Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Alasan Jack Ma 6 Bulan 'Sembunyi" di Jepang, Hindari Xi Jinping?

Jack Ma telah menghabiskan sebagian besar waktunya dari 6 bulan terakhir itu bersama keluarganya di Tokyo dan bagian lain Jepang.
Erta Darwati
Erta Darwati - Bisnis.com 01 Desember 2022  |  08:00 WIB
Alasan Jack Ma 6 Bulan 'Sembunyi" di Jepang, Hindari Xi Jinping?
Pendiri Alibaba Jack Ma menjadi pembicara di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). - ANTARA/M Agung Rajasa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pendiri Alibaba, Jack Ma telah tinggal di Tokyo, Jepang selama hampir 6 bulan setelah menghilang dari pandangan publik menyusul tindakan keras China terhadap sektor teknologi.

Miliarder itu tidak menonjolkan diri sejak tindakan keras China, termasuk regulator China yang membatalkan IPO Ant Group Ma dan mengeluarkan Alibaba dengan denda. 

Jack Ma telah menghabiskan sebagian besar waktunya dari 6 bulan terakhir itu bersama keluarganya di Tokyo dan bagian lain Jepang, bersama dengan kunjungannya ke Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Surat kabar Inggris mengatakan Ma sering mengunjungi beberapa klub di Tokyo, dan menjadi kolektor seni modern Jepang, serta menjajaki perluasan bisnisnya ke arah masa depan.

Jack Ma telah terlihat di tempat lain sejak dirinya secara efektif menghilang dari pandangan publik di China, termasuk di pulau Mallorca, Spanyol pada tahun lalu, seperti dilansir dari CNA, Rabu (30/11/2022).

Beberapa tahun terakhir, pejabat China membidik dugaan praktik anti-persaingan oleh beberapa nama besar di negara itu.

Hal itu didorong oleh kekhawatiran bahwa perusahaan internet besar telah mengendalikan terlalu banyak data dan berkembang terlalu cepat.

Sebuah laporan pada Juli lalu mengatakan bahwa Jack Ma berencana untuk menyerahkan kendali Ant Group untuk menenangkan regulator China dan menghidupkan kembali penawaran umum unit pembayaran digital.

Raksasa e-commerce miliknya, Alibaba, melaporkan pertumbuhan pendapatan yang datar pada Agustus lalu untuk pertama kalinya.

Otoritas AS telah menempatkan perusahaan tersebut dalam daftar pantauan, yang dapat membuatnya dihapus dari daftar di New York, jika tidak mematuhi perintah, yang bisa menyebabkan sahamnya merosot.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jack ma china israel
Editor : Edi Suwiknyo
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top