Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Panas! AS Sebut Rusia Siap Lakukan Serangan ke Ukraina

Sebelumnya Ukraina menuduh Rusia mengerahkan kendaraan lapis baja berat, sistem peperangan elektronik, dan puluhan ribu tentara di sepanjang perbatasan negara itu.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 02 Desember 2021  |  07:10 WIB
Bendera Rusia  - Reuters
Bendera Rusia - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Rusia berencana melakukan serangan agresif terhadap Ukraina, menurut Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken ketika ketegangan antara Washington dan Moskow terus meningkat sebelum pertemuan tingkat tinggi minggu ini.

Usai menghadiri pertemuan para menteri Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Riga, Latvia kemarin, Blinken mengatakan Amerika Serikat, "Sangat prihatin dengan bukti bahwa Rusia telah membuat rencana untuk mengambil tindakan agresif yang signifikan terhadap Ukraina."

Sebelumnya Ukraina menuduh Rusia mengerahkan kendaraan lapis baja berat, sistem peperangan elektronik, dan puluhan ribu tentara di sepanjang perbatasan negara itu. Langkah itu merupakan peningkatan kapasitas militer Rusia kedua sepanjang tahun ini.

Blinken mengatakan kepada wartawan bahwa AS tidak tahu apakah Presiden Rusia Vladimir Putin telah membuat keputusan untuk menyerang Ukraina.

“Kami tahu bahwa dia menempatkan kapasitas untuk melakukannya dalam waktu singkat, jika dia memutuskan demikian,” kata diplomat AS itu seperti dikutip Aljazeera, Kamis (2/12).

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova juga mengatakan sebelumnya bahwa staf kedutaan AS di Moskow telah diusir sebagai pembalasan nyata atas tindakan AS terhadap 27 diplomat Rusia yang diminta untuk meninggalkan AS.

Meskipun ada upaya awal tahun ini untuk meredakan ketegangan antara Washington dan Moskow, namun hubungan itu berada di bawah tekanan yang meningkat di tengah kekhawatiran Barat tentang penumpukan pasukan Rusia di dekat Ukraina.

Pada 2014, Moskow mencaplok Krimea dari Kyiv, sementara kelompok separatis yang didukung Rusia merebut sebagian wilayah di timur Ukraina sehingga memicu konflik yang terus membara hingga hari ini.

Pada awal pekan ini, Putin mengatakan di sebuah forum di Moskow bahwa setiap perluasan infrastruktur militer NATO di Ukraina adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar. Presiden Rusia itu menekankan bahwa negaranya akan mengupayakan jaminan keamanan yang andal dan jangka panjang.

"Dalam sebuah dialog dengan Amerika Serikat dan sekutunya, kami menegaskan untuk membuat perjanjian khusus untuk melarang gerakan NATO lebih lanjut ke arah timur dan penyebaran sistem senjata yang mengancam kami di sekitar wilayah Rusia,” kata Putin.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengatakan Kyiv membutuhkan pembicaraan langsung dengan Moskow. Tujuannya untuk mengakhiri ketegangan dan menghentikan konflik di timur negara itu.

Ukraina bukan anggota NATO, tetapi Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba meminta aliansi keamanan transatlantik itu menyusun paket pencegahan dan meningkatkan kerja sama militer dengan Ukraina untuk mencegah serangan Rusia.

Pejabat Rusia sebelumnya mengatakan sikap Moskow terhadap Ukraina adalah murni bersifat defensif dan menuduh Kyiv berencana untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai pemberontak pro-Rusia di Ukraina timur. Akan tetapi para pejabat Ukraina telah membantah tuduhan itu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat rusia

Sumber : Aljazeera

Editor : Andhika Anggoro Wening

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top