Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Antisipasi Cacar Monyet, China Ingatkan Warga Tidak Kontak Kulit dengan Warga Asing

China melaporkan kasus infeksi cacar monyet pertama pada Jumat (16/9/2022) di Chongqing.
Nabila Dina Ayufajari
Nabila Dina Ayufajari - Bisnis.com 19 September 2022  |  18:04 WIB
Antisipasi Cacar Monyet, China Ingatkan Warga Tidak Kontak Kulit dengan Warga Asing
Ilustrasi tangan seseorang terinfeksi virus cacar monyet atau Monkeypox - BBC
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri kesehatan China memperingatkan warganya untuk menghindari kontak kulit dengan orang asing demi mengurangi risiko tertular monkeypox atau cacar monyet.

Dilansir dari Bloomberg pada Senin (19/9/2022), China melaporkan kasus infeksi pertamanya pada Jumat (16/9/2022) di Chongqing, kotamadya di bagian barat daya negara itu.

“Pasien telah diisolasi dan risiko wabah rendah,” kata komisi kementerian kesehatan dalam sebuah pernyataan di situsnya.

Meskipun masyarakat telah diyakinkan, tetapi para pejabat di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China (CCDC) menyarankan langkah-langkah ekstrem untuk menghindari virus, yang telah menyebabkan serangan infeksi di seluruh dunia sejak wabah dilaporkan di Eropa pada Mei.

Kepala ahli epidemiologi di CCDC Wu Zunyou menyarankan kepada masyarakat di halaman Weibo resminya menerapkan gaya hidup sehat demi mencegah infeksi cacar monyet.

“Untuk mencegah kemungkinan infeksi cacar monyet dan sebagai bagian dari gaya hidup sehat kita, disarankan agar Anda tidak melakukan kontak kulit langsung dengan orang asing,” tulis Zunyou pada Sabtu (17/9/2022).

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 52.000 orang di 102 negara telah didiagnosis menderita cacar monyet, kebanyakan pria, dan sedikitnya 18 orang telah meninggal.

Diketahui, cacar monyet umumnya menyebar melalui kontak dekat, seperti menyentuh benda yang terkontaminasi atau salah satu lesi kulit yang merupakan gejala penyakit. Meskipun belum ada bukti komponen rasial.

Pendekatan tanpa toleransi China terhadap Covid-19, termasuk pembatasan perjalanan internasional pun, mungkin membatasi paparan terhadap epidemi global yang sedang berkembang. Namun, gagasan bahwa orang asing dapat menyebarkannya telah menyinggung banyak pihak.

“Pengumuman itu membuat semua orang merasa marah,” kata seorang guru dari Inggris di provinsi Shandong yang disamarkan identitasnya.

Meskipun rasisme terjadi di mana-mana, sebagian besar negara tahu hal tersebut salah, berdasarkan opini guru itu. Namun di China, warga terus menyalahkan pendatang dan ini digambarkan sebagai rasisme yang disponsori negara.

Di sisi lain, Zunyou mengambil contoh penularan masa lalu dalam membenarkan pernyataannya, dengan mengatakan penyakit itu telah menyebar dari Eropa dan Amerika Utara hingga Pasifik Barat, termasuk Australia, Singapura, Jepang, dan Thailand. Kemudian Hong Kong dan China daratan melaporkan infeksi.

“Penyebaran AIDS juga seperti ini, dan penyebaran epidemi cacar monyet yang dilaporkan saat ini serupa,” tulis Zunyou.

Unggahan blog juga memperingatkan orang-orang yang kembali dari luar negeri untuk tidak melakukan kontak kulit lkangsung dalam waktu tiga pekan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Cacar monyet china
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top