Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Sengketa Laut Filipina Versus China, Pelajaran Penting Buat Indonesia

Indonesia juga menghadapi strategi gray zone China di wilayah ZEE Indonesia di perairan Natuna, sama halnya dengan Filipina.
Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kiri), dan Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI Agus Supriatna meninjau alutsista yang digunakan dalam puncak Latihan Tempur Angkasa Yudha 2016 di Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (6/10)./REUTERS-Beawiharta
Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kiri), dan Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI Agus Supriatna meninjau alutsista yang digunakan dalam puncak Latihan Tempur Angkasa Yudha 2016 di Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (6/10)./REUTERS-Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA- Sengketa laut Filipina dan China merupakan pelajaran berharga bagi Indonesia yang juga berpotensi menghadapi konflik serupa di Laut Natuna.

Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI) Johanes Herlijanto mengungkapkan pengalaman Filipina menghadapi Gray Zone China di wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Filipina merupakan pelajaran berharga bagi Indonesia.

“Pasalnya, Indonesia juga menghadapi strategi gray zone China di wilayah ZEE Indonesia di perairan Natuna,” ungkapnya dalam webinar bertajuk “China’s Gray Zone Operation in South East Asia: the Case of the Phillippines,” beberapa waktu lalu.

Webinar tersebut turut menghadirkan Profesor Renato Cruz DeCastro, Ph.D, seorang ahli Hubungan Internasional terkemuka dari Universitas De La Salle University, Filipina. Tidak hanya itu, hadir juga Adri Arlan, M. IR, pengajar pada jurusan Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta.

Profesor Renato menyebutkan bahwa China telah melakukan aktivitas yang disebut sebagai operasi “gray zone” terhadap Filipina berkali-kali sejak 1995. Menurut penjelasannya, aktivitas gray zone merupakan sebuah perang politik yang ditujukan untuk mencapai sebuah tujuan politik dari sebuah peperangan, namun tanpa harus melakukan pengerahan kekuatan militer secara masif. 

“Operasi gray zone tersebut lah yang diterapkan China kepada negara-negara yang memiliki perbatasan laut dengan China agar agresi militer tetap berada di bawah tingkat operasi laut yang sesungguhnya, dan dapat disembunyikan melalui bantahan-bantahan,” jelas Renato.

Menurutnya strategi ini merupakan pengejawantahan dari strategi perang Sun Zi, yang antara lain mengajarkan cara menang dalam peperangan tanpa harus berperang.

“Berdasarkan prinsip inilah China berupaya menekankan klaimnya di Laut Cina Selatan, antara lain dengan membangun dan melakukan militerisasi pada pulau-pulau buatan di wilayah-wilayah yang masih berada dalam sengketa dengan Vietnam da Filipina, mengirimkan kapal-kapal nelayannya ke wilayah Laut Cina Selatan, serta menugaskan kapal-kapal unit lautnya untuk melakukan berbagai maneuver seperti yang terjadi pada awal bulan Februari ini di wilayah ZEE Filipina,” lanjut Renato.

Sebagai catatan, pertengahan Februari 2023 yang lalu, pemerintah Filipina menyampaikan sebuah pernyataan bahwa sebuah kapal milik Penjaga Pantai Cina telah menembakkan laser berstandar militer kepada kapal penjaga pantai Filipina di wilayah yang disengketakan di Laut Cina Selatan.

Wilayah di mana penembakan tersebut terjadi yang merupakan bagian dari ZEE Filipina, dan karenanya Filipina menganggap kejadian di atas sebagai sebuah pelanggaran yang nyata terhadap hak berdaulat Filipina. 

Renato menilai bahwa model operasi gray zone China terlihat jelas dari manuver-manuver  terhadap Filipina dalam hampir dua dasawarsa terakhir. Di tahun 1995, militer Cina membangun sebuah pangkalan di Mischief Reef, sebuah pulau karang yang berada dalam wilayah ZEE Filipina.

Pada pertengahan 2012, kapal Angkatan Laut Filipina yang ingin menangkap delapan perahu nelayan China yang melakukan penangkapan ikan ilegal di wilayah sengketa Scarborough Shoal dihadang oleh dua kapal otoritas sipil China. Uniknya, peristiwa tersebut justru berakhir dengan penguasan de facto China atas Scarborough Shoal.

Padahal, menurut Renato, sebelumnya terjadi kesepakatan agar masing-masing pihak mundur dari wilayah dimaksud, tetapi segera setelah kapal otoritas Filipina mundur, Cina malah mengirim kapal-kapal penjaga pantai lainnya ke wilayah tersebut.

Renato menekankan bahwa operasi gray zone di atas tetap berlangsung di era pemerintahan Presiden Duterte. Padahal Duterte dikenal sebagai presiden Filipina yang cenderung membangun hubungan baik dengan koleganya dari China, Presiden Xi Jinping.

“Namun di tengah hubungan yang dekat itu, sebanyak 275 kapal nelayan China menyambangi pulau Thitu, yang berada di bawah penguasaan Filipina,” pungkas Renato. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Kahfi
Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper