Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wakil Kepala Intelijen Libya Diculik

Wakil Kepala Intelijen Libya Mustafa Nuh diculik di Tripoli, Minggu (17/11/2013), kata seorang pejabat keamanan kepada AFP, ketika keadaan tegang di Ibu Kota Libya tersebut setelah kekerasan mematikan pada akhir pekan lalu.
Sepudin Zuhri
Sepudin Zuhri - Bisnis.com 18 November 2013  |  00:59 WIB
Wakil Kepala Intelijen Libya Diculik
Ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, TRIPOLI - Wakil Kepala Intelijen Libya Mustafa Nuh diculik di Tripoli, Minggu (17/11/2013), kata seorang pejabat keamanan kepada AFP, ketika keadaan tegang di Ibu Kota Libya tersebut setelah kekerasan mematikan pada akhir pekan lalu.

"Wakil kepala intelijen diculik tak lama setelah kedatangannya di Tripoli dari lawatan ke luar negeri," kata pejabat yang tidak bersedia disebutkan namanya itu.

Ketika dihubungi AFP, satu sumber intelijen mengkonfirmasi bahwa Nuh "hilang", tetapi dia tidak bisa memberikan penjelasan terinci lebih lanjut.

Saluran televisi swasta Libya al-Ahrar melaporkan penculikan itu tetapi tidak menyebutkan sumber beritanya.

Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas penculikan itu, yang terjadi ketika Tripoli mulai dilanda pemogokan tiga hari untuk berkabung atas kematian puluhan orang dalam bentrokan selama protes menentang keberadaan milisi, kekerasan paling mematikan di ibu kota itu sejak pemberontakan 2011.

Sedikitnya 43 orang tewas dan lebih dari 450 cedera dalam bentrokan tersebut, menurut data kementerian kesehatan.

Kekerasan itu meletus Jumat ketika demonstran yang menentang milisi di Tripoli ditembaki dan bentrokan tersebut berkobar hingga Sabtu.

Pemerintah baru Libya hingga kini masih berusaha mengatasi banyaknya individu bersenjata dan milisi yang memperoleh kekuatan selama konflik bersenjata yang menggulingkan Muamar Gaddafi.

Pemberontak yang menggulingkan Gaddafi dielu-elukan sebagai pahlawan karena mengakhiri kekuasaannya yang telah berlangsung selama lebih dari empat dasawarsa.

Namun, banyak dari mereka menolak tuntutan pemerintah untuk menyerahkan senjata atau bergabung dengan pasukan keamanan nasional, yang menimbulkan ancaman bagi stabilitas. (Antara)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

libya
Editor : Sepudin Zuhri

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top