Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Dokter Magang di Korea Selatan Mogok Kerja Tuntut Kenaikan Gaji dan Beban Kerja Berlebih

Dokter magang di Korea Selatan melakukan aksi mogok kerja menuntut beban kerja yang berlebih serta pemberian upah yang dinilai sangat rendah.
Para dokter dan pekerja medis mengambil bagian dalam aksi protes terhadap rencana untuk menerima lebih banyak siswa di sekolah kedokteran, di depan Kantor Kepresidenan di Seoul, Korea Selatan, 21 Februari 2024. REUTERS/Kim Soo-Hyeon
Para dokter dan pekerja medis mengambil bagian dalam aksi protes terhadap rencana untuk menerima lebih banyak siswa di sekolah kedokteran, di depan Kantor Kepresidenan di Seoul, Korea Selatan, 21 Februari 2024. REUTERS/Kim Soo-Hyeon

Bisnis.com, JAKARTA – Dokter magang di Korea Selatan melakukan aksi mogok kerja menuntut beban kerja yang berlebih serta pemberian upah yang dinilai sangat rendah. Aksi tersebut dilakukan karena tidak adanya tindak lanjut dari pemerintah.

Sebanyak 7.800 dokter magang di Korea Selatan tengah mengancam untuk mengundurkan diri karena kurangnya perhatian pemerintah atas beban kerja yang berlebih dan pengupahan yang rendah untuk para dokter.

Salah satu dokter magang yang mengikuti aksi, Ryu Ok Hada mengatakan tuntutan tersebut dilakukan agar para dokter dapat bekerja lebih baik.

“Sistem medis di Korea Selatan saat ini dijalankan dengan membuat para dokter magang yang murah terus bekerja keras,” ungkap Ryu Ok Hada, salah satu dokter magang yang mengikuti aksi mogok kerja dilansir dari Reuters (26/02/2024).

Berdasarkan data Korean Intern Resident Association, dokter magang di Korea Selatan bekerja lebih dari 100 jam dalam sepekan. Catatan itu berbanding jauh jika dibandingkan dengan dokter magang di Amerika Serikat yang bekerja kurang dari 60 jam dalam sepekan.

Selain itu, gaji yang didapat hanya sebesar 2 juta  sampai dengan 4 juta won  atau setara dengan US$1500 sampai dengan US$$3000 dalam sebulan.

Dilansir dari American Medical Association, hal ini juga jauh berbeda jika dibandingkan dengan pendapatan rata-rata penduduk AS pada tahun pertama yakni sebesar US$5000 per bulan.

Pemerintah Korea Selatan sebelumnya menyatakan bahwa negaranya memerlukan lebih banyak staf untuk meningkatkan layanan kesehatan di daerah terpencil dan memenuhi permintaan dari pasien yang terus meningkat.

Situasi ini diperkuat dengan pernyataan Perdana Menteri Han Duck-soo (23/02/2024) yang menyatakan bahwa rumah sakit umum akan tetap buka lebih lama pada akhir pekan serta hari libur untuk memenuhi permintaan pasien.

Selain itu, survei Gallup Korea merilis survei bahwa sebanyak 76% responden mendukung program pemerintah Korea Selatan untuk meningkatkan penerimaan sekolah kedokteran dibandingkan dengan memperbaiki kualitas dari para dokter magangnya.  

Berkaitan dengan hal ini, para dokter senior dan praktisi ikut serta melakukan aksi demonstrasi untuk mendesak pemerintah dalam membatalkan rencana tersebut di hari Minggu (25/02/2024).

Sejauh ini, rumah sakit di Korea Selatan belum memproses mengenai pengunduran diri massal dari para dokternya. Pemerintah Korea Selatan juga mengancam akan menangkap atau mencabut izin kerja agar para dokter magang dapat mendahulukan nyawa masyarakatnya. (Nona Amalia)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Redaksi
Editor : Muhammad Ridwan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper