Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Hari Antikorupsi Sedunia, Mengapa Jokowi Tak Laporkan Hadiah Jeruk 3 Ton ke KPK?

Jokowi tidak melaporkan hadiah jeruk 3 ton dari petani asal Kabupaten Karo, Sumatra Utara, KPK. Mengapa?
Newswire
Newswire - Bisnis.com 09 Desember 2021  |  09:53 WIB
Hari Antikorupsi Sedunia, Mengapa Jokowi Tak Laporkan Hadiah Jeruk 3 Ton ke KPK?
Presiden Jokowi menerima 3 ton oleh-oleh buah jeruk dari warga Karo di istana kepresidenan Jakarta, Senin (6/12/2021). - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Joko Widodo atau Jokowi tidak melaporkan hadiah jeruk 3 ton dari petani asal Kabupaten Karo, Sumatra Utara, kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mengapa?

Seperti diketahui, hari ini adalah peringatan Hari Antikorupsi Sedunia. Peringatan tahunan ini  untuk meningkatkan kesadaran publik agar bersikap antikorupsi.

Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara, Faldo Maldini menyebut, bahwa Jokowi sudah membayar jeruk tersebut.

"Presiden menyerahkan sendiri pembayaran jeruk tersebut di dalam goodybag. Beliau bilang (sebagai) gantinya. Dapat dilihat sendiri, silakan dicek di videonya," ujar Faldo lewat keterangan tertulis, Kamis (9/12/2021).

Menurut dia, Presiden Jokowi tentu akan taat melapor jika barang yang diterimanya merupakan bentuk gratifikasi. Jokowi misalnya pernah melapor ke KPK saat mendapat gitar dari grup band Metallica pada 2013.

"Namun, ini kan pemberian dari rakyat kecil, petani, yang sangat mencintai beliau. Tentu lebih elok dibayar saja, dibeli saja, ketimbang dibawa-bawa ke KPK. Nanti, petani sedih. Ada kepantasan lah dalam bernegara," ujar Faldo.

Seperti diketahui, perwakilan petani dari Desa Liang Melas Datas, Kabupaten Karo, Sumatera Utara mengirim 3 ton jeruk untuk Jokowi dengan menggunakan truk ke Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 6 Desember 2021.

Aksi para petani tersebut dilakukan dalam rangka meminta pemerintah memperbaiki jalur distribusi di kampung mereka. Para petani merugi karena jalan rusak. Biasanya, seperempat dari jeruk yang diantar ke pasar rusak karena jalan dipenuhi lumpur.

Faldo berterima kasih kepada media yang sangat jeli dan terus mengawasi etika dan aturan yang mengikat pejabat publik.

"Sampai soal jeruk pun tidak luput dari perhatian rekan-rekan. Kami kira semangat ini perlu terus dijaga, untuk mencapai sebuah tata kelola pemerintahan yang bersih," ujar Faldo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi korupsi Hari Antikorupsi

Sumber : Tempo.Co

Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top