Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sejarah May Day & Tuntutan Buruh yang Tak Pernah Berubah

Hari buruh internasional telah diperingati lebih dari seabad. Sayangnya nasib buruh tak berubah, mereka tetap menjadi obyek eksploitasi para pemilik modal. Terakhir adalah pemberlakuan UU Cipta Kerja, yang banyak merampas harapan dan hak para pekerja.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 01 Mei 2021  |  16:10 WIB
Ilstrasi hari buruh - Aji Denpasar
Ilstrasi hari buruh - Aji Denpasar

Bisnis.com, JAKARTA -- Tanggal 1 Mei selalu diperingati sebagai Hari Buruh Internasional atau May Day oleh semua elemen buruh di seluruh dunia. Peringatan hari buruh biasanya diwarnai dengan aksi demonstrasi dan retorika perjuangan nasib buruh yang tertindas.

Hal ini sejalan dengan kemunculan hari buruh yang memang lahir dari ketertindasan kelas pekerja oleh sistem industri yang kapitalistik pada akhir abad ke 19. 

Seperti diketahui, revolusi industri yang terjadi di Inggris pada abad ke 18 telah mengubah hubungan antara buruh dengan para pemilik modal (kapitalis).

Kekuatan kapitalisme menggurita, sementara nasib para pekerja kian dikesampingkan. Apalagi, proses revolusi industri yang kian massif di Eropa Barat dan Amerika Serikat, telah menggantikan fungsi manusia yang selama ini menjadi motor kerja industri.

Akibat revolusi itu, terjadi efisiensi besar-besaran. Upah buruh turun. Nasib buruh makin terpinggirkan. Sementara jam kerja ditambah. Tak heran Koentowijoyo, dalam buku Peran Borjuasi Dalam Transformasi Eropa, kemudian menyebut revolusi industri [beserta dinamikanya] adalah puncak peranan tradisi kaum borjuasi Inggris.

Singkat kata, berbagai perubahan yang terjadi di kehidupan buruh Eropa dan Amerika Serikat kemudian memantik gerakan protes di kalangan buruh. Sejumlah pertemuan digelar. Aksi-aksi mulai dilakukan. Puncak ketidakpuasan itu terjadi menjelang akhir abad ke 19, atau tepatnya pada 1 Mei tahun 1886.

Salah satu peristiwa terkenal yang kemudian dijadikan momentum peringatan hari huruh adalah Kerusuhan Haymarket di Chicago Amerika Serikat. Aksi ini terjadi empat hari dan menjalar ke berbagai negara bagian. Demonstrasi dan pemogokan itu melibatkan puluhan ribu bahkan ratusan ribu buruh. Mereka menuntut pemberlakuan jam kerja 8 jam.

Mogok massal para pekerja ini mendapat respons pemerintah. Namun negosiasi tak kunjung membuahkan hasil. Pada tanggal 4 Mei, mendung di kalangan pekerja terjadi, cuaca buruk membuat buruh kalang kabut, mereka berpencar. Tak dinyana, sebuah bom kemudian meledak. Satu orang terbunuh.

Ledakan bom itu malah membuat polisi semakin brutal. Mereka merespons dengan kekerasan. Tembakan diletupkan ke arah para pekerja. Alhasil banyak orang tewas dan terluka. Tak sampai disitu, upaya penangkapan terhadap buruh massif. Sebagian orang yang dianggap anarkis kemudian dihukum. 

Kelak, peristiwa ini dicatat sebagai bagian paling kelam dalam sejarah buruh dan diperingati setiap tahun sebagai hari buruh internasional atau May Day.

Semaoen dan Gerakan Buruh

Di Indonesia, ribuan kilometer dari Amerika. Bibit perlawanan terhadap hegomoni kapitalisme kolonial sebenarnya sudah muncul sejak akhir abad ke 19. Namun aksi-aksi itu cenderung sporadis.

Gerakan buruh di tanah Nusantara mendapat momentum seiring masuknya ideologi besar melalui politik etis. Sosialisme dan komunisme kemudian menjadi menu favorit aktivis pergerakan waktu itu.

Perlu dicatat, sebelum direduksi pengertiannya oleh oleh presiden daripadanya Soeharto (Orde Baru), hampir semua pemimpin pergerakan di Indonesia mengenal dan belajar ideologi tersebut. Ide-ide sosialisme telah mengilhami kaum pegerakan untuk menentang hegemoni kolonialisme yang menancap kuat.

Salah satu tokoh buruh dan pergerakan yang lahir dari situasi itu adalah Semaoen. 

Semaoen lahir pada penghujung abad ke-19, di Mojokerto, suatu daerah tak jauh dari kota pelabuhan Surabaya. Ayahnya seorang pegawai Jawatan Kereta Api. Semaoen termasuk beruntung, karena ditengah keterbatasan bangsa boemiputra, sempat mengenyam bangku sekolah meski hanya sebentar.

Dewi Yuliati sejarawan Universitas Diponegoro dalam Semaoen, Serikat Buruh dan Pers Boemipoetra Dalam Pergerakan Kemerdekaan 1914-1923 menulis ketertarikan Semaoen dalam dunia pergerakan sudah tumbuh sejak belia dan berkembang saat usia remaja.

“Saat berusia 14 tahun ia telah bergabung dengan Sarekat Islam Afdelling Surabaya,” tulis Yuliati dalam buku itu. 

Meski demikian, pemikiran ‘kritis’ Semaoen mulai muncul saat dia bergabung di Vereniging Spoor-Traam Personen (VSTP) atau organisasi buruh kereta api dan tram yang berlokasi di Surabaya. 

Kelak, di serikat buruh itu, dia bertemu dengan Henk Snevliet, mentor sekaligus seorang Belanda yang dikenal sebagai bapak komunis Hindia Belanda.

