Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ukraina Umumkan Keadaan Darurat, Warganya di Rusia Diminta Pulang

Ukraina mengumumkan keadaan darurat kemarin dan meminta warganya di Rusia untuk segera pulang, sementara Moskow mulai mengevakuasi kedutaan besarnya di Kyiv.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 24 Februari 2022  |  06:30 WIB
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy berbicara melalui telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Kyiv, Ukraina, dalam gambar selebaran yang dirilis pada (29/1/2022). - Antara /Reuters
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy berbicara melalui telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Kyiv, Ukraina, dalam gambar selebaran yang dirilis pada (29/1/2022). - Antara /Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Ukraina mengumumkan keadaan darurat kemarin dan meminta warganya di Rusia untuk segera pulang, sementara Moskow mulai mengevakuasi kedutaan besarnya di Kyiv sebagai pertanda serangan militer Rusia habis-habisan.

Penembakan meningkat di jalur kontak di Ukraina timur setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui kemerdekaan dua wilayah pemberontak yang didukung Moskow minggu ini.

Dia juga telah memerintahkan pengerahan pasukan Rusia sebagai "penjaga perdamaian".

Konvoi peralatan militer termasuk sembilan tank dilaporkan bergerak menuju Donetsk Ukraina timur dari arah perbatasan Rusia, menurut seorang saksi mata.

Akan tetapi, masih belum ada indikasi yang jelas apakah Putin akan melancarkan serangan massal ke Ukraina dengan puluhan ribu tentara yang dia kumpulkan di dekat perbatasan.

Seorang pejabat pertahanan Amerika Serikat (AS) mengatakan pasukan Rusia "sangat siap" untuk menyerang.

"Memprediksi apa yang mungkin menjadi atas langkah Rusia selanjutnya, bagaimana pergerakan separatis atau keputusan pribadi presiden Rusia, saya tidak bisa mengatakannya," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Kamis (24/2/2022).

Ketidakpastian dan meningkatnya sanksi terhadap kepentingan Rusia oleh Washington serta sekutunya telah mengguncang pasar keuangan, minyak dan saham hingga gandum.

Nilai tukar Rubel jatuh sekitar 3 persen karena Uni Eropa memasukkan daftar hitam anggota parlemen Rusia selain membekukan aset mereka dan melarang perjalanan ke luar negeri.

Sedangkan, Washington menargetkan proyek pipa gas besar dari Rusia dan London menargetkan utang Rusia.

"Hari ini saya telah mengarahkan pemerintahan saya untuk menjatuhkan sanksi pada Nord Stream 2 AG dan pejabat perusahaannya," kata Presiden AS Joe Biden, merujuk pada perusahaan yang membangun jalur pipa tersebut.

Gedung Putih mengatakan sanksi tidak memengaruhi mantan kanselir Jerman Gerhard Schroeder, yang telah memimpin komite pemegang saham Nord Stream sejak 2005.

Harga minyak naik, sementara saham di Wall Street tergelincir di tengah berita tentang pengumuman keadaan darurat di Ukraina.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rusia ukraina Joe Biden
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top