Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Enggan Berbagi Vaksin Covid-19, Ini Alasan Inggris Belum Ikuti Langkah AS

Presiden AS Joe Biden menguraikan rencana untuk membagikan 25 juta surplus vaksin Covid-19 secara global sedangkan Prancis juga mengatakan akan menyumbangkan dosis ke Senegal.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 05 Juni 2021  |  19:37 WIB
Doreen Vickers, 83 tahun, menunggu saat seorang tenaga kesehatan mengisi jarum suntik dengan dosis vaksis Oxford/AstraZeneca Covid-19 di Appleton Village Pharmacy, di tengah penyebaran penyakit virus corona (COVID-19), di Widnes, Inggris, Kamis (14/1/2021). - Antara/Reuters
Doreen Vickers, 83 tahun, menunggu saat seorang tenaga kesehatan mengisi jarum suntik dengan dosis vaksis Oxford/AstraZeneca Covid-19 di Appleton Village Pharmacy, di tengah penyebaran penyakit virus corona (COVID-19), di Widnes, Inggris, Kamis (14/1/2021). - Antara/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Kesehatan Inggris menegaskan belum akan mengikuti langkah Amerika Serikat untuk menyumbangkan pasokan vaksin Covid-19 ke negara lain. 

Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock mengatakan pihaknya akan memprioritaskan vaksinasi Covid-19 anak-anak di Inggris terlebih dahulu. Setelah itu terpenuhi, jelas dia, Inggris baru akan menyumbangkan dosis vaksin Covid-19 ke negara-negara lain di seluruh dunia.

Regulator obat Inggris pada hari Jumat menyetujui vaksin Pfizer/BioNTech, untuk digunakan pada anak berusia 12-15 tahun, tetapi badan kesehatan dunia memperingatkan jika negara-negara kaya memprioritaskan anggota populasi mereka yang berisiko rendah daripada memperluas akses secara global, maka akan berisiko memunculkan bencana.

"Tugas pertama saya sebagai menteri kesehatan untuk Inggris adalah untuk memastikan bahwa Inggris dilindungi dan aman," kata Hancock ketika ditanya apakah akan memprioritaskan vaksinasi remaja atau orang-orang yang lebih rentan secara global.

Hancock telah menjamu para menteri kesehatan dari negara-negara Kelompok G7 bertemu di Universitas Oxford, tempat vaksin Covid-19 AstraZeneca dikembangkan, menjelang pertemuan para pemimpin G7 minggu depan.

Para menteri menyetujui serangkaian standar baru untuk meningkatkan uji klinis, serta dukungan untuk sumbangan vaksin corona ketika keadaan domestik memungkinkan.

Presiden AS Joe Biden menguraikan rencana untuk membagikan 25 juta surplus vaksin Covid-19 secara global pada hari Kamis, sementara Prancis juga mengatakan akan menyumbangkan dosis ke Senegal.

Tetapi meskipun Inggris telah memberikan vaksin Covid-19 pertama kepada tiga perempat orang dewasa, dan sepenuhnya memvaksinasi setengah dari populasi orang dewasa, Hancock mengatakan Inggris belum dalam posisi untuk menyumbangkan vaksin.

Inggris telah memesan lebih dari 500 juta dosis vaksin Covid-19 untuk 67 juta penduduknya, yang sebagian besar adalah vaksin dua suntikan.

"Ketika Inggris memiliki dosis vaksin berlebih, maka, jika kami tidak membutuhkannya, kami akan memastikan vaksin itu tersedia untuk orang lain. Tetapi saat ini kami tidak memiliki dosis berlebih, karena segera setelah dosis tersedia untuk Inggris, kami menyuntikkannya ke lengan orang-orang Inggris," kata Hancock.

Joe Biden juga telah menyuarakan dukungan untuk pengabaian paten vaksin Covid-19 untuk meningkatkan produksi vaksin dan memungkinkan distribusi suntikan yang lebih adil, tetapi Inggris dan beberapa negara Eropa telah menyatakan keberatan.

Hancock mengatakan Inggris telah mengambil langkah besar dengan membuat dosis vaksin Oxford/AstraZeneca tersedia dengan biaya terjangkau, mengutip bagaimana setengah miliar dosis vaksin telah dikirimkan secara global.

"Yang benar adalah Anda tidak perlu pengabaian IP [Intellectual Property] untuk memberikan vaksin, tanpa biaya apapun untuk hak kekayaan intelektual, Anda hanya bisa mendapatkan dan melakukannya. Kita tidak perlu mengubah aturan kekayaan intelektual karena itu adalah aturan penting untuk investasi masa depan dalam vaksin Covid-19 masa depan," ujar Matt Hancock.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inggris Vaksin Covid-19

Sumber : Tempo/Reuters

Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top