Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Selain SRIL, Satu Lagi Perusahaan Milik Keluarga Lukminto Berstatus PKPU

Satu persatu perusahaan milik keluarga Lukminto resmi menyandang status PKPU. Setelah PT Sri Rejeki Isman dan 3 entitas anak usahanya, PT RUM resmi berstatus PKPU Sementara.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 07 Mei 2021  |  09:39 WIB
Warga dan mahasiswa melakukan unjuk rasa menuntut penutupan PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (23/2/2018). - JIBI/Dwi Prasetya
Warga dan mahasiswa melakukan unjuk rasa menuntut penutupan PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (23/2/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Badai penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) sepertinya belum beralih dari PT Sri Rejeki Isman Tbk atau SRIL dan sejumlah perusahaan afiliasinya.

Setelah SRIL dan tiga anak usahanya yakni PT Sinar Pantja Djaja, Bitratex Industries, dan Primayudha Mandirjaya. PT Rayon Utama Makmur atau PT RUM juga resmi menyandang status PKPU untuk 44 hari ke depan.

Sidang putusan PKPU PT RUM digelar pada Kamis (6/5/2021). Salah satu putusan penting dalam sidang tersebut antara lain mengabulkan gugatan PKPU Indo Bahari Express terhadap perusahaan milik keluarga konglomerat Lukminto.

"Mengabulkan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dari Pemohon PT Indo Bahari Express," demikian bunyi putusan Pengadilan Negeri Semarang yang dikutip, Jumat (7/5/2021).

Majelis hakim dalam putusan itu juga menunjuk Eko Budi Supriyanto sebagai hakim pengawas. Adapun hakim juga mengabulkan penunjukan Alfin Sulaiman, Martin Patrick Nagel sebagai tim pengurus PKPU PT RUM.

"Menangguhkan biaya Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) ini, sampai dengan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) berakhir," tukasnya.

Dalam catatan Bisnis, keberadaan PT RUM tak bisa dilepaskan dengan upaya integrasi bisnis tekstil Sritex Group, khususnya PT Sri Rejeki Isman atau SRIL.

Profil perusahaan yang terdaftar di Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Kemenkumham tahun 2019, mengungkap relasi antara Sritex dengan RUM. 

Hampir semua jabatan-jabatan strategis di RUM diketahui diisi oleh orang-orang Sritex. Posisi komisaris utama, misalnya, terdapat nama Susyana Lukminto yang pada saat bersamaan juga menjabat komisaris utama Sritex. 

Selain Susyana, ‘orang Sritex’ lainnya seperti Megawati, Iwan Kurniawan Lukminto, dan Iwan Setiawan Lukminto juga menjabat komisaris di pabrik serat rayon itu. PT RUM dalam dokumen ini disebut bergerak di bidang industri pembuatan serat buatan dan serat stapel buatan. 

Total modal dasar senilai Rp2,75 triliun, dengan modal yang telah ditempatkan sebanyak Rp688,7 miliar. Tak hanya jabatan komisaris, perusahaan yang memiliki saham  PT RUM, juga diketahui  terafiliasi dengan Sritex, khususnya keluarga Lukminto. PT Kapas Agung Abadi (KAA) menguasai 735.000 saham atau setara Rp674,9 miliar.

Perusahaan ini semula dikendalikan keluarga Lukminto & merupakan induk perusahaan PT Sinar Pantja Djaja (SPD), sebuah perusahaan pemintalan yang diakuisisi Sritex pada 2013. Menariknya, laporan keuangan Sritex membeberkan proses akuisisi SPD juga tak bisa dilepaskan dari lingkaran keluarga Lukminto. 

Laporan ini menyebutkan bahwa pada November 2013, Sritex disebut mengambill alih PT SPD dari PT KAA dan Iwan Kurniawan Lukminto sebagai pemegang saham. Total pengambilalihan saham ini masing-masing sebanyak 104,85 juta dan 11,53 juta lembar yang merepresentasikan 90,00% dan 9,90%.

Harga pengalihan yang disepakati pada waktu itu senilai Rp6.213 per saham atau seluruhnya senilai Rp 723,05 miliar. Berbeda dengan PT Kapas Agung Abadi, Summit Rayon Companny Limited dan PT Jaya Perkasa Textile, dua perusahaan pemilik saham RUM yang masing-masing memiliki 13.500 lembar saham dan 1.500 saham, tak secara tegas berhubungan dengan SRIL.

Hanya, dalam laporan keungan SRIL, baik Sritex, PT Jaya Perkasa Textile maupun PT RUM, dikendalikan keluarga Lukminto. Laporan keuangan Sritex juga mempertegas bahwa pembangunan PT RUM  memang tak bisa dilepaskan dari ambisi Sritex dan keluarga Lukminto untuk memperkuat suplai bahan baku serat rayon produksi pemintalan SRIL.  

Perusahaan ini ditargetkan memproduksi 80.000 ton serat rayon dan mengurangi ketergantungan terhadap impor. Keberadaan RUM, bagi Sritex akan memiliki dua manfaat. Pertama, Rayon Utama Makmur (RUM) bisa mendukung kebutuhan bahan baku serat rayon. 

Apalagi saat itu, produsen serat rayon di Indonesia hanya ada dua yakni PT Indo Bharat Rayon dan PT South Pacific Viscose. Keberadaan RUM diharapkan memasok 60 persen kebutuhan produksi pemintalan Sritex. 

Kedua, selain pasokan bahan baku yang stabil, pembangunan pabrik serat rayon (PT RUM), juga bisa  memberi garansi kualitas serat rayon bagi produksi PT Sritex. Keberadaan PT RUM akan mengurangi perbedaan kualitas serat rayon untuk kebutuhan produksi, yang selama ini disuplai perusahaan yang berbeda-beda. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pkpu sri rejeki isman Lukminto
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top