Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sri Lanka Terapkan Sistem Kode QR untuk Distribusi Bahan Bakar

Warga Sri Lanka didesak untuk tidak lagi memadati stasiun pengisian bahan bakar. Kenapa?
Anshary Madya Sukma
Anshary Madya Sukma - Bisnis.com 03 Agustus 2022  |  21:09 WIB
Sri Lanka Terapkan Sistem Kode QR untuk Distribusi Bahan Bakar
Demonstran berkumpul di luar kantor Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe saat unjuk rasa di Kolombo, Sri Lanka, Rabu (13/7/2022). Reuters - Adnan Abidi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Sri Lanka terapkan kebijakan distribusi bahan bakar berbasis sistem kode QR mulai minggu ini. Hal tersebut dilakukan guna menekan penggunaan kuota mingguan bahan bakar masyarakatnya.

Melalui peraturan ini, warga Sri Lanka didesak untuk tidak lagi memadati stasiun pengisian bahan bakar karena proses distribusi bahan bakar akan dibagikan sesuai dengan kuotanya menggunakan sistem kode QR yang sebelumnya sempat tertunda. 

Penggunaan sistem kode QR ini telah efektif dilaksanakan per senin (1/8/2022) dan serentak diterapkan di seluruh stasiun bahan bakar di Sri Lanka.

"Sistem kode QR Pass Bahan Bakar Nasional akan diterapkan mulai besok [Senin 1 Agustus 2022] di stasiun bahan bakar di seluruh pulau," jelas Menteri Tenaga dan Energi Sri Lanka Kanchana Wijesekera, dikutip pada Rabu (3/8/2022).

Wijesekera meminta agar masyarakat tidak memenuhi stasiun bahan bakar karena masyarakat akan mendapatkan jatah yang sama dan memiliki waktu seminggu penuh untuk mendapatkan kuota bahan bakar.

Penyaluran bahan bakar minyak (BBM) berada di bawah portal National Fuel Pass yang akan diprioritaskan terlebih dahulu kepada SPBU yang sebelumnya sudah mengadopsi sistem kode QR.

Sesuai jatah BBM mingguan, kendaraan roda dua akan mendapat 4 liter BBM, sedangkan roda tiga mendapat 5 liter BBM perminggunya.

Sementara kendaraan roda empat kecil termasuk mobil dan van akan dibagikan sebanyak 20 liter bahan bakar per minggunya. Sedangkan kendaraan berat seperti bus dan truk akan diberikan 40-50 liter bahan bakar permingguan.

Penggunaan Kode QR bahan bakar ini dilakukan untuk memastikan kuota bahan bakar mingguan para pengendara dapat didistribusikan secara tepat guna. Mengingat, pasca dinyatakan bangkrut Sri Lanka tidak lagi dapat mengimpor bahan bakar dalam jumlah yang memadai.

Sebelumnya, proses pengisian bahan bakar dengan menggunakan sistem kode QR ini dijadwalkan akan dimulai pada 25 Juli tetapi tertunda karena peristiwa kekurangan bahan bakar di negara tersebut.

Dalam rangka menyukseskan agenda distribusi bahan bakar dengan menggunakan kode QR, Kementerian Tenaga dan Energi sebelumnya telah terlebih dahulu menyelenggarakan proyek percontohan yang dimulai dari 21 Juli hingga 24 Juli di berbagai stasiun pengisian tertentu di Kolombo dan beberapa distrik lainnya.

Pemerintah Sri Lanka telah mengumumkan pembatasan distribusi bahan bakar selama 12 bulan ke depan dalam upaya menghadapi kekurangan pasokan bahan bakar yang parah.

Kendati proses distribusinya sudah diawasi secara ketat, World Food Programme mengatakan bahwa sisa cadangan bensin di Sri Lanka kemungkinan besar tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Sisa cadangan bahan bakar kemungkinan tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan normal. Situasi ini telah mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan sehari-hari, menghalangi kemampuan orang untuk mencari dan pergi bekerja dan mengganggu sekolah dan layanan pemerintah," kata WFP dikutip pada Rabu (3/8/2022).

Perekonomian Sri Lanka tampaknya tengah bersiap untuk berkontraksi tajam mengingat tidak tersedianya input dasar produksi, depresiasi mata uang sebesar 80 persen sejak Maret 2022, dan ditambah dengan kurangnya cadangan devisa serta  kegagalan negara untuk memenuhi kewajiban membayar utang luar negerinya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sri lanka bahan bakar krisis
Editor : Novita Sari Simamora
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top