Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AHY vs Puan Maharani, dan Elektabilitas Mentereng ‘Anak Kos’ PDIP Ganjar Pranowo

Puan disebut terkendala elektabilitas yang masih rendah. Meski begitu, dia bisa diperhitungkan untuk dicalonkan jika tren elektabilitasnya terus meningkat.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 08 Juni 2021  |  13:00 WIB
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berbincang dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. - Antara\r\n
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berbincang dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. - Antara\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Dianggap sebagai putri dan putra mahkota, nama Puan Maharani dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) disebut-sebut potensial maju di Pilpres 2024.

Puan Maharani adalah cucu dari Presiden RI pertama Sukarno dan putri Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri, yang kini menjabat Ketua Umum PDI Perjuangan.

Adapun, AHY merupakan putra sulung Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, pendiri Partai Demokrat.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno mengatakan, bahwa politik trah ini masih mempengaruhi pemilih.

Hasil survei teranyar mencatat, faktor ketokohan masih menjadi alasan masyarakat memilih partai.

"Orang memilih PDIP, karena ada Jokowi, karena ada Megawati, dan karena trah Sukarno. Begitu juga dengan pemilih Partai Demokrat yang melihat figur SBY," kata Adi, Senin (7/6/2021) malam.

Meski begitu, Adi menilai saat ini trah Sukarno di PDIP lebih kuat ketimbang trah SBY di Demokrat. Dari sisi figur, PDIP memiliki dua figur kunci yaitu Sukarno dan Megawati, sedangkan figur kunci Demokrat hanya SBY.

Adi juga mengatakan, PDIP merupakan salah satu partai paling tua, selain Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan. Adapun, Partai Demokrat baru lahir pada 2004.

Di sisi lain, PDIP saat ini menjadi partai pemenang pemilu dua kali berturut-turut dengan perolehan suara hampir 20 persen.

"Kalau bicara trah politik SBY, kuatnya pada 2004 dan 2009 ketika menang pemilu, tapi setelah itu yang berkuasa PDIP. Artinya pengaruh trah politik tergantung juga dari seberapa besar dia menang pemilu," ujar Adi.

Putri Mahkota

Adi mengatakan, Puan Maharani bak putri mahkota yang memiliki karpet merah untuk dicalonkan dari partai banteng. Apalagi, penentuan calon presiden dari PDIP menjadi kewenangan penuh Megawati Soekarnoputri.

Kendati begitu, Adi menilai pengaruh Puan sebagai trah Sukarno belum begitu mentereng. Hal ini, kata dia, terbukti dari elektabilitas Puan yang masih rendah. Tingkat keterpilihan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) itu baru mencapai angka nol koma hingga satu persen.

Adi menyebut, sejumlah survei justru menunjukkan pemilih PDIP lebih menyukai Ganjar Pranowo. Namun, sosok Gubernur Jawa Tengah itu belum tentu didukung para elite partai, bahkan disebut sebagai 'anak kos' di PDIP.

"PDIP akan terjebak pada satu perjudian yang luar biasa. Ada Ganjar yang populer dan elektabilitasnya tinggi, tapi bukan trah, di saat bersamaan ada Puan yang di 2024 akan memasuki masa keemasan karier politik yang tak bisa dilepaskan begitu saja," ujarnya.

Berbeda dengan Puan, Adi melanjutkan, jalan AHY menjadi calon yang disodorkan Partai Demokrat terbuka lebar. Selain menjadi putra mahkota, AHY juga memiliki bekal elektabilitas lumayan. Namanya bertengger setidaknya di tujuh besar dalam beberapa survei.

"Kemungkinan besar bisa maju dari Demokrat karena dia punya bargain, sebagai ketua umum dan memiliki elektabilitas," kata Adi.

Trah Masih Relevan?

Meski begitu, Adi menyebut Demokrat memiliki pekerjaan rumah meyakinkan partai-partai untuk berkoalisi. Ia juga memprediksi partai berlogo Mercy ini akan kesulitan, jika mematok AHY sebagai calon presiden.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menilai, politik trah tidak akan terlalu berpengaruh dalam pemilihan calon presiden.

Dia mencontohkan pengalaman di Pilpres 2004 dan 2009, ketika Megawati kalah oleh SBY yang bukan datang dari trah tertentu.

Pangi juga menyinggung Pilpres 2014 dan 2019 yang dimenangkan Joko Widodo atau Jokowi. Padahal, kata dia, Jokowi juga bukan dari kalangan trah ningrat, melawan Prabowo yang lebih punya nama besar sang ayah, begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo.

"Ini menjadi pertanyaan apakah trah masih relevan, jangan-jangan masyarakat kita kian tercerahkan, kembali ke kapabilitas, jam terbang, dan kepiawaian masing-masing calon," katanya.

Ditilik dari elektabilitas sosok AHY lebih unggul ketimbang Puan. Dari klaster ketua umum partai politik, kata Pangi, AHY termasuk dua besar dengan elektabilitas di bawah Prabowo Subianto.

Puan disebut terkendala elektabilitas yang masih rendah. Meski begitu, Puan bisa diperhitungkan untuk dicalonkan jika tren elektabilitasnya terus meningkat.

"Ada dewa elektoral yang namanya tren, ini justru akan berbahaya kalau sekarang tidak terlalu bagus, tapi trennya bagus, bisa menyalip elektabilitas papan atas," kata Pangi.

Pangi menilai Puan maupun AHY masih sulit untuk menjadi calon presiden. Mereka dinilainya lebih berpeluang menjadi calon wakil presiden ketimbang capres.

"Tetapi lagi-lagi perjalanan waktu dalam politik cuacanya bisa berubah, sangat dinamis, kita tidak pernah menyangka Sandiaga Uno dan Kiai Ma'ruf Amin menjadi cawapres, tidak masuk matematika rumus politik pada masa itu," ujar Pangi.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ganjar pranowo puan maharani agus harimurti

Sumber : Tempo.co

Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top