Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kekerasan ke Warga Palestina, Arab Saudi dan UEA: Israel Kelewatan

Uni Emirat Arab, yang tahun lalu melakukan normalisasi hubungan dengan Israel, juga mengecam keras apa yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 09 Mei 2021  |  12:59 WIB
Ilustrasi - Pengunjung melintas di depan Dome of Rock (Kubah Batu), kompleks Masjid Al Aqsa, Kota Tua Yerusalem, Minggu (31/5/2020)./Antara - Reuters/Ammar Awad
Ilustrasi - Pengunjung melintas di depan Dome of Rock (Kubah Batu), kompleks Masjid Al Aqsa, Kota Tua Yerusalem, Minggu (31/5/2020)./Antara - Reuters/Ammar Awad

Bisnis.com, JAKARTA - Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menilai Israel telah bertindak kelewatan baik terkait kerusuhan yang terjadi di Masjid Al-Aqsa maupun isu penggusuran permukiman warga Palestina yang menjadi pemicunya.

Kedua negara Arab itu mengecam kerusuhan antara warga Palestina dan Kepolisian Israel di Masjid Al-Aqsa pada Jumat malam.

"Arab Saudi menolak rencana dan langkah Israel untuk menggusur puluhan warga Palestina dari rumah mereka di Yerusalem dan kemudian mengklaim kedaualatan di sana," ujar Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dalam keterangan persnya, Sabtu (8/5/2021).

Uni Emirat Arab, yang tahun lalu melakukan normalisasi hubungan dengan Israel, juga mengecam keras apa yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina. Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Khalifa Al-Marar meminta Israel untuk mengurangi ketegangan dengan Palestina.

Marar mengatakan Israel seharusnya melindungi hak-hak warga Palestina yang tinggal secara resmi di Yerusalem dan bukan malah mengusir mereka. Memperlakukan mereka secara kasar di tempat ibadah dan suci seperti Masjid Al-Aqsa, kata Marar, juga tak bisa diterima.

"Otoritas Israel harus menjalankan tanggung jawab mereka - sesuai dengan hukum internasional - untuk melindungi hak-hak warga Palestina untuk beribadah serta mencegah praktik-praktik yang justru melanggar kesucian Masjid Al-Aqsa," ujar Marar menegaskan.

Seperti diketahui, kerusuhan terjadi pada Jumat kemarin seiring dengan berkembangnya kabar bahwa warga Palestina di permukiman Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur, akan digusur. Padahal, warga Palestina menetap secara resmi di sana karena permukiman tersebut adalah bagian Palestina, bukan Israel.

Tidak terima akan rencana penggusuran itu, warga Palestina menggelar aksi protes di kawasan Masjid Al-Aqsa. Belakangan, setelah jam buka Puasa, aksi itu direspons dengan kehadiran ratusan personil Kepolisian Israel.

Kepolisian Israel menertibkan warga Palestina di lokasi kejadian dengan keras mulai dari peluru karet, gas air mata, hingga water cannon. Namun, Hal itu malah memperburuk keadaan, membuat bentrokan antar kedua pihak tak terhindarkan. Pengurus Masjid Al-Aqsa sudah mencoba untuk melerai, tetapi hasilnya nihil.

Menurut laporan Reuters, total 205 warga Palestina dan 17 personil kepolisian Israel yang luka-luka dalam bentrokan pada Jumat malam itu. Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyatakan bahwa Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kerusuhan di Masjid Al-Aqsa, termasuk soal permukiman Sheikh Jarrah.

Dia mendorong Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan atas isu itu. Sementara itu, pihak Israel merasa telah bertindak berdasarkan hukum yang berlaku.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

palestina arab saudi israel uea

Sumber : Tempo/Reuters

Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top