Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Israel Perluas Wilayah Gaza yang Dibombardir

Israel mengumumkan memperluas serangan ke wilayah Gaza, Palestina.
Pengungsi Palestina membawa barang-barang mereka saat meninggalkan lingkungan timur menyusul perintah militer Israel untuk mengevakuasi sebagian kota di Khan Younis, Gaza Selatan Senin (22/7/2024). Bloomberg/Ahmad Salem
Pengungsi Palestina membawa barang-barang mereka saat meninggalkan lingkungan timur menyusul perintah militer Israel untuk mengevakuasi sebagian kota di Khan Younis, Gaza Selatan Senin (22/7/2024). Bloomberg/Ahmad Salem

Bisnis.com, JAKARTA - Israel mengumumkan memperluas serangan ke wilayah Gaza, Palestina. Pemberitahuan ini menyusul pemberitahuan beberapa hari lalu yang meminta penduduk wilayah selatan Palestina pergi dari rumahnya seiring klaim hendak menyerang pejuang Hamas.

Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan pasukan akan memperluas serangan darat dan bahwa tanah. Wilayah yang dikuasai Israel di Gaza akan diubah menjadi zona penyangga. Warga di dan sekitar Rafah, kota utama di selatan, melaporkan serangan udara besar-besaran pada Rabu pagi.

"Pengeboman dari udara, laut, dan darat tidak berhenti hingga pagi," kata Hesham Al-Shaer, yang berada di wilayah barat laut Rafah dikutip dari Bloomberg, Rabu (2/4/2025).

Israel akan membawa divisi tentara baru ke Gaza, kata radio Kan, milik negara. Bloomberg telah meminta konfirmsi ke pihak Pertahanan Israel tentang penambahan pasukan untuk menyerang Gaza. Biasanya setiap pasukan baru terdiri dari 10.000 tentara atau lebih.

Pada hari Senin, Israel meminta warga Palestina untuk meninggalkan wilayah di Gaza selatan, termasuk Rafah. Warga diminta untuk pindah ke Al Mawasi di dekat pantai Mediterania.

Israel menghentikan aliran bantuan ke Gaza dan melanjutkan serangan udara serta operasi darat terbatas bulan lalu setelah gencatan senjata yang dimulai pada pertengahan Januari gagal. Pejabat Israel mengatakan serangan mereka tidak akan berhenti sampai Hamas membebaskan semua 59 sandera yang tersisa dan meletakkan senjata.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan dia akan menggunakan diplomasi dan kekuatan militer untuk membebaskan para sandera — sekitar 24 di antaranya diperkirakan masih hidup —. Dia mengatakan serangan Israel memberi lebih banyak tekanan pada Hamas, yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh AS dan banyak negara lain, untuk mempertimbangkan pembebasan tawanan.

Negosiasi sedang berlangsung melalui mediator Qatar, Mesir, dan AS untuk gencatan senjata baru, dengan Hamas menawarkan untuk membebaskan lima sandera yang masih hidup untuk gencatan senjata selama 50 hari. Israel mengajukan tawaran balasan yang mencakup tuntutan pembebasan 11 sandera pada hari pertama gencatan senjata selama 40 hari.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper