Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penyidik KPK Novel Baswedan Tak Gentar Memberantas Korupsi

Meskipun kondisi mata kiri penyidik senior KPK itu yang tak sempurna lagi akibat disiram air keras, 11 April 2017, tapi gebrakannya dalam menangani kasus-kasus korupsi tak berkurang sedikitpun.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 12 Mei 2021  |  07:41 WIB
Penyidik KPK Novel Baswedan bersiap menjadi saksi dalam sidang kasus merintangi penyidikan perkara korupsi dengan terdakwa Lucas di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (10/1/2019). - ANTARA/Hafidz Mubarak A
Penyidik KPK Novel Baswedan bersiap menjadi saksi dalam sidang kasus merintangi penyidikan perkara korupsi dengan terdakwa Lucas di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (10/1/2019). - ANTARA/Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan dikabarkan menjadi salah satu dari 75 orang yang tak lolos Tes Wawasan Kebangssan (TWK) untuk status alih menjadi ASN.

Novel Baswedan menjadi salah satu pimpinan satgas KPK yang melakukan OTT Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo. 25 November 2020, lalu. Sebelumnya, dia terlibat dalam proses penangkapan mantan Sekretaris MA Nurhadi yang buron karena kasus suap pengurusan perkara perdata di Mahkamah Agung senilai Rp 46 miliar.

Meskipun kondisi mata kiri penyidik senior KPK itu yang tak sempurna lagi akibat disiram air keras, 11 April 2017, tapi gebrakannya dalam menangani kasus-kasus korupsi tak berkurang sedikitpun.

Anak kedua dari empat bersaudara pasangan Salim Baswedan dan Fatimah ini, dalam segala keterbatasan fisik karena perilaku aniaya terhadapnya, mampu membuat gentar para koruptor.

Dedikasinya terhadap pemberantasan korupsi di tengah berbagai upaya pelemahan KPK, tak menyurutkan sedikitpun langkahnya.

Pria kelahiran Semarang, 22 Juni 1977 yang dikenal dengan kalimat, “Berani itu tidak mengurangi umur, takut juga tidak menambah umur. Jadi, kita tidak boleh menyerah. Jangan memilih takut, karena Anda akan menjadi orang yang tidak berguna,” ini menceritakan nilai-nilai yang ditanamkan orangtuanya sejak ia kanak-kanak, yang membekas hingga saat ini.

Berikut petikannya:

Nilai-nilai apakah yang diperoleh dari lingkungan pada masa kecil Anda?

Saya hidup di lingkungan yang saat itu banyak kekurangan, tapi banyak  yang bisa dipelajari terkait rasa  peduli, mengenali dan saling memahami.  Soal kepedulian, bagaimana orang bisa peduli kalau dia tidak mengenal dan tidak paham.

Selain peduli itu, ada empati, keakraban dan tentunya saling tolong menolong gotong royong. Juga karena faktor keadaan keluarga saat itu yang kekurangan, maka hal yang kemudian dipelajari adalah nilai perjuangan, mengetahui kondisi sedang di bawah artinya harus berjuang untuk bisa bertahan dan naik.

Selain itu?

Ya, kemudian hal iru menjadi pelajaran tersendiri, juga terkait bekerja keras, karena kondisi saat itu orangtua saya sedang banyak kesulitan membuat mereka harus bekerja keras memenuhi kebutuhan anak dan keluarga. Kerja keras itu terbawa kepada kami, sampai hari ini untuk fokus, kerja keras dan melakukan sesuatu dengan tuntas.

Ini sangat mempengaruhi dalam perjalan hidup selanjutnya?

Itu mempengaruhi dalam cara pandang dan sikap untuk kehidupan kami berikutnya, ketika saya menjadi polisi dan di KPK. Selain itu, kalau dari keluarga, orangtua saya terutama ibu saya itu sangat disiplin, Apalagi, berkaitan dengan tanggung jawab dan disiplin, Ibu saya sangat keras. Akan jadi masalah serius kalau kami mengabaikannya.

Dan paling mendasar adalah Ibu saya paling benci kalau ada anaknya yang berbohong. Jadi, kalau ada anaknya yang berbohong itu akan jadi problem luar biasa.

Didikan untuk tidak berbohong dari Ibu itu sangat membekas ya?

Ya, nilai kejujuran menjadi pelajaran dalam hidup saya. Pendidikan utama yang saya pahami dari keluarga adalah kejujuran. Bapak dan Ibu saya mengajarkan soal tanggung jawab, disiplin, mengerjakan sesuatu dengan tuntas serta mau berjuang, kerja keras dan tentu saja paling utama adalah hidup harus jujur.

Pelajaran lingkungan keluarga yang juga saya serap adalah mengenai optimisme. Orangtua saya selalu bilang “kamu pasti bisa”. Mamah dan Abah doakan selalu hal demikian. Alhamdulillah, itu saya ingat selalu.

Ada cerita soal optimisme ini?

Ha-ha-ha, iya dalam banyak hal masa SMP dan SMA, saya kadang dalam beberapa hal malah kelewat  optimisme. Contohnya, ketika ujian karena saya pasti bisa, saya tidak belajar, tapi memang saya bisa mengerjalan soal-soal itu dengan baik.

Tapi, kalau belajar ya pasti hasilnya akan lebih bagus lagi. Kenapa saya  tidak punya waktu belajar? Karena di usia itu saya sudah bekerja, sehari-hari saya ke sekolah jam 6 pagi, kalau ada PR belum beres saya selesaikan di sekolah, nanti jam 13.00 sesudah pulang sekolah, saya langsung kerja di toko material milik paman.

Didikan dari orangtua mengenai kejujuran, disiplin, tanggungjawab, kerja keras, dan optimisme mempengaruhi sikap Anda saat ini?

Alhamdulillah menjadi bekal medasar untuk karier atau ketika saya (Novel Baswedan) melakukan aktivitas kerja sampai saat ini, mengambil porsi keterlibatan untuk kepentingan umum. Memperjuangkan kepentingan orang banyak.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

KPK novel baswedan

Sumber : Tempo.Co

Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top