Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lawan Pendemo, Tentara Myanmar Pakai Senjata dan Taktik Tempur

Amnesty International mengatakan senjata yang digunakan termasuk senapan runduk dan senapan mesin ringan, serta senapan serbu dan senapan sub-mesin.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 11 Maret 2021  |  10:33 WIB
Seorang biksu Buddha memegang tanda berdiri di samping kendaraan lapis baja saat protes terhadap kudeta militer, di Yangon, Myanmar, Minggu (14/2/2021)./Antara - Reuters/Stringer
Seorang biksu Buddha memegang tanda berdiri di samping kendaraan lapis baja saat protes terhadap kudeta militer, di Yangon, Myanmar, Minggu (14/2/2021)./Antara - Reuters/Stringer

Bisnis.com, JAKARTA - Amnesty International menuding militer Myanmar menggunakan senjata untuk medan perang dan kekuatan mematikan dalam menangani pengunjuk rasa terhadap kudeta yang terjadi bulan lalu.

Kelompok pembela hak asasi itu mengatakan telah membuktikan kebenaran lebih dari 50 video penanganan unjuk rasa itu. Perserikatan Bangsa Bangsa atau PBB sebelumnya menyatakan bahwa pasukan keamanan telah menewaskan sedikitnya 60 pengunjuk rasa.

Amnesty International pun mengatakan banyak pembunuhan yang didokumentasikan sama dengan eksekusi di luar hukum. Namun, juru bicara junta belum merespons ketika dimintai komentar. Sementara itu, tentara mengatakan tanggapannya terhadap protes telah ditahan.

Junta mengambil alih kekuasaan pada 1 Februari, menahan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi dan memicu protes harian di seluruh Myanmar yang terkadang menarik ratusan ribu orang turun ke jalan.

Amnesty menuduh tentara menggunakan senjata yang cocok untuk medan perang untuk membunuh pengunjuk rasa. Amnesty mengatakan bahwa mereka berada di tangan unit-unit yang dituduh oleh kelompok hak asasi itu bertahun-tahun melakukan kekejaman terhadap kelompok etnis minoritas, termasuk Muslim Rohingya.

"Ini bukanlah tindakan kewalahan, petugas membuat keputusan buruk. Inilah para komandan yang tidak menyesal telah terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan, mengerahkan pasukan dan metode pembunuhan di tempat terbuka," kata Joanne Mariner, Direktur Tanggapan Krisis di Amnesty International.

Amnesty mengatakan senjata yang digunakan termasuk senapan runduk dan senapan mesin ringan, serta senapan serbu dan senapan sub-mesin.

Amnesty menyerukan penghentian pembunuhan dan pembebasan tahanan. Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik mengatakan hampir 2.000 orang telah ditahan sejak kudeta.

Dalam membenarkan pengambilalihannya, tentara Myanmar menyebut dugaan kecurangan dalam pemilihan November yang dimenangkan oleh partai Suu Kyi. Tuduhannya telah dibantah oleh komisi pemilihan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

myanmar kudeta militer Amnesty International

Sumber : Antara/Reuters

Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top