Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bagaimana Perang Rusia Ukraina Merusak Masa Depan Anak-anak?

Semua anak-anak yang ada di Ukraina ketakutan, berlarian mencari tempat persembunyian yang aman agar tidak terkena bom dan peluru senjata.
Nabila Dina Ayufajari
Nabila Dina Ayufajari - Bisnis.com 25 Februari 2022  |  18:59 WIB
Bagaimana Perang Rusia Ukraina Merusak Masa Depan Anak-anak?
Mural Gerakan Nasional Kadet Angkatan Darat Muda di Moskwa, Rusia, Kamis (24/2/2022). Pasukan Rusia menyerang Ukraina setelah Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi untuk "demiliterisasi" Ukraina, yang memicu kecaman internasional dan ancaman AS akan "sanksi berat" lebih lanjut terhadap Moskwa. - Bloomberg/Andrey Rudakov
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Sikap Vladimir Putin, Presiden Rusia yang menyatakan perang untuk menginvasi Ukraina telah memberikan dampak buruk bagi kehidupan anak-anak di Ukraina.

Tindakan Putin bertujuan untuk melindungi milisi pro-Moskow yang berniat memisahkan dua wilayah dari Ukraina, yaitu Donetsk dan Luhansk. Akibat perang Rusia-Ukraina, banyak dampak buruk yang terjadi. Salah satunya, kondisi psikososial anak-anak di Ukraina yang menjadi perhatian UNICEF (United Nations Children's Fund).

Melansir dari Foreign Policy, Jumat (25/2), pada awal Februari, Sasha yang berumur 12 tahun dan kakak laki-lakinya, Sergey yang berumur 16 tahun, sedang dalam perjalanan ke tempat latihan sepak bola, lalu mereka mendengar senjata otomatis ditembakkan ke dekat rumahnya di desa garis depan Krasnohorivka, Ukraina.

“Kami harus berlari pulang seperti yang selalu kami lakukan ketika mereka menembak. Saya suka bermain di luar, tetapi saya tidak pernah tahu apakah seseorang akan menembak saya sampai mati,” kata Sergey

Menurut Kantor PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) untuk Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), Sergey dan saudara-saudaranya termasuk di antara 378.000 anak membutuhkan perlindungan dan bantuan di garis depan Ukraina.

Setelah hampir 8 tahun konflik yang membara, anak-anak tetap berada di antara kelompok yang paling rentan dan tidak dapat meninggalkan zona perang. Bahkan mereka dapat menderita penembakan sniper intermiten, cacat, dan kematian akibat persenjataan yang tidak meledak, serta sesekali kembalinya pertempuran dengan intensitas lebih tinggi ke konflik yang telah lama dibekukan.

Pada 17 Februari, Stanytsia Luhanska, desa garis depan Ukraina, ditembaki dengan senjata berat dari wilayah Donbass yang diduduki, dan infrastruktur sipil rusak, kata Dmytro Kuleba, Menteri Luar Negeri Ukraina, di Twitter. Setidaknya tiga orang terluka dalam insiden itu dan satu peluru jatuh melalui dinding taman kanak-kanak, kata pekerja bantuan kepada wartawan di sana.

Menurut OCHA, 250.000 anak-anak sekarang secara teratur mengalami penembakan dan terpapar ranjau darat serta sisa-sisa perang yang tidak meledak sehingga membuat mereka lebih rentan terhadap cedera dan masalah kesehatan mental. 

Sementara itu, di zona perang Ukraina Timur, 12 korban sipil tercatat di antaranya anak-anak oleh Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) tahun lalu.

Sebanyak 3 anak laki-laki dan satu perempuan tewas karena ranjau darat dan sisa-sisa perang yang belum meledak, sedangkan delapan lainnya terluka selama ledakan dan penembakan. Oleh karena itu, zona ini sangat berbahaya bagi populasi termudanya yang sering terpapar ranjau saat bepergian ke dan dari sekolah.

Tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan fisik, tetapi luka psikologis yang ada semakin memburuk karena lebih banyak pasukan Rusia secara resmi memasuki daerah tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

konflik rusia senjata ukraina
Editor : Novita Sari Simamora
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top