Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Data Efikasi Beragam, Ini Klarifikasi dari Sinovac

Hal itu sebagai tanggapan atas pembacaan data efikasi atau kemanjuran yang beragam dari penyuntikkan di Indonesia hingga Brasil.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 18 Januari 2021  |  14:58 WIB
Vaksin Sinovac yang dijemput Tim Gabungan yang terdiri dari petugas Dinas Kesehatan Kabupaten OKI dan dikawal oleh petugas Kepolisian dari Polres OKI, pada Jumat (15/1 - 2021). istimewa
Vaksin Sinovac yang dijemput Tim Gabungan yang terdiri dari petugas Dinas Kesehatan Kabupaten OKI dan dikawal oleh petugas Kepolisian dari Polres OKI, pada Jumat (15/1 - 2021). istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Sinovac Biotech Ltd. menyatakan CoronaVac, vaksin yang diproduksinya, lebih konsisten dalam mencegah infeksi Covid-19 jika jeda antara penyuntikkan dua dosis berlangsung dalam jangka waktu lebih lama.

Hal itu sebagai tanggapan atas pembacaan data efikasi atau kemanjuran yang beragam dari penyuntikkan di Indonesia hingga Brasil.

Komentar tersebut muncul setelah CoronaVac memberikan tingkat kemanjuran yang sangat berbeda di empat lokasi uji klinis, memicu kekhawatiran tentang apakah vaksin itu akan efektif dalam membendung wabah.

Uji coba di Indonesia dan Turki, misalnya, memberikan tingkat kemanjuran mulai dari 65 persen hingga lebih dari 90 persen. Namun, sebagian besar dianggap tidak meyakinkan karena jumlah peserta yang kecil dan kasus Covid yang lebih sedikit.

Di Brasil, hampir 1.400 dari 13.000 orang yang ambil bagian dalam uji klinis vaksin Sinovac dalam tiga minggu. Sebagian besar sukarelawan dalam uji coba yang berbasis di Brasil itu mendapat suntikan kedua selang dua minggu setelah yang pertama. Tingkat perlindungan untuk kelompok yang lebih kecil hampir 20 poin persentase lebih tinggi daripada tingkat 50,4 persen yang diamati.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo telah menerima vaksin itu pada pekan lalu, sedangkan Brasil, rumah bagi wabah virus corona terbesar ketiga di dunia, mengesahkannya untuk penggunaan darurat pada Jumat lalu.

Dalam tanggapannya, Sinovac juga menegaskan kembali bahwa peserta dalam uji coba Tahap III di Brasil adalah pekerja medis yang merawat pasien Covid sehingga menghadapi paparan lebih tinggi terhadap patogen. Sinovac merujuk prevalensi pekerja medis dalam uji coba di Brasil sebagai alasan mengapa tingkat kemanjuran sangat rendah.

"Kemampuan vaksin untuk melindungi pekerja medis dalam wabah aktif dapat meningkat secara signifikan jika suntikkan diberikan antara 21 atau 28 hari," kata perusahaan itu dalam pernyataannya kepada Bloomberg, dilansir Senin (18/1/2021).

Terlepas dari inkonsistensi dalam tingkat kemanjuran yang diumumkan secara publik, CoronaVac terus disetujui untuk digunakan. Brasil menjadi negara terbaru yang mengesahkan penggunaannya dalam keadaan darurat. Turki mengizinkan penggunaan Sinovac pada 13 Januari dan diberikan kepada Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Chili, Filipina, Thailand, Hong Kong dan Singapura juga memiliki kesepakatan untuk membeli dan mendistribusikan CoronaVac. Regulator di Filipina dan Hong Kong telah meminta data lebih lengkap sebelum menerima kiriman mereka.

Sementara itu, suntikkan yang dikembangkan oleh Pfizer Inc. dan Moderna Inc. menghasilkan tingkat kemanjuran yang jauh lebih tinggi, lebih dari 90 persen dalam uji coba tahap akhir yang mencakup lebih beragam orang.

Suntikan percobaan harus setidaknya 50 persen efektif dalam mencegah gejala Covid-19 agar disetujui untuk penggunaan umum, ambang batas yang secara luas dipegang oleh regulator obat utama di seluruh dunia dan Organisasi Kesehatan Dunia.

Yang Xiaoming, ketua pelopor vaksin Covid pada China National Biotec Group Co., mengatakan bahwa vaksinnya, yang sudah disetujui di China untuk penggunaan umum, dapat menghasilkan kekebalan yang lebih tahan lama dan tingkat antibodi yang lebih tinggi jika diberikan dalam waktu tiga atau empat minggu, dibandingkan dengan satu atau dua minggu.

Awal bulan ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat mundur setelah seorang pejabat kesehatan utama menyarankan pemotongan tingkat dosis bisa menjadi cara untuk mengimunisasi lebih banyak orang dengan lebih cepat. Badan tersebut mendesak agar vaksin diberikan sesuai dengan bagaimana FDA mengesahkannya.

Perubahan mungkin tidak menjamin tingkat perlindungan yang tinggi yang diamati dalam uji coba dan berisiko membahayakan kesehatan masyarakat.

Sementara itu, Sinovac mengirimkan data untuk ditinjau di negara asalnya, di mana regulator mendukung CoronaVac untuk penggunaan darurat pada Juli dan diharapkan segera mengatur kelayakannya untuk penggunaan umum yang lebih luas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sinovac Vaksin Covid-19
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top