Persinggungan antara Semaoen dengan Snevliet menghasilkan dialektika antara Semaoen yang berlatarbelakang Jawa dengan pemikiran modern yang bersumber dari Marxisme.  

Artinya mulai saat itu, kata Yuliati, Semaoen tak sekadar belajar membaca dan menulis bahasa Belanda, tetapi mulai mengenal pemikiran barat yang berkembang kala itu, yakni Marxisme.

Pada tahun 1916, mengikuti jejak guru ideologisnya, Semaoen hijrah ke Kota Semarang. Di kota yang kelak dikenal sebagai “Kota Merah” itu, dia bekerja sebagai agitator serikat buruh. Ia juga menjadi penulis di sebuah media pergerakan.

Meski tercatat sebagai anggota VTSP dan mulai mempelajari pemikiran Marxisme, Semaoen tetaplah anggota Sarekat Islam. Secara politis, posisi itu cukup menguntungkan.  

Pasalnya selain memiliki legitimasi dalam dunia pergerakan, posisinya  sebagai anggota SI juga memudahkannya untuk mengembangkan dan menyebarkan gagasannya soal Islam dan Marxisme.

Apalagi saat itu, keanggotaan ganda masih lazim di tubuh SI, terutama sebelum bergulirnya “gerakan disiplin partai” yang dimotori oleh Haji Agus Salim.

Singkat cerita, gerak-gerik Semaoen mulai mempengaruhi arah ideologi SI Semarang.  Persinggungan dengan elit SI lainya tak bisa dihindarkan. Konon, ia sering berdebat ihwal arah perjuangan organisasi. Kondisi itu menjadikan hubungannya dengan elit SI lainnya renggang. 

Puncak konflik Semaoen dan elit SI Semarang terjadi pada tahun 1917. Saat itu ketua SI Semarang, Moehamad Joesoef menyerahkan posisinya kepada Semaoen. 

Setelah menerima mandat tersebut. Semaoen segera merombak jabatan di tubuh SI Semarang. Pengurus SI yang lama diganti orang yang lebih muda. Pers yang berafiliasi dengan SI yakni Sinar Djawa dihidupkan kembali, kemudian diganti namanya menjadi Sinar Hindia. Pemberitaannya pun lebih radikal. 

Mendiang Soe Hok Gie dalam skripsi yang telah dibukukan berjudul Di Bawah Lentera Merah melihat, peralihan kepengurusan itu sekaligus mengubah arah ideologis maupun basis massa SI Semarang.

“Kini, setelah kelompok Semaoen memegang kendali. Basis utama organisasi ini beralih ke rakyat kecil dan kaum buruh,” tulis Gie.

Penghancuran Gerakan Buruh

Gerakan buruh pernah mewarnai salah satu fase sejarah Indonesia. Pada masa Orde Lama, berbagai gerakan buruh bermunculan, hidup saling berdampingan, dan berkonflik.

 Hampir semua ideologi politik memiliki perwakilan buruh di Indonesia. Di kalangan Masyumi ada Serikat Buruh Islam Indonesia (SBII), golongan komunis mendirikan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), sedangkan pihak militer mendirikan Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia atau SOKSI.

Namun setelah tahun 1965 yang kemudian memunculkan Orde Baru dan Soeharto, aktivisme gerakan buruh mulai memudar. 'Penghancuran' gerakan buruh makin memuncak dengan kebijakan 'massa mengambangnya' Orde Baru.

Kebijakan ini diinisiasi oleh seorang jenderal kepercayaan Soeharto, Ali Moertopo. Kebijakan mengambang, menurut akademisi Australia Max Lane, kemudian telah memberikan watak khas kepada seluruh masyarakat Indonesia, tak terorganisasi dan tak berorganisasi.

Setiap gerakan yang muncul selalu dianggap subversif dan ujung-ujungnya dilabeli komunis. Akibatnya, tak banyak gerakan buruh yang mampu hidup pada waktu itu. Kecuali, gerakan yang benar-benar disokong oleh rezim Soeharto.

Max Lane, dalam buku Unfinished Nation, mengungkapkan bahwa gerakan-gerakan buruh kembali muncul pada dekade 1990-an atau ketika kekuatan rezim mulai memudar.

Pada tahun 1992, berdiri Serikat Buruh Sejahtera di Indonesia yang menjadi oposisi KSPI yang disokong Orde Baru. Setahun setelahnya atau tahun 1993 aksi buruh terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur. Salah satu tuntutannya adalah kenaikan upah. Namun, aksi protes ditanggapi oleh sikap agresif dari militer.

Puncaknya, Marsinah salah satu buruh menjadi martir karena 'dibunuh' usai aksi. Sampai saat ini, tak jelas siapa pelaku atau orang yang telah membunuh Marsinah. Negara tak penah berani mengungkap dan bahkan terkesan melupakan.

Sementara itu, pada tahun 1994, 20.000 buruh dari 24 pabrik di Deli Serdang, Sumatra Utara keluar kandang. Aksi pemogokan dan demonstrasi buruh berlangsung cukup massif. Namun lagi-lagi, gerakan ini segera direpresi oleh Orde Baru, salah satu tokoh buruh pada waktu itu, Muchtar Pakpahan, ditangkap dan dipenjara Orde Baru.

Tumbangnya Soeharto pada tahun 1998 menjadi momentum kebangkitan kaum buruh. Tanggal 1 Mei atau May Day kembali diperingati oleh para buruh. Hari buruh kemudian ditetapkan sebagai hari libur nasional pada tahun 2013 dan berlangsung hingga kini.

Selamat hari buruh folk! Buruh Harus Sejahtera!


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

may day hari buruh Revolusi Industri 4.0
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top