Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Saudara Putri Diana Buka Suara soal Kate Middleton, Khawatir soal "Kebenaran" Ini

Saudara Putri Diana ikut buka suara mengenai kabar hilangnya Kate Middleton.
Kate Middleton dengan anting murahnya/dailymail
Kate Middleton dengan anting murahnya/dailymail

Bisnis.com, JAKARTA - Hilangnya Kate Middleton menjadi sorotan dunia, terlebih sejak beredar foto editan di Hari Ibu pada 10 Maret 2024 lalu.

Teori konspirasi pun terus bermunculan, salah satunya menyatakan Kate "sengaja dihilangkan" untuk sebuah alasan.

Masyarakat Inggris pun sempat berspekulasi bahwa hilangnya Kate ini berkaitan dengan rumor perselingkuhan Pangeran William dengan Rose Hanbury.

Rumor lain juga mengatakan bahwa kerajaan sedang mempersiapkan tahta Pangeran William, karena Raja Charles III sedang sekarat.

Beredarnya rumor-rumor liar tentang hilangnya Kate ini kemudian membuat saudara Putri Diana, Earl Charles Spencer, angkat bicara.

Melansir dari E! News, Earl Charles Spencer membandingkan pengawasan media terhadap Putri Diana sebelum kematiannya pada tahun 1997 dengan wacana online baru-baru ini seputar menantu perempuannya, Kate Middleton, yang telah menjadi sasaran teori konspirasi di tengah jedanya dari tugas publik.

Meskipun keadaan jauh lebih buruk pada jaman dahulu, namun ia mengaku khawatir tentang kebenaran yang bisa terungkap.

"Saya khawatir tentang apa yang sebenarnya terjadi," ucapnya kepada BBC pada hari Minggu bersama Laura Kuenssberg, dalam sebuah wawancara yang dirilis 17 Maret 2024.

Charles kemudian mengungkapkan bahwa tahun 1997 lebih berbahaya, di mana kematian saudarinya itu dinilai sangat mengejutkan dunia.

“Jika saya melihat kembali ke tahun ’97 dan kematian Diana, saya pikir itu sangat mengejutkan, keadaan kematiannya sangat mengejutkan, sehingga membuat industri yang mendukung paparazzi benar-benar mempertimbangkan dengan lebih hati-hati apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan,"

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa pada saat itu, banyak pihak tidak langsung merasa percaya tentang apa yang terjadi.

"Bukan karena mereka mempunyai penilaian moral, namun karena hal tersebut tidak dapat diterima oleh masyarakat," pungkasnya. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper