentukan bank tersebut, Fraksi Golkar tidak pernah mengikuti rapat pembahasan anggaran.

Adde menambahkan, pembentukan bank daerah Banten tidak memiliki kepentingan yang tinggi untuk masyarakat. Anggaran sebaiknya digunakan untuk hal lain yang lebih penting.

"Bahwa kami melihat tidak ada urgensi untuk pendirian Bank Banten pada tahun ini, tapi lebih banyak urgensinya untuk perbaikan infrastruktur di Provinsi Banten," tambah Adde.

Adde adalah menantu Ratu Atut Chosiyah. Suami Adde, Andika Hazrumy, adalah anak sulung Atut .

Adde diperiksa KPK sebagai saksi atas tersangka Direktur Utama PT Banten Global Development Ricky Tampinongkol.

Ricky diduga memberikan uang kepada SM Hartono, dan Tri Satya berkaitan dengan memuluskan pengesahan RAPBD 2016 di mana di dalamnya tercantum ada berkaitan dengan pembentukan Bank Daerah Banten.

Dari hasil operasi tangkap tangan, KPK berhasil menyita uang senilai US$11.000 dan Rp60 juta. KPK menduga pemberian suap tersebut bukan pertama kalinya dilakukan.

Ricky Tapinangkol selaku pemberi ditetapkan sebagai tersangka, ia diduga melanggar pasal 5 ayat 1 huruf a dan b atau pasal 13 UU 31/1999 diubah 20/2001.

Sedangkan SM Hartono dan Tri Satya selaku penerima ditetapkan sebagai tersangka lantaran diduga melanggar pasal 12 huruf a atau b atau pasal 11 UU 31/1999 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ratu atut suap bank Banten
Editor : Saeno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top